
Lamunannya terbuyarkan ketika pandangannya terhenti pada sebuah kotak cokelat. Verline mendekati nakas milik
Sharon. Ia mengernyit heran. Diraihnya cokelat tersebut dengan hati-hati. Yang menarik untuknya bukanlah cokelat itu, melainkan secarik kertas yang menempel di atasnya.
Por amor .. {untuk cintaku) Eres mi todo .. {kau adalah segalanya bagiku)
Eres el amor de mi vida .. {kan adalah satu-satunya cinta dalam hidupku)
Estoy enamorado de ti .. {aku jatuh cinta kepadamu)
~SI~
Verline tertawa terbahak membaca secarik kertas yang berisi quotes berlebihan tersebut. Oh ya tuhan .. siapa yang membuat ini? Kata-katanya sungguh
berlebihan. Apa kekasih Sharon yang mengirimkan ini untuknya? Kekasih? Gadis buruk rupa itu memiliki kekasih? Atau jangan-jangan ..
Tawanya terhenti seketika ketika ia mendengar ketukan di pintu. Dengan cepat, Verline menyambar bathrobe yang tergantung dan segera memakainya.
“Verline .. apakah kau telah selesai? Sebentar lagi kelas akan di mulai!” teriak Sharon di luar sana.
Verline menganga tak percaya. Dilemparkannya cokelat tersebut ke bawah ranjang. Dan secarik kertas itu ia masukkan ke dalam sakunya. “lya sebentar!” ia segera membuka pintu.
Wajahnya masih memasang raut kesal di hadapan Sharon. Ia melemparkan seragam miliknya tepat ke arah gadis itu. “Sesuai perkataanku. Kau harus mencucinya.” Ujarnya dengan datar.
__ADS_1
Sharon mengangguk, “kelas akan dimulai sebentar lagi.”
"Apa kau tidak melihat penampilanku?" Verline mendengus. Sharon tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau bisa menggunakan seragamku dulu. Aku punya dua." Usul Sharon.
Ia melangkah ke dalam kamar asrama, diikuti oleh Verline dari belakang. Gadis itu segera meraih seragamnya dari dalam lemari.
"Kau bisa memakainya, selama seragam-mu ku cuci."
Verline merebut seragam tersebut dari tangan Sharon, "Terima kasih dan silahkan tunggu di luar!" Usirnya.
Sharon pun melenggang dari hadapannya. Sedangkan Verline, ia menatap seragam milik Sharon dengan kernyitan di dahinya. Ia mencondongkan wajahnya, di endusnya seragam tersebut.
Mau tak mau dengan berat hati Verline memakai seragam milik Sharon. Demi tuhaf/ Seragam ini terlalu sempit untuk menutupi otot bisepnya. Dengan susah payah Verline memakainya. Dadanya terasa sesak.
Setelah pada akhirnya 'usahanya' selesai menggunakan seragam tersebut. Ia segera menemui Sharon yang telah menunggunya.
"Sudah selesai?" Sapa Sharon.
Verline tak menjawab ucapan gadis itu dan memilih melangkah lebih awal. Sharon mengekorinya, dengan susah payah ia mencoba berjalan sejajar dengan Verline. Gadis itu memiliki langkah yang lebar' pikir Sharon.
Tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka berdua. Sharon tampak bungkam, begitupun dengan Verline. Mereka saling tak angkat bicara hingga sampai di kelas.
__ADS_1
Sharon duduk di kursi. Ia mulai tenggelam pada pelajaran yang di terangkan oleh Mr. Darry.
"Kau telat? Kenapa?" Bisik Christian pada Verline. Gadis itu mengalihkan pandangan dari Mr. Darry.
"Umm.. bajuku sedikit kotor." Ujar Verline mencoba menjawab ucapan Christian dengan nada manis yang dibuat - buat.
Demi apapun! Ia tak sudi bertatap muka dengan si- brengsek-Christian
"Oh.. iya. Apakah sepulang sekolah kau free?"
Verline mengernyitkan dahinya. Ia berpura-pura berpikir. Begitu mudahnya pria ini masuk dalam perangkapnya. Hanya dengan umpan biasa, pria itu langsung memakannya. Padahal jelas-jelas ia telah memiliki kekasih. Adiknya terlalu bodoh jatuh cinta pada pria yang tak pantas.
"Umm.." Verline melirik ke sekitamya dengan gerogi. Tentunya dengan gerogi yang dibuat-buat.
A yolah.. Aku masih normal.
Aku tak mungkin gerogi karena pria br*ngsek ini..
Batinnya mencibir.
tbc
__ADS_1