
"Ini makanlah." Deril menyodorkan burger ke arah Sharon dan gadis itu
menerimanya.
"Aku hanya bingung dengan apa yang harus ku lakukan.
Besok, besok liburan akhir pekan. Aku
ingin menemui ibuku di Tegucigalpa." Jelas gadis itu seraya menghela nafas.
"Kau bisa
pergi Sharon. Gunakanlah uangku."
"Sebelumnya Christian mengajakku berlibur bersamanya, bagaimana?"
"Apa?!" Sontak Deril tampak terkejut,
"Tidak!" Ujarnya cepat.
Sharon
menautkan kedua alisnya lalu kemudian mengangguk setuju, "Lagipula aku tak
ingin pergi."
S yukurlah..
Dalam hati Deril menghela nafas lega. Bersyukur karena Sharon tak ingin pergi. Itu lebih baik di bandingkan ia
harus bersikeras ber-argumen dengan Sharon.
"Kapan kau akan pergi ke Tegucigalpa?" Tanya Deril. "Besok pagi."
"Boleh aku ikut?"
"Hah?" Gadis itu menoleh, matanya tampak membelalak tak percaya.
"Hei kenapa? Apa aku boleh ikut?"
Deril.menyeringai.
"Te-tentu. Kau
boleh ikut."
"Aku sangat jenuh dengan pekerjaanku." Deril
__ADS_1
menegak minuman kalengnya dengan santai.
Sharon tak mengatakan apapun. Ia hanya menyimak seraya memakan burger miliknya.
"Sejak kecil aku tak pernah merasa bebas. Orangtuaku meninggal saat usiaku masih
muda, sekitar 15 Tahun." Pria itu menjeda ucapannya, "Perusahaan
besar ayahku hampir hancur jika aku tak bersikeras."
"Apa yang
terjadi?" Kali ini Sharon angkat bicara.
"Di usia mudaku, seharusnya aku menikmati masa remaja. Tapi itu sama sekali tak teijadi. Aku bekerja keras membangun perusahaan ayah agar tak runtuh." Mata hijau itu
tampak menerawang.
"Pasti sangat
sulit." Sharon berbisik pelan.
"Sangat, tapi aku
mendapat sesuatu yang setimpal." Kekeh Deril mengakhiri pembicaraan.
"Oh iya, bagaimana perkembanganmu dengan Christian?"
semakin aneh." Sharon mendengus. "Maksudmu?"
"Mereka tampak sering memperhatikanku, aku merasa risih. Dan Christian, dia jarang menggodaku. Tapi sikapnya cukup manis."
Deril tak menjawab, pria itu hanya terdiam menatap langit.
"Apa kau bahagia jika
bersamanya?" Tanyanya selang beberapa menit setelah hening.
Sharon menatap mata hijau bening itu, "Aku--" gadis itu tak melanjutkan ucapannya
sejenak, "Aku tak tau." Lanjutnya.
Deril menatap gadis itu tanpa mengatakan apapun. Sosok
berambut ombre itu tampak menunduk.
Wajah cantiknya terlihat indah ketika cahaya rembulan menyinarinya.
Pagi-pagi sekali mereka berkemas. Dimana seharusnya mereka tertidur, tapi mereka tampak telah siap.
__ADS_1
Deril memasukkan tas milik Sharon ke dalam bagasi. Lalu setelah itu, mereka segera masuk ke dalam mobil.
Seorang supir andalan Deril mulai menyalakan mesin. Mobil yang mereka tumpangi pun melaju menjauhi
pekarangan Asrama.
Sharon tampak menguap beberapa kali
ketika tengah dalam menuju perjalanan. Matanya
terasa berat. Ia memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak.
Deril yang melihat itu hanya menatap
wajah damai Sharon. Gadis itu
tanpa sadar menyenderkan kepalanya di bahu Deril. Sebuah
senyuman terukir di bibir pria itu.
Deril mengulurkan tangannya.
Ia menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Sharon. Mata hijau beningnya
menyusuri wajah damai gadis itu.
Benar-benar
Cantik' pikirnya. Gadis ini..
Gadis ini telah berhasil mengobrak-abrik perasaannya selama dua minggu ke belakang. Ia tak dapat benar-benar
fokus pada pekerjaannya. Yang ada di pikirannya hanyalah Sharon.
Bagaimana keadaan gadis itu, apa yang gadis itu lakukan?
Pikirannya hanya tertuju pada Sharon.
Dan, Sharon
Gabriella Dos Santos, apakah aku mulai menyukaimu?
Kota itu kecil, namun suasananya tampak hangat.
Tegucigalpa, saat ini mereka telah sampai disana.
Sharon tampak membantu Deril menurunkan tas
miliknya. Beberapa anak-anak mulai menggerubungi mereka.
__ADS_1
TBC