
"Ada apa dengan wajahmu?" Bisikku. "Apa kau mengkhawatirkanku?"
Aku mengernyit lalu mendesah pelan. ”Tentu saja, Ya tuhan.. " aku
kembali mencoba menyentuh wajahnya, namun ia kembali menepisku.
"Biar ku obati. Tunggu sebentar.. " aku segera
melenggang ke UKS. Mengambil kotak P3K disana.
"Duduklah!"
Ujarku tegas.
Christian menurut walaupun wajah pria itu tampak masam. Aku
mulai meneteskan antiseptik pada kassa. Perlahan ku tepuk kassa tersebut ke
area lukanya.
"Aku tak bisa marah kepadamu, Shar.. " bisik
Christian tiba-tiba.
Aku tersenyum masam. "Apa yang membuatmu marah?"
Christian meraih jemariku ke dalam genggamannya. Secercah
rasa hangat tiba-tiba menjalar di dalam diriku. Aku menatapnya sedikit merona.
Ia begitu lembut ketika menatapku.
Perlahan tapi pasti, ia mengecup jemariku. Bagaikan aku sesuatu yang mudah rapuh, ia begitu hati-hati. Ciumannya
mendarat selembut kapas.
Andai... andai dulu
pria ini memandangku.
Andai sejak dulu ia hadir.
Mungkin aku benar-benar bahagia saat ini.
"Apa
kau masih memiliki hubungan dengan Deril?" Aku
menggeleng lesu.
"Tidak.
Kenapa kau berfıkir seperti itu?"
"Aku fikir begitu, pria itu masih menyukaimu
sepertinya."
"Darimana kau
__ADS_1
tahu?"
"Dia mengancamku. Mungkin dia berfikir bahwa aku takut, tapi aku sama sekali tidak." Jelasnya santai.
Aku tertegun sejenak.
Segera ku bereskan seluruh peralatan P3K.
"Sharon..
" panggilnya. "Ya?" Cicitku.
"Aku, aku tak ingin merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya." Ujarnya sedih.
"Maksudku?"
"Aku tak ingin gagal lagi menjalin sebuah hubungan. Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah melepaskanmu. Aku akan
tetap menjagamu." Ia tersenyum.
Aku mendesah dalam hati. Maafkan aku, Christian..
bisik Dewi dalam
batinku.
"Apa kau pernah
mengecewakan seseorang?" Bisikku pelan.
Sengaja, aku ingin memancingnya. Aku sedikit penasaran
pria yang baik dan yah.. ramah.
"Ya, dan aku
belum sempat memberikan kebahagiaan
padanya."
"Lalu?"
Tiba-tiba ketika ia hendak kembali berujar, bel tanda masuk telah berbunyi. Mau tak mau, membuat kami harus segera melangkah kembali ke kelas.
Aku hampir saja berjingkat kaget ketika Paula tiba- tiba
berada di depan kamarku. Ia tampak mengulum senyum seraya memeluk sebuah kotak
berwarna hitam. Keningku berkerut heran.
"Ada paket
untukmu." Ujarnya.
Aku menerima kotak tersebut dengan ragu, "Dari siapa?"
Tanyaku pelan.
__ADS_1
"Entah, omong-omong besok malam ulang tahun Christian
ya?" Paula tersenyum miring.
"Ulang
tahun?" Cicitku.
"Ya, apa dia tak memberitahumu? Oh... sepertinya
mungkin besok."
Christian ulang
tahun? Gosh.. kenapa aku bisa lupa?
Aku menghela nafas lelah. Dulu-ketika aku masih menjadi secret admirer- pria itu, aku sering memberikan hadiah diam-diam melalui lokernya. Entah itu jam tangan, apapun yang
disukai Christian. Aku selalu berusaha untuk mengirimnya.
Dan sekarang, anehnya aku benar-benar lupa. Lebih tepatnya melupakannya.. aku
tersenyum masam tanpa sadar. Paula menepuk bahuku.
"Apa yang kau fikirkan? Kau bahagia bukan?"
Ucapnya.
"Te-tentu saja," gugupku, "Terima kasih telah memberitahuku, Paula." Aku memberikan
senyum tipisku padanya lalu memasukki kamarku.
Aku menyimpan kotak besar hitam itu di atas ranjang. Ku teliti kotak tersebut dengan
mata cokelatku. Tiba-tiba, secarik kertas menjadi objek pertamaku.
Gunakan gaun ini untuk besok malam. Dan
tunggu aku..
-D
Belum sempat otakku berfikir lebih jauh. Tiba-tiba pintu
kamarku terbuka. Dan disanalah sosok yang kurindukan itu mematung. Masih dengan
kemeja dan jas kerjanya, ia tampak begitu tampan.
"De-deril?"
Cicitku.
Ia melangkah
mendekat tanpa melakukan hal lain.
Hal
__ADS_1
lain.. batinku tersenyum pedih.
TBC