
Apakah gadis sepertiku mampu menghancurkan
Christian?
Aku menelan saliva-ku ketika Christian menatap ke arahku.
Ia tampak tersenyum tipis. Senyumannya manis, tapi bagaimana dengan senyuman
Deril?
Lagi-lagi aku tak dapat melupakan kata 'Deril'. Kenapa nama pria itu mengganggu pikiranku? Apa karena dia satu kamar denganku?
"Sharon? Kau baik-baik saja?" Sontak aku menoleh ke arah
Christian.
"Eh i-iya. Aku baik-baik saja!" Aku menyelipkan
anak rambut ke belakang telingaku, "Sampai mana kita tadi?"
"Sampai kau
melamun, Nadine.. “ Christian
terkekeh.
Lagi-lagi ia memanggilku dengan sebutan sayang. Aku merona
seketika. Pasti pipiku sudah semerah tomat. Oh
ayolah .. Sharon!
Aku berdeham, "Bagaimana jika kita memulainya dengan
ini?" Aku menunjukkan cara menghitung yang benar.
Bukannya menatap buku yang sedang ku tunjukkan, Christian
malah tampak fokus menatapku. Aku semakin
merona dibuatnya. Ya tuhan Sharon ingatlah! Kau tak boleh
membawa perasaanmu!
"Christian?!" Aku melambaikan tanganku tepat di
depan wajahnya. Ia meraih tanganku ke dalam genggamannya.
__ADS_1
Aku semakin
gelapan dan err .. gerogi?
Kenapa pria ini berprilaku aneh-maksudku-ah dia selalu
membuatku merona.
"Christ-maaf!" Aku menarik
tanganku lalu tersenyum kikuk.
Ia tampak santai dan kembali menunjukkan senyum tipisnya.
Lalu kami kembali fokus pada tugas hingga waktu habis.
Setelah pelajaran selesai, aku segera bangkit hendak
melangkah menuju kantin. Namun tiba-tiba Christian menghampiriku, membuat
langkahku terhenti seketika.
"Kau mau ke
kantin?" Tanyanya.
Aku mengangguk dan melangkah. Ia mengikuti langkahku.
berdua. Aku merasa tak enak, apalagi ketika mendapat
tatapan tajam dari Mandy.
Masalah besar sepertinya. Singa betina itu akan mengamuk
padaku.
"Christian sepertinya-kau
harus menjauh-err.. lihatlah Mandy dia..."
"Memangnya kenapa? Tak masalah 'kan aku jalan
bersamamu Nadinel" Christian tak
menghiraukan semuanya dan masih tetap bersikukuh untuk ke kantin bersamaku.
Aku mendudukan bokongku di kursi dan mulai menyantap
makananku dengan tenang. Christian masih bersamaku. Ia duduk berhadapan
__ADS_1
denganku. Ku alihkan pandanganku ke penjuru kantin.
Mereka tampak menatap kami. Beberapa siswa bahkan tampak
secara terang-terangan mendelik ke arahku. Aku menghela nafas.
Dari dulu, tepatnya sejak aku menginjakkan kakiku ke
sekolah ini. Mereka tak pernah menyukaiku. Kau tau, ini sekolah mahal, elite, semua yang menginjakkan
kakinya kesini adalah orang berada. Sangat berbeda dengaku, aku merasa
menjadi seorang Upik Abu.
Aku tak pantas berada disini, aku tau. Tapi keadaanlah yang
membuatku berani. Aku selalu mengingat keadaan agar mata hatiku terbuka, agar
aku selalu ingin maju, agar aku selalu memandang ke depan tanpa memandang
orang-orang itu. Karena aku ingin
membahagiakan orang tuaku..
Dan keadaan yang membuatku buta
sekarang. Teoriku sedikit salah tentang memandang keadaan.
Buktinya sekarang, karena keadaan aku harus membantu Deril.
Aku menggigit burger yang ku pesan dengan perlahan. Tanpa
sadar sausnya mengenai ujung bibirku. Dan tiba-tiba saja Christian mengulurkan
tanganku, ia mengusapnya dengan ibu jarinya.
Aku tertegun. Ku
lirik sekitarku berharap tak ada orang yang melihat, namun sialnya.
Mandy-gadis itu melihatnya-ia tampak menggeram ke arahku.
Aku meringis, dewi dan para peri dalam batinku tengah tampak bersiap membentengi diriku dengan segala kekuatannya. Aku harus bisa menghadapi singa betina itu.
***
SHARON'S POV
Aku meringis pelan merasakan kepalaku yang sedikit berkedut akibat jambakkan Mandy. Dia menarik rambutku seakan-akan ingin mencabutnya hingga ke akarnya. Oh sungguh ini gila.
__ADS_1