Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 31


__ADS_3

Apakah gadis sepertiku mampu menghancurkan


Christian?


 


Aku menelan saliva-ku ketika Christian menatap ke arahku.


Ia tampak tersenyum tipis. Senyumannya manis, tapi bagaimana dengan senyuman


Deril?


Lagi-lagi aku tak dapat melupakan kata 'Deril'. Kenapa nama pria itu mengganggu pikiranku? Apa karena dia satu kamar denganku?


"Sharon? Kau baik-baik saja?" Sontak aku menoleh ke arah


Christian.


"Eh i-iya. Aku baik-baik saja!" Aku menyelipkan


anak rambut ke belakang telingaku, "Sampai mana kita tadi?"


"Sampai kau


melamun, Nadine.. “ Christian


terkekeh.


Lagi-lagi ia memanggilku dengan sebutan sayang. Aku merona


seketika. Pasti pipiku sudah semerah tomat. Oh


ayolah .. Sharon!


Aku berdeham, "Bagaimana jika kita memulainya dengan


ini?" Aku menunjukkan cara menghitung yang benar.


Bukannya menatap buku yang sedang ku tunjukkan, Christian


malah tampak fokus menatapku. Aku semakin


 


merona dibuatnya. Ya tuhan Sharon ingatlah! Kau tak boleh


membawa perasaanmu!


"Christian?!" Aku melambaikan tanganku tepat di


depan wajahnya. Ia meraih tanganku ke dalam genggamannya.

__ADS_1


Aku semakin


gelapan dan err .. gerogi?


Kenapa pria ini berprilaku aneh-maksudku-ah dia selalu


membuatku merona.


"Christ-maaf!" Aku menarik


tanganku lalu tersenyum kikuk.


Ia tampak santai dan kembali menunjukkan senyum tipisnya.


Lalu kami kembali fokus pada tugas hingga waktu habis.


Setelah pelajaran selesai, aku segera bangkit hendak


melangkah menuju kantin. Namun tiba-tiba Christian menghampiriku, membuat


langkahku terhenti seketika.


"Kau mau ke


kantin?" Tanyanya.


Aku mengangguk dan melangkah. Ia mengikuti langkahku.


 


berdua. Aku merasa tak enak, apalagi ketika mendapat


tatapan tajam dari Mandy.


Masalah besar sepertinya. Singa betina itu akan mengamuk


padaku.


"Christian sepertinya-kau


harus menjauh-err.. lihatlah Mandy dia..."


"Memangnya kenapa? Tak masalah 'kan aku jalan


bersamamu Nadinel" Christian tak


menghiraukan semuanya dan masih tetap bersikukuh untuk ke kantin bersamaku.


Aku mendudukan bokongku di kursi dan mulai menyantap


makananku dengan tenang. Christian masih bersamaku. Ia duduk berhadapan

__ADS_1


denganku. Ku alihkan pandanganku ke penjuru kantin.


Mereka tampak menatap kami. Beberapa siswa bahkan tampak


secara terang-terangan mendelik ke arahku. Aku menghela nafas.


Dari dulu, tepatnya sejak aku menginjakkan kakiku ke


sekolah ini. Mereka tak pernah menyukaiku. Kau tau, ini sekolah mahal, elite, semua yang menginjakkan


 


kakinya kesini adalah orang berada. Sangat berbeda dengaku, aku merasa


menjadi seorang Upik Abu.


Aku tak pantas berada disini, aku tau. Tapi keadaanlah yang


membuatku berani. Aku selalu mengingat keadaan agar mata hatiku terbuka, agar


aku selalu ingin maju, agar aku selalu memandang ke depan tanpa memandang


orang-orang itu. Karena aku ingin


membahagiakan orang tuaku..


Dan keadaan yang membuatku buta


sekarang. Teoriku sedikit salah tentang memandang keadaan.


Buktinya sekarang, karena keadaan aku harus membantu Deril.


Aku menggigit burger yang ku pesan dengan perlahan. Tanpa


sadar sausnya mengenai ujung bibirku. Dan tiba-tiba saja Christian mengulurkan


tanganku, ia mengusapnya dengan ibu jarinya.


Aku tertegun. Ku


lirik sekitarku berharap tak ada orang yang melihat, namun sialnya.


Mandy-gadis itu melihatnya-ia tampak menggeram ke arahku.


Aku meringis, dewi dan para peri dalam batinku tengah tampak bersiap membentengi diriku dengan segala kekuatannya. Aku harus bisa menghadapi singa betina itu.


***


SHARON'S POV


Aku meringis pelan merasakan kepalaku yang sedikit berkedut akibat jambakkan Mandy. Dia menarik rambutku seakan-akan ingin mencabutnya hingga ke akarnya. Oh sungguh ini gila.

__ADS_1


__ADS_2