Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 16


__ADS_3

Verline melangkah memasukki ruangan dimana Sharon berada. Ia melangkah sedikit tergesa untuk melihat keadaan Sharon. Dan dilihatnya gadis itu tampak terbaring, kedua matanya ditutupi oleh perban.


"Bagaimana? Apakah berhasil?" Tanya Verline pada Dokter di sampingnya.


"Semuanya akan terlihat setelah dua bulan. Perubahan akan terlihat pada penglihatannya," dokter itu menjeda ucapannya, "Selama dua bulan, ia harus menetesi matanya dengan air mata buatan agar matanya tidak kering. Dan juga, ia harus tetap menggunakan kaca matanya." Jelasnya.


"Kaca mata? Tapi dia--"


"Kaca mata biasa, itu bukan kaca mata silinder nya yang dulu. Kaca mata itu hanya digunakan untuk melindungi matanya dari debu." Tambahnya lagi.


"Apa perban itu akan dibuka sekarang?"


"Tentu." Dokter itu melangkah mendekati Sharon, gadis itu bangkit setelah mendapat intruksi. Perlahan dibukanya perban yang menutupi kedua mata Sharon.


 


Sharon mengerjapkan matanya beberapa kali ketika perban itu telah terbuka. Ia merasakan perubahan pada indra penglihatannya. Semuanya terasa berbeda. Agak jelas.


"Bagaimana Nona Santos?"


"Penglihatanku agak berbeda." Sharon mengerjapkan matanya.

__ADS_1


"Tidak bisakah ia menggunakan lensa kotak untuk melindungi matanya dari debu?" Tanya Verline.


"Tentu bisa, namun jangan terlalu sering." "Bagaimana penglihatanmu?" Tanya Verline.


"Terasa lebih jelas. Biasanya aku akan kesulitan karena objek di depanku akan berbayang." Sharon tersenyum lebar. Verline tersenyum miring. Gadis itu terlihat berbeda tanpa kaca matanya. Rambut ombre nya. Verline akan berusaha membuat Sharon secantik mungkin agar Christian meliriknya.


 


"Bagus kalau begitu. Sekarang kita pulang. Sebelum itu aku akan membayar dan menebus apa yang harus di beli."


Sharon cukup senang dengan penglihatan barunya. lika dulu objek di depannya akan berbayang kini terasa sangat jelas. Hanya saja, ia merasa sedikit bosan harus menetesi matanya dengan air mata buatan jika matanya terasa kering.


Namun entah kenapa, sepertinya Christian tak pernah meliriknya. Apa ia kurang menarik di mata pria itu?


Sharon mendengus. Ia mendudukkan bokongnya di kursi. Di lahapnya sphagetti di hadapannya dengan perlahan. Ia melirik ke arah kanan dan ke kiri. Mencoba mencari sosok Verline. Kemana gadis itu?


Ia benar-benar sangat berhutang banyak pada Verline. Gadis itu begitu baik. Ia kira Verline sosok yang angkuh dan dingin, namun ternyata ia salah menilai. Verline bukanlah sosok yang seperti itu.


Ia sedikit berjingkat kaget ketika merasakan dinginnya air mengguyur rambut ombre nya. Sharon mendongak untuk menatap siapa itu. Dan ternyata itu adalah Mandy. Gadis itu dengan senyum sinisnya mengguyur rambut ombre nya dengan jus alpukat.


"¿que estas haciendo?" (Apa yang kau lakukan?) Sentak Sharon.

__ADS_1


Mandy mengangkat bahu, "Entah." Ejeknya.


Sharon meraih beberapa helai tissue berniat membersihkan rambutnya, namun Mandy merebutnya.


"Kau lebih pantas seperti itu!" Bentak Mandy,


"Percuma kau berdandan secantik mungkin! Wajahmu tak akan berubah!"


"Apa masalahmu!" Sharon membalasnya tak kalah ketus.


 


"Aku tak yakin kau memiliki uang sebanyak itu untuk operasi lasik! Apa kau menjual dirimu? Namun siapa yang mau denganmu?!" Gadis itu tertawa mengejek.


Sharon hanya menunduk. Ia tak dapat melawan ataupun menjawab.


"Ayo jawab!"


"Hentikan!" Ujar seseorang. Membuat Mandy sontak menjauh. Gadis itu melongo menatap Christian yang menggeram.


TBC

__ADS_1


__ADS_2