Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 32


__ADS_3

Semua penghuni asrama wanita tampak menonton kami. Saat inI


aku tengah bertengkar dengan Mandy di lorong asrama. Entah setan dari mana yang membuat singa itu menarikku hingga terjengkang.


Aku yakin dia marah karena Christian dekat denganku. Gadis


ini benar-benar membuatku meledak. Aku jadi teringat ucapan Deril, aku harus


melawan gadis ini.


Aku bangkit dengan nafas terengah. Telapak tanganku menepuk  bokongku yang  sedikit  kotor.  Ku   ulurkan tanganku ke arah rambutnya. Ku jambak rambut merah menyalanya sekuat mungkin. Ia benar-benar membuat emosiku membuncah.


"Lepaskan aku sialan!" Mandy meronta. Ia mencakar tanganku. Aku meringis dan menjauhkan tanganku. Tanganku berdarah akibat cakaran dari kuku singanya.


"Kau!" Aku menatapnya geram lalu membalas dengan menamparnya. Ia kembali menamparku.


Sudut bibirku terasa berdarah. Aku semakin meringis. Aku benar-benar ingin nenangis sekarang. Kepalaku benar-benar pusing di tambah lagi sudut bibirku yang berdarah.


Mandy tampak tersenyum puas. Ia mendorongku hingga aku kembali terjengkang. Oh ya tuhan.. aku benar- benar mati rasa. Seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit. Ia mendekat dan


menjambak rambutku. Aku meringis.


Sakit.. rasanya aku


ingin menangis.


Namun tiba-tiba ulahnya terhenti. Ku lihat Mrs.Tannisa mendekati kami.


 


Aku bangkit di bantu oleh Paula. Ia mengusap rambutku yang acak-acakkan. Mrs.Tannisa tampak menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Lalu selanjutnya ia melangkah lebih dahulu ke ruangannya, aku mengekorinya.


"Miss Santos, anda telah membuat keributan." Ujarnya datar


ketika kami telah berada di ruangannya, tepatnya aku dan Mandy.


Aku mendengus dalam hati, "Bukan aku, Mandy yang


memulai."


Mandy menatapku tajam, "Dia yang memulai dengan menamparku, Mrs.Tannisa!" Ucapnya mencoba menyalahkanku.


Aku tersenyum sinis, jelas-jelas dia yang memulai.

__ADS_1


"Bohong Mrs.Tannisa!"


Lalu terjadilah perdebatan antara aku dan Mandy. Kami


saling beradu mulut menyalahkan satu sama lain. Sungguh, kejadian tadi


benar-benar tak terduga. Aku merasa sangat liar dan berbeda. Aku tak pernah bertengkar sebelumnya.


 


"Cukup Miss Santos! Miss Gonzales! Sekarang aku minta


kalian keluar dari ruanganku! Dan ini, surat ini." Mrs Tannisa menyerahkan


dua lembar surat ke arah kami, aku meraihnya begitupun Mandy.


"Aku harap orang tua kalian dapat hadir."


Mrs.Tannisa menatapku dengan sinis, "Dan kau Sharon,


aku tak yakin bagaimana reaksi orang tuamu melihat ini. Aku rasa, aku akan


segera mencabut beasiswamu. Secepatnya." Ia menekankan kata 'secepatnya' seketika membuat nyaliku menciut.


mengucapkan kata permisi. Mandy tampak tersenyum sinis dan menghalangi jalanku.


"Aku akan menunggu, kepergianmu dari sekolah ini. SHARON! adios!" Ia melenggang dengan anggunnya.


Air mataku menetes. Bagaimana ini? Apakah aku harus


memberitahukan ini pada kedua orang tuaku?


Aku melangkah dengan lesu memasukki kamarku. Tubuhku seketika ambruk ke lantai. Aku menangis terisak. Aku tak ingin kehilangan beasiswaku, kumohon..


 


Dios..


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku mendongak dan melihat


Deril yang melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak lelah. Rambut cokelatnya


terlihat berantakan, dan ia mengenakan

__ADS_1


setelan kerjanya.


Sejenak aku tertegun, ta begitu tampan dan berbeda..


Aku segera mengalihkan pandanganku ketika ia mendekat ke arahku. Ku usap air mataku dengan kasar. Deril menyimpan empat kantong kertas di


atas ranjangku. Aku mengernyit.


"Kau baik-baik saja?" Raut wajahnya tampak


khawatir. Ia mengusap pipiku dengan pelan.


Aku menggeleng, "Aku baik-baik saja!"


"Aku tau kau berbohong. Apa yang terjadi? Apa


Christian menyakitimu?" Ia melepas dasinya dan melemparnya


ke sembarang tempat.


"Tidak! Hanya


saja... "aku memutus ucapanku.


"Hanya apa?" Ia tampak tak sabar. Lalu ia menatap ke arah sudut bibirku, memperhatikannya


dengan seksama, "Ada apa dengan bibirmu?"


 


"Aku bertengkar dengan Mandy." Lirihku.


Ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bagaimana bisa? Kau


melukai dirimu sendiri Sharon. Aku tak menyuruhmu untuk hal senekat itu."


Desahnya.


"Aku tau tap--" suaraku bergetar, "Mandy


yang memulai. Dan sekarang aku kehilangan beasiswaku!" Tangisku pecah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2