
Semua penghuni asrama wanita tampak menonton kami. Saat inI
aku tengah bertengkar dengan Mandy di lorong asrama. Entah setan dari mana yang membuat singa itu menarikku hingga terjengkang.
Aku yakin dia marah karena Christian dekat denganku. Gadis
ini benar-benar membuatku meledak. Aku jadi teringat ucapan Deril, aku harus
melawan gadis ini.
Aku bangkit dengan nafas terengah. Telapak tanganku menepuk bokongku yang sedikit kotor. Ku ulurkan tanganku ke arah rambutnya. Ku jambak rambut merah menyalanya sekuat mungkin. Ia benar-benar membuat emosiku membuncah.
"Lepaskan aku sialan!" Mandy meronta. Ia mencakar tanganku. Aku meringis dan menjauhkan tanganku. Tanganku berdarah akibat cakaran dari kuku singanya.
"Kau!" Aku menatapnya geram lalu membalas dengan menamparnya. Ia kembali menamparku.
Sudut bibirku terasa berdarah. Aku semakin meringis. Aku benar-benar ingin nenangis sekarang. Kepalaku benar-benar pusing di tambah lagi sudut bibirku yang berdarah.
Mandy tampak tersenyum puas. Ia mendorongku hingga aku kembali terjengkang. Oh ya tuhan.. aku benar- benar mati rasa. Seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit. Ia mendekat dan
menjambak rambutku. Aku meringis.
Sakit.. rasanya aku
ingin menangis.
Namun tiba-tiba ulahnya terhenti. Ku lihat Mrs.Tannisa mendekati kami.
Aku bangkit di bantu oleh Paula. Ia mengusap rambutku yang acak-acakkan. Mrs.Tannisa tampak menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Lalu selanjutnya ia melangkah lebih dahulu ke ruangannya, aku mengekorinya.
"Miss Santos, anda telah membuat keributan." Ujarnya datar
ketika kami telah berada di ruangannya, tepatnya aku dan Mandy.
Aku mendengus dalam hati, "Bukan aku, Mandy yang
memulai."
Mandy menatapku tajam, "Dia yang memulai dengan menamparku, Mrs.Tannisa!" Ucapnya mencoba menyalahkanku.
Aku tersenyum sinis, jelas-jelas dia yang memulai.
__ADS_1
"Bohong Mrs.Tannisa!"
Lalu terjadilah perdebatan antara aku dan Mandy. Kami
saling beradu mulut menyalahkan satu sama lain. Sungguh, kejadian tadi
benar-benar tak terduga. Aku merasa sangat liar dan berbeda. Aku tak pernah bertengkar sebelumnya.
"Cukup Miss Santos! Miss Gonzales! Sekarang aku minta
kalian keluar dari ruanganku! Dan ini, surat ini." Mrs Tannisa menyerahkan
dua lembar surat ke arah kami, aku meraihnya begitupun Mandy.
"Aku harap orang tua kalian dapat hadir."
Mrs.Tannisa menatapku dengan sinis, "Dan kau Sharon,
aku tak yakin bagaimana reaksi orang tuamu melihat ini. Aku rasa, aku akan
segera mencabut beasiswamu. Secepatnya." Ia menekankan kata 'secepatnya' seketika membuat nyaliku menciut.
mengucapkan kata permisi. Mandy tampak tersenyum sinis dan menghalangi jalanku.
"Aku akan menunggu, kepergianmu dari sekolah ini. SHARON! adios!" Ia melenggang dengan anggunnya.
Air mataku menetes. Bagaimana ini? Apakah aku harus
memberitahukan ini pada kedua orang tuaku?
Aku melangkah dengan lesu memasukki kamarku. Tubuhku seketika ambruk ke lantai. Aku menangis terisak. Aku tak ingin kehilangan beasiswaku, kumohon..
Dios..
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku mendongak dan melihat
Deril yang melangkah mendekat. Raut wajahnya tampak lelah. Rambut cokelatnya
terlihat berantakan, dan ia mengenakan
__ADS_1
setelan kerjanya.
Sejenak aku tertegun, ta begitu tampan dan berbeda..
Aku segera mengalihkan pandanganku ketika ia mendekat ke arahku. Ku usap air mataku dengan kasar. Deril menyimpan empat kantong kertas di
atas ranjangku. Aku mengernyit.
"Kau baik-baik saja?" Raut wajahnya tampak
khawatir. Ia mengusap pipiku dengan pelan.
Aku menggeleng, "Aku baik-baik saja!"
"Aku tau kau berbohong. Apa yang terjadi? Apa
Christian menyakitimu?" Ia melepas dasinya dan melemparnya
ke sembarang tempat.
"Tidak! Hanya
saja... "aku memutus ucapanku.
"Hanya apa?" Ia tampak tak sabar. Lalu ia menatap ke arah sudut bibirku, memperhatikannya
dengan seksama, "Ada apa dengan bibirmu?"
"Aku bertengkar dengan Mandy." Lirihku.
Ia tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, "Bagaimana bisa? Kau
melukai dirimu sendiri Sharon. Aku tak menyuruhmu untuk hal senekat itu."
Desahnya.
"Aku tau tap--" suaraku bergetar, "Mandy
yang memulai. Dan sekarang aku kehilangan beasiswaku!" Tangisku pecah.
TBC
__ADS_1