Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 37


__ADS_3

Aku hanya terdiam


menatap gelapnya langit malam.


"Dan, aku juga akan tinggal di apartmentku. Aku tak


akan tinggal lagi disini."


Mataku menatapnya,


"lalu bagaimana dengan aku?"


"Hm.. rupanya kau takut kehilanganku ya?" la tersenyum nakal,


aku mendengus namun tak dapat kupungkiri pipiku merona sekarang.


"Aku akan menyewa kamar ini hanya khusus untukmu. Aku tetap memantaumu, tapi tidak akan


sesering sekarang."


Entah


kenapa, ada sedikit perasaan lega menyelimuti


hatiku.


Dan aku tak


mengerti, apa artinya ini?


 


Deril mengemasi barang-barang' milik Verline, memasukannya


ke dalam koper besar. Ia harus segera pergi sekarang. Di liriknya arloji di


pergelangan tangannya, lalu ia menghela nafas panjang.


Tugas di kantornya begitu menumpuk. Kepalanya pusing


bukan main, pergi begitu saja meninggalkan banyak pekerjaan bukan membuatnya untung tapi semakin sulit.


Lalu ia menatap nakas milik Sharon.


Disana terdapat sebuah photo gadis itu. Sharon yang polos, bukan Sharon yang sekarang.


Deril melangkah mendekat, diraihnya figura itu ke tangannya.


Ia mengusap Photo Sharon dengan pelan. Entah kenapa tiba-tiba ia tertarik dan memasukan figura itu ke dalam tasnya.


Dengan berat hati, ia melangkah keluar dari Kamar Asrama


itu.

__ADS_1


 


"Sharon.. seseorang ingin bertemu denganmu."


Ucapan Mrs.Gazella membuat Sharon mendongakan kepalanya.


Gadis itu bangkit dan melangkah mendekati sosok di luar sana. Ia


mengernyitkan dahinya ketika sosok itu tampak memunggunginya.


"Deril-kau?" Sahutnya ketika Deril membalikkan tubuhnya.


"Hei .."


pria itu tersenyum tipis.


Sharon mendekat,


ia menyelipkan beberapa anakrambut yang menutupi wajahnya.


"Aku harus segera pergi," Deril meraih tangan Sharon ke dalam genggamannya. Pria itu kembali tersenyum.


Sharon hanya terdiam menatap tangannya yang tengah di genggam oleh Deril. Ia terlalu sibuk


dengan detakkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.


"Jaga dirimu


 


Sharon mengangguk


dengan gugup.


"A-apakah kau akan kembali?" Ujarnya. Pada


akhirnya ia bersyukur ia masih bisa mengeluarkan suara.


Deril tersenyum samar, "Hm.. aku akan menghubungimu,


namun saat ini aku sedang sibuk. Pekerjaanku menumpuk." la menjeda


ucapannya, "Dan ya.. beritahu aku jika Christian bersikap yang tidak


senonoh padamu."


"Sampai saat


ini dia tidak bertindak berlebihan."


Gugup Sharon.


"Baguslah." Pria itu mengacak rambut Sharon dengan gemas. Sharon

__ADS_1


merona menatap mata hijau bening itu dengan gugup.


"Ingat, kau tak boleh membawa perasaanmu. Aku tak ingin kau


terjerat lebih jauh dengannya." Jelas pria itu mengingatkan.


"Lalu


bagaimana dia mengencaniku?"


"Terima saja ajakannya. Dan ini.. " Deril merogoh


kartu debit dari dalam dompetnya. Sharon menerimanya dengan kening berkerut.


 


Setelah memberitahukan pin kartu tersebut akhirnya Sharon mengerti. Deril memberikan kartu itu agar ia dapat membeli kebutuhannya.


"Kau harus mengurus dirimu. Kau boleh pergi kemanapun.


Ke salon atau membeli pakaian yang kau suka. Uang itu lebih dari cukup bahkan untuk membeli 15 mobil sekaligus."


"Tapi, apa


ini tak berlebihan?" Sharon mencicit.


"Aku telah beijanji Sharon. Aku akan membiayaimu.


Kalau begitu aku pergi dulu." Deril mendekat, diciumnya kening gadis itu.


Ia menatap Sharon dengan mata hijau beningnya. "Aku akan mengabarimu." Ujarnya lalu pergi.


Sharon menatap kepergiannya dengan hati yang sedikit tak rela. Entahlah rasanya ia tak ingin Deril pergi. Gadis itu tersenyum kecut.


Punggung itu semakin menjauh. Mungkin ia akan menjalani hari-harinya yang


berbeda dari mulai saat ini.


Tapi, kenapa ia


sangat berat?


Toh .. Deril akan


kembali bukan mengunjunginya?


 


Gadis itu menghela nafas lalu kembali ke dalam kelas.


 


TBC

__ADS_1


__ADS_2