
Aku hanya terdiam
menatap gelapnya langit malam.
"Dan, aku juga akan tinggal di apartmentku. Aku tak
akan tinggal lagi disini."
Mataku menatapnya,
"lalu bagaimana dengan aku?"
"Hm.. rupanya kau takut kehilanganku ya?" la tersenyum nakal,
aku mendengus namun tak dapat kupungkiri pipiku merona sekarang.
"Aku akan menyewa kamar ini hanya khusus untukmu. Aku tetap memantaumu, tapi tidak akan
sesering sekarang."
Entah
kenapa, ada sedikit perasaan lega menyelimuti
hatiku.
Dan aku tak
mengerti, apa artinya ini?
Deril mengemasi barang-barang' milik Verline, memasukannya
ke dalam koper besar. Ia harus segera pergi sekarang. Di liriknya arloji di
pergelangan tangannya, lalu ia menghela nafas panjang.
Tugas di kantornya begitu menumpuk. Kepalanya pusing
bukan main, pergi begitu saja meninggalkan banyak pekerjaan bukan membuatnya untung tapi semakin sulit.
Lalu ia menatap nakas milik Sharon.
Disana terdapat sebuah photo gadis itu. Sharon yang polos, bukan Sharon yang sekarang.
Deril melangkah mendekat, diraihnya figura itu ke tangannya.
Ia mengusap Photo Sharon dengan pelan. Entah kenapa tiba-tiba ia tertarik dan memasukan figura itu ke dalam tasnya.
Dengan berat hati, ia melangkah keluar dari Kamar Asrama
itu.
__ADS_1
"Sharon.. seseorang ingin bertemu denganmu."
Ucapan Mrs.Gazella membuat Sharon mendongakan kepalanya.
Gadis itu bangkit dan melangkah mendekati sosok di luar sana. Ia
mengernyitkan dahinya ketika sosok itu tampak memunggunginya.
"Deril-kau?" Sahutnya ketika Deril membalikkan tubuhnya.
"Hei .."
pria itu tersenyum tipis.
Sharon mendekat,
ia menyelipkan beberapa anakrambut yang menutupi wajahnya.
"Aku harus segera pergi," Deril meraih tangan Sharon ke dalam genggamannya. Pria itu kembali tersenyum.
Sharon hanya terdiam menatap tangannya yang tengah di genggam oleh Deril. Ia terlalu sibuk
dengan detakkan jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.
"Jaga dirimu
Sharon mengangguk
dengan gugup.
"A-apakah kau akan kembali?" Ujarnya. Pada
akhirnya ia bersyukur ia masih bisa mengeluarkan suara.
Deril tersenyum samar, "Hm.. aku akan menghubungimu,
namun saat ini aku sedang sibuk. Pekerjaanku menumpuk." la menjeda
ucapannya, "Dan ya.. beritahu aku jika Christian bersikap yang tidak
senonoh padamu."
"Sampai saat
ini dia tidak bertindak berlebihan."
Gugup Sharon.
"Baguslah." Pria itu mengacak rambut Sharon dengan gemas. Sharon
__ADS_1
merona menatap mata hijau bening itu dengan gugup.
"Ingat, kau tak boleh membawa perasaanmu. Aku tak ingin kau
terjerat lebih jauh dengannya." Jelas pria itu mengingatkan.
"Lalu
bagaimana dia mengencaniku?"
"Terima saja ajakannya. Dan ini.. " Deril merogoh
kartu debit dari dalam dompetnya. Sharon menerimanya dengan kening berkerut.
Setelah memberitahukan pin kartu tersebut akhirnya Sharon mengerti. Deril memberikan kartu itu agar ia dapat membeli kebutuhannya.
"Kau harus mengurus dirimu. Kau boleh pergi kemanapun.
Ke salon atau membeli pakaian yang kau suka. Uang itu lebih dari cukup bahkan untuk membeli 15 mobil sekaligus."
"Tapi, apa
ini tak berlebihan?" Sharon mencicit.
"Aku telah beijanji Sharon. Aku akan membiayaimu.
Kalau begitu aku pergi dulu." Deril mendekat, diciumnya kening gadis itu.
Ia menatap Sharon dengan mata hijau beningnya. "Aku akan mengabarimu." Ujarnya lalu pergi.
Sharon menatap kepergiannya dengan hati yang sedikit tak rela. Entahlah rasanya ia tak ingin Deril pergi. Gadis itu tersenyum kecut.
Punggung itu semakin menjauh. Mungkin ia akan menjalani hari-harinya yang
berbeda dari mulai saat ini.
Tapi, kenapa ia
sangat berat?
Toh .. Deril akan
kembali bukan mengunjunginya?
Gadis itu menghela nafas lalu kembali ke dalam kelas.
TBC
__ADS_1