Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 45


__ADS_3

Dia hanyalah sebagai 'partner' rencanaku. Dia akan


memuluskan semuanya. Aku tak boleh jatuh hanya pada gadis lugu itu.


Tapi, pada


kenyataannya kan menyukainya Deril!' Batin dalam diriku menentang.


Tidak! Tentu saja tidak!’Aku mengelak.


Aku segera bangkit ketika mendengar ketukan di pintu. Ku buka pintu dengan cepat, seketika aku membeku melihat sosok Sharon. Aku menelan saliva-ku sedikit sulit.


"Err.  Ibuku,  ibuku bilang..  ayo kita makan malam."


Gugupnya.


Aku tak menjawab ucapannya. Dan ketika ia baru mendapatkan beberapa langkah jarak dariku. Bibirku terbuka..


"Lupakan ciuman tadi pagi, Sharon. Jangan anggap


sesuatu yang penting. Aku hanya mencoba mengajarimu."


Ujarku dingin.


 


Ia tampak menoleh dan tersenyum kecut. Raut wajahnya tampak


sulit untuk ku tebak. Yang jelas ia seperti... sedih?


"A-aku tau," lirihnya pelan, "Aku menunggu bersama Madre dan Padre." Ujarnya lalu menjauh.


Aku menatap punggungnya yang menjauh lalu menghela nafas


panjang.


Aku merasa sangat bersalah telah mengatakan hal itu. Kakiku


segera melangkah mengikutinya.


Aku menyantap makan malamku sesekali melirik ke arah Sharon. Gadis itu tampak


menyantap makan malamnya dengan keheningan. Ia sama sekali tak menatapku.


Bibirnya tak menyela ketika aku dan kedua orang tuanya berbincang-bincang.


"Ah


Deril, Lo siento..“ (Maafkan aku) ujar Maria membuka


percakapan.


Aku tersenyum tipis,

__ADS_1


"Tak masalah."


"Maaf karena kemarin aku hanya ramah di depan saja tanpa menyapamu lebih lanjut. Sharon


telah menjelaskannya padaku." Sesal Maria.


 


Aku mengangguk mengerti. Memang kemarin Maria cukup


ramah, tapi ada sesuatu yang aneh dari tatapannya. Ia tampak mengintimidasiku.


"Sebenarnya Ayah Sharon bekerja di cabang


perusahaanmu."


Aku hampir saja tersedak mendengar


ucapannya. Ku lirik Sharon yang hanya menunduk. Gadis itu meraih serbet


dan mengusap bibirnya.


"A--"


"Dia


bekerja sebagai security." Jelas


Maria singkat. Aku menegak air putih di hadapanku.


menaikkan jabatannya---"


"Oh jangan Deril! Aku tak ingin merepotkanmu!"


Serunya seraya menggeleng.


"Baiklah." Aku menghela nafas pasrah.


"Oh iya, kau tampak muda sekali. Cua“ntos años tienes?" (Berapa usiamu)


Aku tersenyum tipis.


Usiaku? Apakah ia akan percaya?


 


"Tengo 24 años." (Usiaku 23 tahun)


"Oh Dear! Kau terlalu muda." Serunya terlihat


jelas berdecak kagum, “Dónde vives?”(dimana kamu tinggal?) la


bertanya lagi.

__ADS_1


"Yo vivo en Madrid, en el apartemento." (Aku tinggal di Madrid, di sebuah apartemen)


Maria mengangguk mengerti. "Sejak kapan kalian berhubungan?"


"Eh?"


Aku melirik ke arah Sharon.


Ia tampak bangkit, "Madre, aku mengantuk." Ujarnya pelan. "Buenas Noches." (Selamat malam) Ia melangkah.


"Iya, sepertinya aku juga sudah selesai." Ujarku


tergesa. "Buenas Noches." (Selamat


malam)


Aku segera mensejajarkan langkah dengan Sharon, namun gadis


itu lebih cepat. Ia hampir saja membuka pintu kamamya jika aku tak mencegahnya.


"Sharon!"


Seruku.


Ía menoleh,


"Ya?" Bisiknya lesu.


Aku melangkah mendekat ke arahnya.


 


"Ada apa?" Tanyaku pelan.


"Aku baik-baik saja." Ia mencoba menyunggingkan


senyuman.


"Apa karena ciuman tadi pagi?" Tanyaku tak sabar.


"Aku hanya merindukan adikku,


Nathaniel." Lirihnya. Seketika sebulir kristal bening itu terjatuh membasahi pipi mulusnya,


"Selamat malam, Deril." Ucapnya sebelum pada akhirnya pintu kamarnya


tertutup rapat.


Aku mengusap wajahku dengan kasar.


Ciuman


pertamanya..

__ADS_1


Satu minggu setelah liburan akhir pekan, Sharon kembali menjalani aktivitasnya di sekolah seperti biasa. Walaupun fıkirannya sedikit kalut karena kejadian di bukit itu. Ia mulai heran, semakin penasaran dengan apa yang ia rasakan.


TBC


__ADS_2