
Dia hanyalah sebagai 'partner' rencanaku. Dia akan
memuluskan semuanya. Aku tak boleh jatuh hanya pada gadis lugu itu.
Tapi, pada
kenyataannya kan menyukainya Deril!' Batin dalam diriku menentang.
Tidak! Tentu saja tidak!’Aku mengelak.
Aku segera bangkit ketika mendengar ketukan di pintu. Ku buka pintu dengan cepat, seketika aku membeku melihat sosok Sharon. Aku menelan saliva-ku sedikit sulit.
"Err. Ibuku, ibuku bilang.. ayo kita makan malam."
Gugupnya.
Aku tak menjawab ucapannya. Dan ketika ia baru mendapatkan beberapa langkah jarak dariku. Bibirku terbuka..
"Lupakan ciuman tadi pagi, Sharon. Jangan anggap
sesuatu yang penting. Aku hanya mencoba mengajarimu."
Ujarku dingin.
Ia tampak menoleh dan tersenyum kecut. Raut wajahnya tampak
sulit untuk ku tebak. Yang jelas ia seperti... sedih?
"A-aku tau," lirihnya pelan, "Aku menunggu bersama Madre dan Padre." Ujarnya lalu menjauh.
Aku menatap punggungnya yang menjauh lalu menghela nafas
panjang.
Aku merasa sangat bersalah telah mengatakan hal itu. Kakiku
segera melangkah mengikutinya.
Aku menyantap makan malamku sesekali melirik ke arah Sharon. Gadis itu tampak
menyantap makan malamnya dengan keheningan. Ia sama sekali tak menatapku.
Bibirnya tak menyela ketika aku dan kedua orang tuanya berbincang-bincang.
"Ah
Deril, Lo siento..“ (Maafkan aku) ujar Maria membuka
percakapan.
Aku tersenyum tipis,
__ADS_1
"Tak masalah."
"Maaf karena kemarin aku hanya ramah di depan saja tanpa menyapamu lebih lanjut. Sharon
telah menjelaskannya padaku." Sesal Maria.
Aku mengangguk mengerti. Memang kemarin Maria cukup
ramah, tapi ada sesuatu yang aneh dari tatapannya. Ia tampak mengintimidasiku.
"Sebenarnya Ayah Sharon bekerja di cabang
perusahaanmu."
Aku hampir saja tersedak mendengar
ucapannya. Ku lirik Sharon yang hanya menunduk. Gadis itu meraih serbet
dan mengusap bibirnya.
"A--"
"Dia
bekerja sebagai security." Jelas
Maria singkat. Aku menegak air putih di hadapanku.
menaikkan jabatannya---"
"Oh jangan Deril! Aku tak ingin merepotkanmu!"
Serunya seraya menggeleng.
"Baiklah." Aku menghela nafas pasrah.
"Oh iya, kau tampak muda sekali. Cua“ntos años tienes?" (Berapa usiamu)
Aku tersenyum tipis.
Usiaku? Apakah ia akan percaya?
"Tengo 24 años." (Usiaku 23 tahun)
"Oh Dear! Kau terlalu muda." Serunya terlihat
jelas berdecak kagum, “Dónde vives?”(dimana kamu tinggal?) la
bertanya lagi.
__ADS_1
"Yo vivo en Madrid, en el apartemento." (Aku tinggal di Madrid, di sebuah apartemen)
Maria mengangguk mengerti. "Sejak kapan kalian berhubungan?"
"Eh?"
Aku melirik ke arah Sharon.
Ia tampak bangkit, "Madre, aku mengantuk." Ujarnya pelan. "Buenas Noches." (Selamat malam) Ia melangkah.
"Iya, sepertinya aku juga sudah selesai." Ujarku
tergesa. "Buenas Noches." (Selamat
malam)
Aku segera mensejajarkan langkah dengan Sharon, namun gadis
itu lebih cepat. Ia hampir saja membuka pintu kamamya jika aku tak mencegahnya.
"Sharon!"
Seruku.
Ía menoleh,
"Ya?" Bisiknya lesu.
Aku melangkah mendekat ke arahnya.
"Ada apa?" Tanyaku pelan.
"Aku baik-baik saja." Ia mencoba menyunggingkan
senyuman.
"Apa karena ciuman tadi pagi?" Tanyaku tak sabar.
"Aku hanya merindukan adikku,
Nathaniel." Lirihnya. Seketika sebulir kristal bening itu terjatuh membasahi pipi mulusnya,
"Selamat malam, Deril." Ucapnya sebelum pada akhirnya pintu kamarnya
tertutup rapat.
Aku mengusap wajahku dengan kasar.
Ciuman
pertamanya..
__ADS_1
Satu minggu setelah liburan akhir pekan, Sharon kembali menjalani aktivitasnya di sekolah seperti biasa. Walaupun fıkirannya sedikit kalut karena kejadian di bukit itu. Ia mulai heran, semakin penasaran dengan apa yang ia rasakan.
TBC