Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 43


__ADS_3

Sharon menghela nafas, gadis itu


menenggelamkan wajahnya di bantal dan terisak pelan.


Maafkan


aku, aku terpaksa berbohong.


Keesokan harinya, Sharon


terbangun pagi-pagi sekali. Gadis itu segera melangkah menuju dapur. Ia menolehkan


kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok ibunya. Namun sepertinya ibunya telah pergi ke ladang. Gadis itu menghela nafas.


Sharon mencepol asal rambutnya


dan mulai berkutat dengan alat-alat masak. Tiba-tiba


ketika ia tengah mengocok telur, ia hampir saja terlonjak kaget.


Deril, sosok itu tampak terlihat segar sekali. Pria itu


menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu meneliti


gadis di hadapannya.


Sharon menelan saliva-nya. Melihat sosok


tampan di hadapannya, tiba-tiba membuatnya merasa sangat gugup. Aroma


maskulin itu menguar, memasukki indra penciumannya. Sharon mati rasa sekarang.


 


Apa penampilan


Deril? Err. Apa...


Sharon mengusap peluh di dahinya dengan pelan. Gadis itu


kembali memalingkan wajahnya ke arah mangkuk yang ia pegang.


"Sharon?"


Panggil Deril tak sabar.


Sharon tergagap,

__ADS_1


"Eh? I-iya?!" Sontak ia menyimpan


mangkuknya di atas meja. "Kau sedang apa?"


"Aku? Aku sedang membuat ommelette." Terang gadis itu. Tangannya dengan lincah mulai


mengiris bawang.


"Dan..?"


"Dan, bacon untuk sarapan kita pagi ini. Jika kau tak


keberatan. Aku tak yakin kau mau memakan--"


Dengan cepat Deril memotong ucapan gadis itu, "Aku


yakin, Sharon. Kau tau aku juga manusia, aku dan Renata juga pernah membuat ommelette. Kau tak perlu khawatir."


Desah Deril. Pria itu menghadap ke arah Sharon yang tampak gugup.


 


Terlihat jelas bahwa gadis itu salah tingkah. Deril


menautkan kedua alisnya heran.


Lagi, Sharon terlihat sangat gugup. Gadis itu mengangguk.


"Kau terlihat sangat gugup, aku tidak akan memakanmu." Deril terkekeh.


Sharon menyimpan ommelette buatannya ke atas piring. Satu untuknya dan satu untuk Deril. Gadis itu juga menyajikan nasi goreng buatannya.


"Nah.. mari kita makan." Ajak gadis itu. Perlahan


menyuapkan ommelette ke dalam


mulutnya.


Deril masih setia memperhatikannya. Merasa di perhatikan Sharon menoleh ke arahnya. Gadis itu tampak merona.


Kini Deril menyeringai, "Kenapa lagi?" Kekehnya.


"Kau tampak sangat gugup Shar.


Ayolah.."


"Err.. aku tidak pernah di perhatikan oleh seorang pria saat melakukan apapun." Gadis itu berkata dengan sangat pelan.


 

__ADS_1


"Tidak pernah? Bagaimana dengan berkencan? Maksudku-berpacaran?" Tanya Deril seraya mengunyah makanannya perlahan.


"Tidak." Sharon merona.


Seketika Deril tersedak, ia segera meraih segelas air dan menegaknya dengan cepat. Sharon tampak khawatir.


"Kau baik-baik saja?!" Tanyanya.


Deril   mengangguk     seraya  masih   terbatuk-batuk.


Selanjutnya pria itu tersenyum tipis.


Sharon menyendok supnya, namun gadis itu tak memakannya.


Hanya menyimpannya di udara.


Hingga Deril mendekat dan menguap sup tersebut ke dalam mulutnya. Sharon hanya melongo.


Gadis itu semakin merasakan pipinya yang memanas. Ia menatap Deril dengan


pandangan tak percaya.


"Aku sudah kenyang," ujar pria itu bangkit


setelah menegak air putih, "Aku tunggu di luar ya! Ajak aku ke suatu


tempat." Tambahnya lalu melenggang begitu saja. Meninggalkan Sharon yang


masih melongo.


 


Sharon menatap sendok di hadapannya. Gadis itu mengulum


senyum.


Sharon memejamkan matanya ketika merasakan semilir angin


yang menerpa kulitnya. Gadis itu mengeratkan jaket di tubuhnya.


Saat ini, Ia dan Deril tengah berada di atas bukit. Mereka sedang melihat indahnya pemandangan kota kecil Tegucigalpa di pagi hari.


"Apa kau sering kesini?" Deril membaringkan


tubuhnya di atas tikar. Mengikuti jejak Sharon.


"Terkadang


dengan adikku." Bisiknya sedih.

__ADS_1


__ADS_2