
Sharon menghela nafas, gadis itu
menenggelamkan wajahnya di bantal dan terisak pelan.
Maafkan
aku, aku terpaksa berbohong.
Keesokan harinya, Sharon
terbangun pagi-pagi sekali. Gadis itu segera melangkah menuju dapur. Ia menolehkan
kepalanya ke kiri dan ke kanan, mencari sosok ibunya. Namun sepertinya ibunya telah pergi ke ladang. Gadis itu menghela nafas.
Sharon mencepol asal rambutnya
dan mulai berkutat dengan alat-alat masak. Tiba-tiba
ketika ia tengah mengocok telur, ia hampir saja terlonjak kaget.
Deril, sosok itu tampak terlihat segar sekali. Pria itu
menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya pria itu meneliti
gadis di hadapannya.
Sharon menelan saliva-nya. Melihat sosok
tampan di hadapannya, tiba-tiba membuatnya merasa sangat gugup. Aroma
maskulin itu menguar, memasukki indra penciumannya. Sharon mati rasa sekarang.
Apa penampilan
Deril? Err. Apa...
Sharon mengusap peluh di dahinya dengan pelan. Gadis itu
kembali memalingkan wajahnya ke arah mangkuk yang ia pegang.
"Sharon?"
Panggil Deril tak sabar.
Sharon tergagap,
__ADS_1
"Eh? I-iya?!" Sontak ia menyimpan
mangkuknya di atas meja. "Kau sedang apa?"
"Aku? Aku sedang membuat ommelette." Terang gadis itu. Tangannya dengan lincah mulai
mengiris bawang.
"Dan..?"
"Dan, bacon untuk sarapan kita pagi ini. Jika kau tak
keberatan. Aku tak yakin kau mau memakan--"
Dengan cepat Deril memotong ucapan gadis itu, "Aku
yakin, Sharon. Kau tau aku juga manusia, aku dan Renata juga pernah membuat ommelette. Kau tak perlu khawatir."
Desah Deril. Pria itu menghadap ke arah Sharon yang tampak gugup.
Terlihat jelas bahwa gadis itu salah tingkah. Deril
menautkan kedua alisnya heran.
Lagi, Sharon terlihat sangat gugup. Gadis itu mengangguk.
"Kau terlihat sangat gugup, aku tidak akan memakanmu." Deril terkekeh.
Sharon menyimpan ommelette buatannya ke atas piring. Satu untuknya dan satu untuk Deril. Gadis itu juga menyajikan nasi goreng buatannya.
"Nah.. mari kita makan." Ajak gadis itu. Perlahan
menyuapkan ommelette ke dalam
mulutnya.
Deril masih setia memperhatikannya. Merasa di perhatikan Sharon menoleh ke arahnya. Gadis itu tampak merona.
Kini Deril menyeringai, "Kenapa lagi?" Kekehnya.
"Kau tampak sangat gugup Shar.
Ayolah.."
"Err.. aku tidak pernah di perhatikan oleh seorang pria saat melakukan apapun." Gadis itu berkata dengan sangat pelan.
__ADS_1
"Tidak pernah? Bagaimana dengan berkencan? Maksudku-berpacaran?" Tanya Deril seraya mengunyah makanannya perlahan.
"Tidak." Sharon merona.
Seketika Deril tersedak, ia segera meraih segelas air dan menegaknya dengan cepat. Sharon tampak khawatir.
"Kau baik-baik saja?!" Tanyanya.
Deril mengangguk seraya masih terbatuk-batuk.
Selanjutnya pria itu tersenyum tipis.
Sharon menyendok supnya, namun gadis itu tak memakannya.
Hanya menyimpannya di udara.
Hingga Deril mendekat dan menguap sup tersebut ke dalam mulutnya. Sharon hanya melongo.
Gadis itu semakin merasakan pipinya yang memanas. Ia menatap Deril dengan
pandangan tak percaya.
"Aku sudah kenyang," ujar pria itu bangkit
setelah menegak air putih, "Aku tunggu di luar ya! Ajak aku ke suatu
tempat." Tambahnya lalu melenggang begitu saja. Meninggalkan Sharon yang
masih melongo.
Sharon menatap sendok di hadapannya. Gadis itu mengulum
senyum.
Sharon memejamkan matanya ketika merasakan semilir angin
yang menerpa kulitnya. Gadis itu mengeratkan jaket di tubuhnya.
Saat ini, Ia dan Deril tengah berada di atas bukit. Mereka sedang melihat indahnya pemandangan kota kecil Tegucigalpa di pagi hari.
"Apa kau sering kesini?" Deril membaringkan
tubuhnya di atas tikar. Mengikuti jejak Sharon.
"Terkadang
dengan adikku." Bisiknya sedih.
__ADS_1