
Pria itu tampak melonggarkan dasinya. Ia memejamkan matanya sejenak lalu menatap Sharon yang tampak sembab.
Mata indah gadis itu tampak sedikit membengkak, hidung yang memerah, sepertinya habis menangis. Deril bangkit menghampirinya.
"Apa dia menyakitimu?" Tanya Deril khawatir.
"Tidak!" Sharon menunduk menatap kedua
tangannya, "Dia sama sekali tak menyakitiku." Gadis itu menghela
nafas serak, serak karena memang habis menangis.
"Lalu? Kenapa kau menangis? Aku tak akan segan- segan memukulnya jika ia
melakukan itu." Rahang Deril tampak mengeras.
Sharon mendongak lalu menggeleng dengan pelan. Sebulir kristal bening mulai membasahi pipinya. Air
mata itu kembali mengalir.
"Bu-bukan, dia sama sekali tak menyakitiku."
Bisiknya terisak pelan.
Deril mengusap wajahnya, "Lalu? Katakan padaku Sharon..
"
"Aku, aku yang menyakiti diriku sendiri. Maafkan aku Deril." Gumamnya semakin terisak, "Maafkan aku.." lirihnya.
"Apa maksudmu?" Deril mengerutkan keningnya. Pria itu duduk di samping Sharon, ia membalikkan tubuh gadis itu, membiarkan Sharon menghadapnya. "Ada apa?" Bisik Deril.pelan.
"Aku tak
bisa." Lirih Sharon.
"Tolong Sharon,
jangan membuatku bingung.
Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku tak bisa. Aku tak bisa menerima Christian."
Isaknya.
"Kenapa?" Deril mendesah, "Bukankah kau
mencintainya?"
__ADS_1
"Kau benar," Sharon menatap mata hijau bening itu
dengan nanar, lalu menunduk. "Kau benar Deril, aku hanya kagum
padanya."
"Sharon jangan
katakan... kau mau mengakhirinya?"
"Aku minta
maaf. Bukan Christian yang aku mau.
Hatiku menolak."
"Sharon, kau tak bisa--" "Maaf." Potongnya cepat.
"Kau tak bisa bertindak semaumu, kau boleh menyukai
Orang lain selain Christian. Tapi tidak dengan menghentikan semuanya! Kita
telah sejauh ini." Desah pria itu.
Sharon semakin terisak. "Aku tau aku salah, tapi...
"Kau bisa menjadikan pria itu sebagai umpanmu? Pria yang kau
cintai itu. Kau bisa memacari Christian, lalu selanjutnya jadikan pria itu sebagai selingkuhanmu." Ujar
Deril dengan satu tarikan nafas.
Sharon menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ia semakin tak kuasa menahan isakannya. Apakah Deril tak tahu apa yang ia maksud?
"Maaf,
tapi aku mencintaimu. Bukan orang lain..."
lirih gadis itu tertunduk.
"A-apa?!" Deril menganga tak percaya. Pria itu
menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap Sharon
dengan
pandangan tak percaya, benar-benar tak percaya dengan apa yang gadis itu
ucapkan. "Sharon kau--"
__ADS_1
Sharon mendongak, "Aku tak pernah berfikir sejauh ini,
tapi inilah jalan fikiranku yang ada. Aku jatuh cinta padamu, Deril.. "
Deril tertawa sumbang. Tawa yang benar-benar tak sampai ke
matanya, tawa yang seakan-akan dibuat-buat untuk menutupi sesuatu. Tak ada
humor dalam tawa itu.
"Sharon kau
bercanda, hahah.. kau bercanda kan?"
"Tidak!" Gadis itu menatap Deril lekat-lekat.
"Aku sama sekali tak bercanda." Lirihnya.
Deril menghentikan tawanya. Pria itu terdiam menatap Sharon
dengan intens. Sejujurnya, ia pun memilikki perasaan yang sama. Ia menyukai
gadis itu, bahkan lebih dari kata suka.
Ketika pertama kali melihat Sharon ; mata polosnya, senyum gadis itu, kebersamaan mereka, dan ciuman itu. Deril menyalahkan ego-nya untuk memilikki Sharon demi dendamnya.
la pun berfikir lain, la berfikir bahwa Sharon memang benar-benar menyukai Christian.
Apalagi ketika melihat senyum gadis itu
dan ronaannya ketika bersama Christian. Mulai saat itu ia yakin untuk mengubur perasaannya.
Dan sekarang.. ternyata...
Deril meraih dagu gadis itu dengan
hati-hati. Menatap Sharon penuh kelembutan. la mengusap
pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Kenapa mencintaiku Sharon?" Desah pria itu.
Sharon tak menjawab. Gadis itu hanya terdiam menatap Deril.
"Apa
karena ciuman itu? Aku sudah mengatakannya
bukan."
TBC
__ADS_1