
"Kau tidak tau apa yang terjadi!" Bentak Deril tak
terima.
Sharon bangkit menatap Deril dengan menantang, "Aku tau
semuanya! Kau terlalu dikabuti dendam-Mu sendiri!"
"Kenapa? Kenapa kau membelanya Sharon?" Bisik
Deril pedih, "Kenapa kau membelanya mati-matian?" Tambah pria itu
dengan pilu.
Sharon tertegun, ta hanya ingin kesalahpahaman ini selesai.
"Apa kau mencintainya?"
Sharon semakin membeku mendengar pertanyaan Deril. Ia
menelan ludahnya dengan susah payah. Di tatapnya Deril dengan gugup. Pria itu
bangkit menghampirinya.
"Jawab aku, Sharon!"
Sharon mendongak, ia menarik nafas dalam. "Ya! Aku mencintainya!" Bentaknya kembali
ber-api-api. "Aku mencintainya, aku memang benar-benar mencintainya." Ulangnya.
Deril tersenyum masam, "Lalu apa arti penuturan
cinta-Mu waktu itu?" Bisiknya sedih.
Sharon tertawa sedih, "Kau tau? Aku hanya ingin
menyingkirkanmu agar kau tak melakukan apapun pada Christian."
Deril menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya. Tatapn kecewa, marah, tentu ia tunjukkan melalui pandangan matanya. Pria itu benar-benar terluka.
Jadi.. selama ini?
"Kau fikir aku serius? Kau gila jika menganggapku
serius!" Sharon berujar dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
Bodoh! Aku mencintaimu! Bukan Christian! Bukan!
Aku mencintaimu Deril Hemandez!
__ADS_1
"Aku salah ternyata." Deril
menjauh.
"Ya, kau salah. Aku hanya ingin mendapatkan keuntungan
darimu. Bukankah kau tau bahwa kita hanyalah partner dendam?" Ujar Sharon dengan datar.
"Kau benar.. " lirih pria itu.
"Menjauhlah dari kehidupan kami mulai saat ini."
Sharon menatap pria itu dengan dingin.
"Sesuai keinginanmu." Pria itu melangkah menjauh.
Seketika Sharon terisak. la terisak sejadi-jadinya.
Jangan
pergi, tinggalah bersamaku.
"Deril aku sud--"
"Ini untukmu." Deril memotong ucapan Paula sebelum gadis itu berujar, pria itu menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru.
"Aku akan melunasi hutang Ayahmu, terima kasih untuk
bantuanmu." Ujar pria itu datar.
"Tapi, aku sudah menemukan siapa pelakunya. Kau tak
ingin menjelas--"
"Aku akan kembali ke Amerika." Pria itu menjauh
tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Perasaannya terlalu hancur akibat penuturan Sharon. Pria itu memang tak berarti apa-apa rupanya. Seharusnya ia tau
itu, sekarang ia termakan omongannya sendiri. Partner dendam..
Deril fikir setelah ini ia akan mendapatkan Sharon. Membuat
gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu.
Ia ingin gadis itu bersamanya, tinggal bersamanya. Bukan dengan Christian.
__ADS_1
Namun ia salah, gadis itu hanya mempermainkannya. Gadis itu hanya ingin menyingkirkannya. Dan ia terlalu
percaya diri beranggapan bahwa Sharon begitu
mencintainya. Ia terlalu percaya diri..
Paula hanya mematung menatap punggung itu menjauh. Sebuah kotak itu masih dalam genggamannya. Gadis
itu segera berlari menghampiri Sharon.
"Sharon .." bisiknya ketika dilihatnya Sharon tengah tertunduk seraya terisak.
Sharon mendongak menatap Paula dengan nanar. Ia mendekat kemudian memeluk Paula dengan erat. Tangisnya semakin pecah.
"Apa kau mencintainya,
Sharon?"
"Dia tak mencintaiku, Paula.. dia tak
mencintaiku." Racaunya seraya terus terisak.
"Ssh.. Sharon dia mencintaimu."
"Jika dia mencintaiku, dia tak akan mementingkan
dendamnya. Dia pasti akan mengejarku, dia tak akan membunuh Christian.. dia tak
akan--"
"Kau salah Sharon.. dia mencintaimu." Paula
menggeleng tegas. Gadis itu menyerahkan kotak di tangannya.
Sharon menatap Paula dengan kening
berkerut, "Apa ini?" Bisiknya parau.
"Bukalah.. "
Sharon membukanya. Sebuah
cincin... tepatnya sepasang cincin.
Gadis
itu meraihnya, di tatapnya cincin tersebut dengan nanar.
__ADS_1
TBC