Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 65


__ADS_3

"Kau tidak tau apa yang terjadi!" Bentak Deril tak


terima.


Sharon bangkit menatap Deril dengan menantang, "Aku tau


semuanya! Kau terlalu dikabuti dendam-Mu sendiri!"


"Kenapa? Kenapa kau membelanya Sharon?" Bisik


Deril pedih, "Kenapa kau membelanya mati-matian?" Tambah pria itu


dengan pilu.


Sharon tertegun, ta hanya ingin kesalahpahaman ini selesai.


"Apa kau mencintainya?"


Sharon semakin membeku mendengar pertanyaan Deril. Ia


menelan ludahnya dengan susah payah. Di tatapnya Deril dengan gugup. Pria itu


bangkit menghampirinya.


"Jawab aku, Sharon!"


 


Sharon mendongak, ia menarik nafas dalam. "Ya! Aku mencintainya!" Bentaknya kembali


ber-api-api. "Aku mencintainya, aku memang benar-benar mencintainya." Ulangnya.


Deril tersenyum masam, "Lalu apa arti penuturan


cinta-Mu waktu itu?" Bisiknya sedih.


Sharon tertawa sedih, "Kau tau? Aku hanya ingin


menyingkirkanmu agar kau tak melakukan apapun pada Christian."


Deril menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya. Tatapn kecewa, marah, tentu ia tunjukkan melalui pandangan matanya. Pria itu benar-benar terluka.


Jadi.. selama ini?


"Kau fikir aku serius? Kau gila jika menganggapku


serius!" Sharon berujar dengan bibir yang bergetar menahan tangis.


Bodoh! Aku mencintaimu! Bukan Christian! Bukan!


Aku mencintaimu Deril Hemandez!

__ADS_1


"Aku salah ternyata." Deril


menjauh.


 


"Ya, kau salah. Aku hanya ingin mendapatkan keuntungan


darimu. Bukankah kau tau bahwa kita hanyalah partner dendam?" Ujar Sharon dengan datar.


"Kau benar.. " lirih pria itu.


"Menjauhlah dari kehidupan kami mulai saat ini."


Sharon menatap pria itu dengan dingin.


"Sesuai keinginanmu." Pria itu melangkah menjauh.


Seketika Sharon terisak. la terisak sejadi-jadinya.


Jangan


pergi, tinggalah bersamaku.


"Deril aku sud--"


"Ini untukmu." Deril memotong ucapan Paula sebelum gadis itu berujar, pria itu menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna biru.


"Aku akan melunasi hutang Ayahmu, terima kasih untuk


bantuanmu." Ujar pria itu datar.


 


"Tapi, aku sudah menemukan siapa pelakunya. Kau tak


ingin menjelas--"


"Aku akan kembali ke Amerika." Pria itu menjauh


tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.


Perasaannya terlalu hancur akibat penuturan Sharon. Pria itu memang tak berarti apa-apa rupanya. Seharusnya ia tau


itu, sekarang ia termakan omongannya sendiri. Partner dendam..


Deril fikir setelah ini ia akan mendapatkan Sharon. Membuat


gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Mengatakan bahwa ia mencintai gadis itu.


Ia ingin gadis itu bersamanya, tinggal bersamanya. Bukan dengan Christian.

__ADS_1


Namun ia salah, gadis itu hanya mempermainkannya. Gadis itu hanya ingin menyingkirkannya. Dan ia terlalu


percaya diri beranggapan bahwa Sharon begitu


mencintainya. Ia terlalu percaya diri..


Paula hanya mematung menatap punggung itu menjauh. Sebuah kotak itu masih dalam genggamannya. Gadis


itu segera berlari menghampiri Sharon.


 


"Sharon .." bisiknya ketika dilihatnya Sharon tengah tertunduk seraya terisak.


Sharon mendongak menatap Paula dengan nanar. Ia mendekat kemudian memeluk Paula dengan erat. Tangisnya semakin pecah.


"Apa kau mencintainya,


Sharon?"


"Dia tak mencintaiku, Paula.. dia tak


mencintaiku." Racaunya seraya terus terisak.


"Ssh.. Sharon dia mencintaimu."


"Jika dia mencintaiku, dia tak akan mementingkan


dendamnya. Dia pasti akan mengejarku, dia tak akan membunuh Christian.. dia tak


akan--"


"Kau salah Sharon.. dia mencintaimu." Paula


menggeleng tegas. Gadis itu menyerahkan kotak di tangannya.


Sharon menatap Paula dengan kening


berkerut, "Apa ini?" Bisiknya parau.


"Bukalah.. "


Sharon membukanya. Sebuah


cincin... tepatnya sepasang cincin.


 


Gadis


itu meraihnya, di tatapnya cincin tersebut dengan nanar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2