
Ah... ternyata detektif yang ia sewa.
"Halo?" Christian tampak kesal.
"Tuan saya telah mendapatkan
perkembangannya." "Jadi siapa Deril Hernandez? Bagaimana dengan
keluarganya?" Tanya Christian beruntun.
"Dia adalah anak pertama dari pasangan Alejandro
Hernandez dan Patricia Hernandez. Kedua orang tuanya telah meninggal sejak lama. Dan belum lama ini, adiknya pun meninggal dunia." Jelasnya.
Christian terdiam, "Adiknya?" "Ya, Renata Hernandez."
Seketika Christian membeku. Adiknya ? Renata Hernandez? Jadi ...
Deril
adalah kakak dari Renata? Oh.. pasti ta mengenal dirinya. Dan bagaimana dengan
hubungan Deril dan Sharon?
Christian mengacak rambutnya. Ia merasa pening sekarang. Kenyataan bahwa Renata adalah adik dari Deril Hernandez membuatnya benar-benar terkejut.
Lalu siapa
Verline Iglesias? Siapa
gadis itu?
"Lalu bagaimana dengan Verline Iglesias?" Desahnya.
"Untuk Verline Iglesias, tak ada tanda-tanda gadis itu disana.
Keluarga Hernandez sama sekali tak memilikki keluarga lain bermarga Iglesias."
"Baiklah, kabari aku lagi jika ada berita lain."
Ia segera menutup telfon dan membanting ponselnya ke atas jok mobil.
Christian menyandarkan kepalanya. Ia yakin, Deril Hernandez
pasti memilikki dendam padanya. Mengingat kesalahpahaman yang terjadi antara
dia dan Renata. Pria itu memejamkan matanya sejenak.
Di samping itu, seorang pria tampak tersenyum sinis. Mengamati sosok Christian dengan pandangan mata
cokelatnya. Lalu ia meraih ponselnya.
"Malam ini adalah ulang tahunnya. Mereka merayakan
acara yang mewah." Ucap pria itu.
__ADS_1
Pria di sebrang sana tampak menjawab
dengan sinis, "Lakukan penyerangan malam ini. Pastikan tak ada yang curiga."
"Baik." Pria itu menutup telfonnya.
Di tatapnya penuh kebencian mobil Christian yang menjauhi
jalanan.
Kena kau Derevano!
Christian menghela nafas lega ketika ia sampai di sekolah
tepat waktu. Di liriknya arlojinya, masih ada waktu beberapa menit baginya
untuk menemui Sharon. Pria itu segera berlari menuju Perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan, ia segera melangkah masuk seraya melirik ke kanan dan ke kiri. Dan akhirnya, ia
menemukan gadis itu.
Gadis itu tampak tengah menatap buku di hadapannya.
Christian mendekat dengan perlahan.
Cup
Satu kecupan mendarat manis di pipi Sharon, membuat gadis
Christian.
"Chris?"
Bisiknya.
Christian menarik kursi dan duduk di samping gadis itu. la mengulum senyum melihat
buku yang dibaca Sharon."Kimia lagi,
Eh?" Kekehnya.
"Ya, aku suka Kimia." Sharon merona.
"Ini untukmu." Christian menyerahkan setangkai
mawar yang ia beli.
Sharon semakin merona dibuatnya. la tersenyum malu-malu.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Christian tampak tersenyum tulus.
Sharon mendekatkan indra penciumannya ke arah bunga
__ADS_1
tersebut. Ia tersenyum seraya memejamkan matanya.
"Harum
sekali." Bisiknya kagum. "Aku baru saja
membelinya."
Kening Sharon berkerut, "Baru saja?"
"Ya, nadine.. aku
baru saja membelinya tadi." (Sayang)
Sharon menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menyimpan setangkai bunga itu di atas buku kimianya. Di lirihnya arloji yang melingkar di
pergelangan tangannya. Masih ada
waktu beberapa menit.
"Aku ingin kau datang ke pesta ulang tahunku malam ini." Christian meraih jemari
Sharon dan menggenggamnya.
Sharon mengulum senyum, "Jam berapa aku harus datang?"
"7 malam." Pria itu mengusap
rambut Sharon dengan lembut, "Dandanlah yang cantik untukku."
Sharon tersenyum masam. "Aku tak pantas bersanding
denganmu."
"Jangan berbicara seperti itu."
Christian menggeleng tak senang.
"Aku takut
mengecewakanmu, Chris.." lirih Sharon. "Kau tak
akan melakukannya."
Tapi,
aku memang akan melakukannya.
Dan
harus.
"Ya, aku tak akan melakukannya." Sharon tersenyum
terpaksa.
TBC
__ADS_1