
"Tapi, bagaimana jika Christian-maksudku-cerita itu tak nyata. Mungkin ada hal lain--"
"Tak ada rekayasa, Sharon " ia mendesis,
"Semuanya nyata."
Aku menghela nafas. Ia terlalu di kabuti oleh pembalasan
dendam adiknya. Aku tak tau bagaimana Renata disana. Apakah gadis itu rela atau tidak jika Deril membalaskan dendam pada pria yang ia cintai.
"Bagaimana?"
Aku tergagap, lamunan singkatku terbuyarkan. Aku menoleh ke arah Deril. Ia tampak memegang sebuah jam berwarna nude di tangannya.
"Bagaimana
apa?" Bisikku.
"Bagaimana jam ini menurutmu?" Ia menyerahkan jam
itu ke tanganku.
Aku menatap jam di tanganku. Meneliti hiasan yang pas di jam tersebut. Warna nude yang kontras dengan berlian di
setiap pinggiran jam itu. Indah..
"Bagus."
Bisikku tanpa sadar.
Tiba-tiba ia meraih jam itu, menarik pergelangan tanganku kemudian memasangkannya. Aku menganga tak percaya. Apa yang ta lakukan?
"Deril--"
Ia tersenyum begitu manis ketika memasangkan jam itu di pergelangan tanganku. Aku menatapnya yang tengah sibuk memasangkannya. Pipiku terasa memanas.
"Sangat
cocok." Ucapnya. Ia tampak tersenyum puas.
Dengan gugup aku membalas senyumannya. Pelayan wanita di hadapan kami tampak tersenyum menggoda ke
arahku. Aku hanya menunduk, pipiku telah merona sejak tadi.
"Aku ambil jam ini." Deril menyerahkan kartu
debitnya.
__ADS_1
Aku menatap arloji yang melekat di pergelangan tanganku dengan senyum yang terkulum. Saat ini kami tengah berada di sebuah jalanan. Entah Deril mengajakku kesini untuk melihat suasana
kota. Lampu-lampu yang bercahaya, sungguh indah kota Madrid di malam hari.
Kami duduk di sebuah kursi
seraya menikmati jagung
bakar.
"Kau menyukainya?"
Aku melirik ke arah Deril dengan merona. Dengan gugup aku
mengangguk. Deril menyimpan jagung bakarnya lalu menatapku.
Ia mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahku. Tatapan matanya begitu lembut.
Sikapnya yang berubah-ubah.. "Apakah Christian menyakitimu?" "Tidak."
Ucapku mantap.
"Bagus kalau begitu. Tampaknya kau bahagia
Sungguh, ingin rasanya aku berteriak bahwa aku tak bahagia.
Aku benar-benar membenci hari-hariku dengan Christian. Aku tak pernah merasakan
apapun lagi, semuanya telah berubah Deril.
"Aku akan membiarkanmu bersamanya jika kau memang
bahagia."
Aku menatap ke arahnya dengan air mata yang tiba-
tiba membendung. Ucapannya apa maksud
dari ucapannya?
"A-apa
maksudmu?" Lirihku.
"Aku akan menghentikan semuanya,
__ADS_1
jika memang kau benar-benar
mencintainya." Bisiknya
seketika membuatku tertegun.
Deril apa kan melepasku?
"Tapi, nanti jika dendamku telah selesai." Ia bangkit
lalu menepuk bokongnya. Ia mengulurkan tangannya ke arahku,
aku menerimanya.
"Ayo kita pulang, sudah malam."
Aku mengekorinya dari belakang dengan air mata yang telah membanjiri pipiku. Ku usap air mata itu dengan
kasar.
Christian meraih setangkai bunga mawar dan menciumnya. Pria
itu tersenyum lebar. Sharon pasti menyukainya. la segera membayar dan melangkah
mendekati mobil Ferrari miliknya.
Di liriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
la menghela nafas resah, semoga ia tak terlambat kembali ke sekolah.
Tadi, ia sengaja bolos. Tidak bolos, hanya izin pergi membeli bunga. Ah.. betapa
konyolnya sikapnya ketika tengah jatuh cinta. la bahkan rela
membuang dollar miliknya untuk membungkam mulut security di depan sekolah.
Christian bersiul riang. Nanti malam adalah ulang tahunnya.
la berharap Sharon datang. Tentu saja
pasti datang' Batinnya
tersenyum bahagia.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
Christian mendesah. Ia segera merogoh ponselnya. Di lihatnya nama yang tertera di layar ponselnya.
TBC
__ADS_1