Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 49


__ADS_3

Sharon hanya tersenyum miring. Ia menatap ke arah cincinnya. Swarovski yang indah, pasti sangat mahal.. dewi


dalam batinnya berseru.


"Ya.. "


gumamnya.


 


"Siapa yang memberikan cincin itu padamu?" Tanya Christian penasaran.


"Err--" Sharon terdiam, "Ah! Ini dari


temanku, dia baru saja pulang dari Italy dan memberikan ini padaku. Memang


bagus bukan?" Ujarnya antusias.


Teman dari italy?


Teman


darimana?


Ia


sama sekali tak memilikki teman selain Paula.


Good,


Sharon. Kau berbohong.


"Ya, kau cocok memakainya."


Sharon mengulum senyum. Ia kembali fokus pada buku di


hadapannya, namun dehaman Christian membuatnya kembali menoleh.


"Apa kau telah memikirkannya


baik-baik?" Ujar pria


itu ragu.


Gadis itu tampak merona. Jelas terlihat oleh pandangan Christian bahwa Sharon salah tingkah. Sharon sama sekali


tak mengucapkan apapun dan hanya mengangguk malu.


 


"Dan apa jawabanmu, nadiné?" Tanya Christian dengan


nada tak sabaran.

__ADS_1


"Err... Christian--" gadis itu menggantung ucapannya.


Sharon menghela nafas sejenak. Ia meneliti raut wajah


Christian. Pria itu tampak begitu tak sabar dan penuh pengharapan? Benarkah?


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengatakan 'ya' atau menolak?


"Aku---" ia kembali berujar dengan susah payah,


"Aku rasa, aku akan menjawab sepulang sekolah nanti." Sharon meraih buku Kimia ke dalam pelukannya.


Christian menatapnya dengan kening berkerut,


"Kenapa?" Pria itu menarik pergelangan Sharon dengan lembut.


Sharon menepisnya dengan pelan, Ia mengalihkan pandangannya.


"Aku butuh waktu sebentar, Christian. Tentang ajakan kencanmu.. aku butuh


waktu." Lirihnya pelan.


 


"Baiklah, aku


sangat menunggu jawaban ’ya'." Bisik


Christian dengan lesu. Lalu pria itu melepaskan Sharon, membiarkan gadis itu menjauh.


perpustakaan tanpa menoleh kembali ke belakang. Mungkin hanya beberapa jam sebelum


bel pulang berbunyi, itu adalah waktu baginya untuk berfikir.


***


SHARON'S POV


 


Aku hanya dapat menatap cincin yang tersemat manis di jariku.


Pandanganku sama sekali tak fokus dengan papan tulis yang penuh


dengan coretan Ms.Anne. Aku terlaku fokus dengan fıkiranku sendiri.


Tiba-tiba aku tertarik untuk menoleh ke arah sampingku,


tepatnya ke arah Christian. Pria itu tampak tengah


memperhatikanku. Ia tersenyum begitu manisnya.


 

__ADS_1


Jika dulu aku merasa sangat berbunga, bahagia, bahkan rasanya lemas ketika melihat senyumannya. Kini, aku sama sekali tak merasakan apapun. Yang aku rasakan hanyalah biasa saja.


Aku menyelipkan anak


rambut ke belakang telingaku.


Deril benar..


Hidup manusia memang penuh drama rupanya. Kami bermain sebagai pemeran


utama untuk melancarkan drama kami.


Ya, penuh drama. Maksudku disini, bagaimana aku


berpura-pura tersenyum pada Christian, ber-akting garang pada Mandy, dan ber-akting pada mereka seakan-akan aku adalah orang lain.


Sejujurnya, ada hal yang janggal ketika aku berdekatan


dengan Deril. Aku merasakan hal yang aneh. Apa yang aku rasakan pada Christian


dahulu, kini terasa beralih pada Deril.


Apa maksud dari


semua itu?


Aku sama sekali tak mengerti. Sampai saat


ini, rasa aneh itu bagaikan sesuatu yang sulit untuk ku pecahkan.


 


Sebelumnya, aku tak pernah merasakan


hal-hal aneh itu pada pria manapun. Sekalipun pada Christian.


Ya, memang. Memang aku menyukai Christian, aku tergila-gila padanya. Tapi, yah.. ini berbeda. Ada hal yang lebih besar daripada kepada


Christian. Hal ini lebih janggal kepada Deril.


Aku kembali mengalihkan pandanganku pada


Cincin yang


melingkar manis di jariku.


Cincin yang begitu indah..


Orang bodoh sekalipun pasti tahu bahwa cincin ini sangat mahal. Swarovski yang terhias di cincin ini begitu


pas. Cincin ini-pun begitu pas tersemat


di jariku.

__ADS_1


TBC


__ADS_2