
Sharon hanya tersenyum miring. Ia menatap ke arah cincinnya. Swarovski yang indah, pasti sangat mahal.. dewi
dalam batinnya berseru.
"Ya.. "
gumamnya.
"Siapa yang memberikan cincin itu padamu?" Tanya Christian penasaran.
"Err--" Sharon terdiam, "Ah! Ini dari
temanku, dia baru saja pulang dari Italy dan memberikan ini padaku. Memang
bagus bukan?" Ujarnya antusias.
Teman dari italy?
Teman
darimana?
Ia
sama sekali tak memilikki teman selain Paula.
Good,
Sharon. Kau berbohong.
"Ya, kau cocok memakainya."
Sharon mengulum senyum. Ia kembali fokus pada buku di
hadapannya, namun dehaman Christian membuatnya kembali menoleh.
"Apa kau telah memikirkannya
baik-baik?" Ujar pria
itu ragu.
Gadis itu tampak merona. Jelas terlihat oleh pandangan Christian bahwa Sharon salah tingkah. Sharon sama sekali
tak mengucapkan apapun dan hanya mengangguk malu.
"Dan apa jawabanmu, nadiné?" Tanya Christian dengan
nada tak sabaran.
__ADS_1
"Err... Christian--" gadis itu menggantung ucapannya.
Sharon menghela nafas sejenak. Ia meneliti raut wajah
Christian. Pria itu tampak begitu tak sabar dan penuh pengharapan? Benarkah?
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Mengatakan 'ya' atau menolak?
"Aku---" ia kembali berujar dengan susah payah,
"Aku rasa, aku akan menjawab sepulang sekolah nanti." Sharon meraih buku Kimia ke dalam pelukannya.
Christian menatapnya dengan kening berkerut,
"Kenapa?" Pria itu menarik pergelangan Sharon dengan lembut.
Sharon menepisnya dengan pelan, Ia mengalihkan pandangannya.
"Aku butuh waktu sebentar, Christian. Tentang ajakan kencanmu.. aku butuh
waktu." Lirihnya pelan.
"Baiklah, aku
sangat menunggu jawaban ’ya'." Bisik
Christian dengan lesu. Lalu pria itu melepaskan Sharon, membiarkan gadis itu menjauh.
perpustakaan tanpa menoleh kembali ke belakang. Mungkin hanya beberapa jam sebelum
bel pulang berbunyi, itu adalah waktu baginya untuk berfikir.
***
SHARON'S POV
Aku hanya dapat menatap cincin yang tersemat manis di jariku.
Pandanganku sama sekali tak fokus dengan papan tulis yang penuh
dengan coretan Ms.Anne. Aku terlaku fokus dengan fıkiranku sendiri.
Tiba-tiba aku tertarik untuk menoleh ke arah sampingku,
tepatnya ke arah Christian. Pria itu tampak tengah
memperhatikanku. Ia tersenyum begitu manisnya.
__ADS_1
Jika dulu aku merasa sangat berbunga, bahagia, bahkan rasanya lemas ketika melihat senyumannya. Kini, aku sama sekali tak merasakan apapun. Yang aku rasakan hanyalah biasa saja.
Aku menyelipkan anak
rambut ke belakang telingaku.
Deril benar..
Hidup manusia memang penuh drama rupanya. Kami bermain sebagai pemeran
utama untuk melancarkan drama kami.
Ya, penuh drama. Maksudku disini, bagaimana aku
berpura-pura tersenyum pada Christian, ber-akting garang pada Mandy, dan ber-akting pada mereka seakan-akan aku adalah orang lain.
Sejujurnya, ada hal yang janggal ketika aku berdekatan
dengan Deril. Aku merasakan hal yang aneh. Apa yang aku rasakan pada Christian
dahulu, kini terasa beralih pada Deril.
Apa maksud dari
semua itu?
Aku sama sekali tak mengerti. Sampai saat
ini, rasa aneh itu bagaikan sesuatu yang sulit untuk ku pecahkan.
Sebelumnya, aku tak pernah merasakan
hal-hal aneh itu pada pria manapun. Sekalipun pada Christian.
Ya, memang. Memang aku menyukai Christian, aku tergila-gila padanya. Tapi, yah.. ini berbeda. Ada hal yang lebih besar daripada kepada
Christian. Hal ini lebih janggal kepada Deril.
Aku kembali mengalihkan pandanganku pada
Cincin yang
melingkar manis di jariku.
Cincin yang begitu indah..
Orang bodoh sekalipun pasti tahu bahwa cincin ini sangat mahal. Swarovski yang terhias di cincin ini begitu
pas. Cincin ini-pun begitu pas tersemat
di jariku.
__ADS_1
TBC