Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 26


__ADS_3

Deril mendesah. Ia mulai menerawang, "Sejak Christian


berselingkuh darinya."


 


"Berselingkuh? Bagaimana mung--"


"Sepertinya percuma aku menceritakan semuanya, kau tak akan


percaya." Deril mendengus.


Merasa penasaran, Sharon menggeleng. "Ceritakanlah,


aku tak akan menyela." Pintanya.


"Renata adalah satu-satunya keluarga yang ku punya


selain pamanku. Renata yang selalu menyemangatiku sejak kedua orang tuaku


meninggal karena kecelakaan pesawat," Deril mulai membuka ceritanya.


Sharon tak membuka suara menunggu Deril melanjutkan


ceritanya.


"Renata berpacaran dengan Christian sudah cukup lama.


Adikku terlalu jatuh cinta pada Christian. Apapun, demi Christian. Dia selalu


mengutamakan Christian. Sampai-sampai ia


melupakan hari ulang tahunnya sendiri." Jelas Deril seraya


menerawang. "Dan malam itu.. " ia menjeda ucapannya.


”Tepat anniversary mereka yang ke satu. Hari ulang


tahun adikku." Deril tersenyum kecut.


"Apa yang


terjadi?" Tanya Sharon tak sabar.


 


"Christian ternyata berselingkuh darinya. Ia


berselingkuh dengan Mandy. Aku tidak terlalu tahu kejadian kronologisnya, Jenni


yang menjelaskannya padaku."


"Bagaimana


jika Jenni berbohong?"


"Dia sama sekali tak pernah berbohong. Dia sahabat Renata sejak kecil." Deril


berdalih. Mana mungkin Jenni

__ADS_1


berbohong, gadis itu adalah sahabat Renata sejak kecil.


"Lalu apalagi


yang terjadi? Kenapa adikmu korna?"


"Dia kecelakaan. Sebuah mobil menabraknya ketika


Christian mengejar adikku." Deril menghembuskan nafas kasarnya, "Sekarang kau tau


seberapa brengseknya Christian? Ia bahkan tak pernah berusaha menjenguk


adikku."


Sharon menunduk, ia tak dapat berkata-kata sekarang.


"Dia juga


menghamilinya."


Kali ini Sharon mengangkat wajahnya. Matanya sedikit


membelalak.


 


"Saat kecelakaan itu terjadi adikku langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menjelaskan padaku bahwa Renata tengah mengandung dan ia keguguran."


Sharon menutup mulutnya. Ia tak pernah menyangka orang yang selama


ini ia cintai ternyata.. ya tuhan..


Christian?"


Sharon terdiam. Lagi-lagi Deril menghela nafas, ia


mengalihkan pandangannya pada Renata. Di raihnya tangan itu ke dalam


genggamannya.


"Dan


siapa kau sebenarnya?" Sharon menatap Deril. "Kau masih


bertanya soal itu?" Deril mendengus. "Aku hanya ingin tau."


"Namaku Deril--"


"Bukan itu--"


"Deril


Hernandez. Puas?" "Hernandez?


Hernandez comp--" "Ya." Potong Deril cepat.


 


Sharon membelalak tak percaya, "Apa kau CEO muda itu?"

__ADS_1


"Mungkin. Apa aku terlihat tua? Terlalu muda menjadi seorang


CEO?"


"Ya tuhan.. jika memang kau dendam pada Christian


kau dapat dengan mudah menggunakan uangmu." Desah Sharon kesal.


"Dan apa kau rela jika aku membunuh Christian?"


Seketika Sharon bungkam.


"Maka dari itu aku meminta bantuanmu."


Deril mengusap jemari adiknya. Ia menatap Renata dengan


sendu. Sharon yang melihat itu hanya tertegun. Sekarang ia semakin dilanda


kebingungan.


Tiba-tiba suara detak jantung Renata berhenti. Deril tampak panik, pria itu melirik ke arah monitor. Garis-garis yang semula berjarak-jarak kini berubah menjadi lurus.


Dengan cepat pria itu menelan tombol interkom beberapa kali. Tak lama kemudian pria berjas putih itu datang.


"Dokter dia kenapa?" Tanya Deril panik. Sharon yang menyaksikan itu


hanya mematung.


 


"Kami   akan   memeriksanya." Dokter   itu   segera memeriksa Renata.


"Ma-af Tuan, Nona Renata tak dapat di sela--"


Sebelum Dokter itu


menyelesaikan ucapannya, Deril lebih dahulu menarik kerah jasnya.


"Sialan! Lakukan yang


terbaik! Brengsek, atau ku tuntut kalian semua!"


"Deril! Hentikan!" Sharon menengahi.


"Diam Sharon.. "


Deril terduduk lemas. Ia menatap adiknya dengan nanar.


Tidak .. Adiknya pasti masih hidup. Tidak mungkin.


Dokter itu kembali memeriksa Renata, namun semuanya


tetaplah sama. Gadis itu tak dapat di selamatkan.


"Urus semuanya suster.. " dokter itu mengintruksikan pada perawat di sampingnya.


"Baik,


Dok!"

__ADS_1


__ADS_2