
Deril mendesah. Ia mulai menerawang, "Sejak Christian
berselingkuh darinya."
"Berselingkuh? Bagaimana mung--"
"Sepertinya percuma aku menceritakan semuanya, kau tak akan
percaya." Deril mendengus.
Merasa penasaran, Sharon menggeleng. "Ceritakanlah,
aku tak akan menyela." Pintanya.
"Renata adalah satu-satunya keluarga yang ku punya
selain pamanku. Renata yang selalu menyemangatiku sejak kedua orang tuaku
meninggal karena kecelakaan pesawat," Deril mulai membuka ceritanya.
Sharon tak membuka suara menunggu Deril melanjutkan
ceritanya.
"Renata berpacaran dengan Christian sudah cukup lama.
Adikku terlalu jatuh cinta pada Christian. Apapun, demi Christian. Dia selalu
mengutamakan Christian. Sampai-sampai ia
melupakan hari ulang tahunnya sendiri." Jelas Deril seraya
menerawang. "Dan malam itu.. " ia menjeda ucapannya.
”Tepat anniversary mereka yang ke satu. Hari ulang
tahun adikku." Deril tersenyum kecut.
"Apa yang
terjadi?" Tanya Sharon tak sabar.
"Christian ternyata berselingkuh darinya. Ia
berselingkuh dengan Mandy. Aku tidak terlalu tahu kejadian kronologisnya, Jenni
yang menjelaskannya padaku."
"Bagaimana
jika Jenni berbohong?"
"Dia sama sekali tak pernah berbohong. Dia sahabat Renata sejak kecil." Deril
berdalih. Mana mungkin Jenni
__ADS_1
berbohong, gadis itu adalah sahabat Renata sejak kecil.
"Lalu apalagi
yang terjadi? Kenapa adikmu korna?"
"Dia kecelakaan. Sebuah mobil menabraknya ketika
Christian mengejar adikku." Deril menghembuskan nafas kasarnya, "Sekarang kau tau
seberapa brengseknya Christian? Ia bahkan tak pernah berusaha menjenguk
adikku."
Sharon menunduk, ia tak dapat berkata-kata sekarang.
"Dia juga
menghamilinya."
Kali ini Sharon mengangkat wajahnya. Matanya sedikit
membelalak.
"Saat kecelakaan itu terjadi adikku langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter menjelaskan padaku bahwa Renata tengah mengandung dan ia keguguran."
Sharon menutup mulutnya. Ia tak pernah menyangka orang yang selama
ini ia cintai ternyata.. ya tuhan..
Christian?"
Sharon terdiam. Lagi-lagi Deril menghela nafas, ia
mengalihkan pandangannya pada Renata. Di raihnya tangan itu ke dalam
genggamannya.
"Dan
siapa kau sebenarnya?" Sharon menatap Deril. "Kau masih
bertanya soal itu?" Deril mendengus. "Aku hanya ingin tau."
"Namaku Deril--"
"Bukan itu--"
"Deril
Hernandez. Puas?" "Hernandez?
Hernandez comp--" "Ya." Potong Deril cepat.
Sharon membelalak tak percaya, "Apa kau CEO muda itu?"
__ADS_1
"Mungkin. Apa aku terlihat tua? Terlalu muda menjadi seorang
CEO?"
"Ya tuhan.. jika memang kau dendam pada Christian
kau dapat dengan mudah menggunakan uangmu." Desah Sharon kesal.
"Dan apa kau rela jika aku membunuh Christian?"
Seketika Sharon bungkam.
"Maka dari itu aku meminta bantuanmu."
Deril mengusap jemari adiknya. Ia menatap Renata dengan
sendu. Sharon yang melihat itu hanya tertegun. Sekarang ia semakin dilanda
kebingungan.
Tiba-tiba suara detak jantung Renata berhenti. Deril tampak panik, pria itu melirik ke arah monitor. Garis-garis yang semula berjarak-jarak kini berubah menjadi lurus.
Dengan cepat pria itu menelan tombol interkom beberapa kali. Tak lama kemudian pria berjas putih itu datang.
"Dokter dia kenapa?" Tanya Deril panik. Sharon yang menyaksikan itu
hanya mematung.
"Kami akan memeriksanya." Dokter itu segera memeriksa Renata.
"Ma-af Tuan, Nona Renata tak dapat di sela--"
Sebelum Dokter itu
menyelesaikan ucapannya, Deril lebih dahulu menarik kerah jasnya.
"Sialan! Lakukan yang
terbaik! Brengsek, atau ku tuntut kalian semua!"
"Deril! Hentikan!" Sharon menengahi.
"Diam Sharon.. "
Deril terduduk lemas. Ia menatap adiknya dengan nanar.
Tidak .. Adiknya pasti masih hidup. Tidak mungkin.
Dokter itu kembali memeriksa Renata, namun semuanya
tetaplah sama. Gadis itu tak dapat di selamatkan.
"Urus semuanya suster.. " dokter itu mengintruksikan pada perawat di sampingnya.
"Baik,
Dok!"
__ADS_1