
Deril membawaku ke dalam dekapannya. Aku hanya bisa
terisak di dalam pelukannya,
"Sshh... kau tak perlu menangis untuk beasiswamu. Aku akan membayar semuanya," Deril menangkup kedua pipiku. Aku meringis ketika ia
dengan tak sengaja menyentuh lukaku.
"Apa yang sakit?" Bisiknya, tatapannya begitu
lembut.
Aku tergagap dan memutuskan pandanganku dengan matanya. Aku menepis tangannya dengan pelan. Rasanya aneh, desiran aneh terasa di dalam tubuhku. Apa ini?
"Hanya sedikit terluka. Dia menampar dan mencakar
tanganku." Aku bangkit melangkah mencari sesuatu di dalam laci nakasku. Aku meraih kotak P3K disana.
"Apa ini?" Ujarku menatap beberapa kantong kertas
di atas ranjangku.
"Itu tas dan alat penata rambut." Deril
menatapku, "Dan ponsel." Tambahnya.
"Ponsel?"
Aku menautkan kedua halisku. "Ku lihat kau tak pernah memegang ponsel."
"Kau berlebihan," Aku membuka salah satu kantong kertas dari keempat kantong
tersebut, "Hm.." mulutku bergumam.
"Apa kau menyukainya? Aku menyuruh sekretarisku untuk membeli semua
itu." Ia menunjukkan senyuman tipisnya.
Aku menghela nafas dan menyimpan semua kantong kertas
itu. Menjauhkannya dari ranjangku. Aku mulai meraih sehelai kassa dan menetesinya dengan alkohol. Ku tepukkan kassa
tersebut ke tanganku. Tepatnya dimana luka cakaran yang singa itu berikan.
__ADS_1
"Kau tak menjawab ucapanku, Sharon." Deril
mendengus.
Aku tersenyum kecut, "Aku berhutang banyak padamu. Aku
janji akan menebusnya." Bisikku pelan.
Sejenak ia tampak terdiam, mata cokelatnya menatapku dengan
tatapan yang sulit untuk ku artikan.
"Aku tak meminta kau untuk menebusnya. Hanya sesuai dengan perjanjian kita, hancurkan hati Christian." Ia tampak mengeras.
"Baiklah.. aku akan berusaha." Lirihku. Aku menatap
kertas dalam genggamanku, kertas yang Mrs.Tannisa berikan tadi.
"Apa itu?"
"Oh.. i-ini. Ini surat untuk orang tuaku karena aku bertengkar dengan Mandy. Aku tak
yakin dapat memberikannya, orang tuaku sedang
berada di Cortes." Jelasku.
"Aku akan
mewakili orang tuamu,"
Aku menganga sejenak, "Kau yakin?""Tentu saja!" Ia tersenyum.
"Dan mengatakan bahwa Verline dirawat di La paz."
Jelasnya enteng.
Aku menghela nafas,
"Kau 'kan mengakui dirimu sebagai kekasihku, bagaimana jika
Christian--"
"Kau hanya perlu mengikuti alur permainanku, Sharon!"
Senyum miring tercetak jelas di bibirnya.
Deril berdeham sejenak. Ia menatap Mrs.Tannisa di hadapannya
__ADS_1
dengan tenang. Sharon yang berada di sampingnya tampak gugup setengah mati. Di samping itu, Mandy terus menatap Deril dengan tatapan err... lapar?
Gadis itu jelas tertarik pada Deril. Sharon dapat melihatnya.
Ketika pertama kali mereka memasukki ruangan. Mandy tampak merona
dan?? Kau tau apa ekspresi wanita gatal? Itulah
ekspresi Mandy.
Begitupun dengan ibu Mandy. Mrs. Gonzales pun sepertinya
terpesona dengan Deril. Dalam hati Sharon mendengus. Ibu dan anak sama saja!
"Baiklah, akan ku jelaskan semuanya maksudku mengundang Ehm..
Mr.Hernandez dan Mrs.Gonza1es kesini." Mrs.Tannisa membuka suara.
"Kemarin Sharon dan Mandy bertengkar. Entah apa yang menjadi
penyebabnya. Mereka telah mengganggu ketentraman suasana Asrama." Jelas Mrs.Tannisa
"Mana mungkin Mandy seperti itu, anakku selalu anggun
dan menjaga sikapnya." Mrs.Gonza1es mulai memberikan pembelaan terhadap
anaknya, Mandy.
"Tapi pada kenyataannya, mereka bertengkar
Mrs.Gonzales." Mrs.Tannisa menjawab dengan datar.
"Mungkin saja 'kan gadis kampung ini yang
memulai!" Mrs.Gonzales menatap Sharon dengan pandangan meremehkan.
Melihat itu, Deril berdeham tak nyaman. ”Maaf untuk kesalahan yang
telah Sharon lakukan Mrs.Tannisa. Aku
sangat menyesal dengan apa yang telah di lakukan oleh
kekasihku."
__ADS_1
TBC