Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 33


__ADS_3

Deril membawaku ke dalam dekapannya. Aku hanya bisa


terisak di dalam pelukannya,


"Sshh... kau tak perlu menangis untuk beasiswamu. Aku akan membayar semuanya," Deril menangkup kedua pipiku. Aku meringis ketika ia


dengan tak sengaja menyentuh lukaku.


"Apa   yang   sakit?"  Bisiknya,  tatapannya    begitu


lembut.


Aku tergagap dan memutuskan pandanganku dengan matanya. Aku menepis tangannya dengan pelan. Rasanya aneh, desiran aneh terasa di dalam tubuhku. Apa ini?


 


"Hanya sedikit terluka. Dia menampar dan mencakar


tanganku." Aku bangkit melangkah mencari sesuatu di dalam laci nakasku. Aku meraih kotak P3K disana.


"Apa ini?" Ujarku menatap beberapa kantong kertas


di atas ranjangku.


"Itu tas dan alat penata rambut." Deril


menatapku, "Dan ponsel." Tambahnya.


"Ponsel?"


Aku menautkan kedua halisku. "Ku lihat kau tak pernah memegang ponsel."


"Kau berlebihan," Aku membuka salah satu kantong kertas dari keempat kantong


tersebut, "Hm.." mulutku bergumam.


"Apa kau menyukainya? Aku menyuruh sekretarisku untuk membeli semua


itu." Ia menunjukkan senyuman tipisnya.


Aku menghela nafas dan menyimpan semua kantong kertas


itu. Menjauhkannya dari ranjangku. Aku mulai meraih sehelai kassa dan menetesinya dengan alkohol. Ku tepukkan kassa


tersebut ke tanganku. Tepatnya dimana luka cakaran yang singa itu berikan.


 

__ADS_1


"Kau   tak   menjawab    ucapanku,    Sharon."    Deril


mendengus.


Aku tersenyum kecut, "Aku berhutang banyak padamu. Aku


janji akan menebusnya." Bisikku pelan.


Sejenak ia tampak terdiam, mata cokelatnya menatapku dengan


tatapan yang sulit untuk ku artikan.


"Aku tak meminta kau untuk menebusnya. Hanya sesuai dengan perjanjian kita, hancurkan hati Christian." Ia tampak mengeras.


"Baiklah.. aku akan berusaha." Lirihku. Aku menatap


kertas dalam genggamanku, kertas yang Mrs.Tannisa berikan tadi.


"Apa itu?"


"Oh.. i-ini. Ini surat untuk orang tuaku karena aku bertengkar dengan Mandy. Aku tak


yakin dapat memberikannya, orang tuaku sedang


berada di Cortes." Jelasku.


"Aku akan


mewakili orang tuamu,"


Aku menganga sejenak, "Kau yakin?""Tentu saja!" Ia tersenyum.


"Dan mengatakan bahwa Verline dirawat di La paz."


Jelasnya enteng.


Aku menghela nafas,


"Kau 'kan mengakui dirimu sebagai kekasihku, bagaimana jika


Christian--"


"Kau   hanya  perlu   mengikuti  alur   permainanku, Sharon!"


Senyum miring tercetak jelas di bibirnya.


Deril berdeham sejenak. Ia menatap Mrs.Tannisa di hadapannya

__ADS_1


dengan tenang. Sharon yang berada di sampingnya tampak gugup setengah mati. Di samping itu, Mandy terus menatap Deril dengan tatapan err... lapar?


Gadis itu jelas tertarik pada Deril. Sharon dapat melihatnya.


Ketika pertama kali mereka memasukki ruangan. Mandy tampak merona


dan?? Kau tau apa ekspresi wanita gatal? Itulah


ekspresi Mandy.


 


Begitupun dengan ibu Mandy. Mrs. Gonzales pun sepertinya


terpesona dengan Deril. Dalam hati Sharon mendengus. Ibu dan anak sama saja!


"Baiklah, akan ku jelaskan semuanya maksudku mengundang Ehm..


Mr.Hernandez dan Mrs.Gonza1es kesini." Mrs.Tannisa membuka suara.


"Kemarin Sharon dan Mandy bertengkar. Entah apa yang menjadi


penyebabnya. Mereka telah mengganggu ketentraman suasana Asrama." Jelas Mrs.Tannisa


"Mana mungkin Mandy seperti itu, anakku selalu anggun


dan menjaga sikapnya." Mrs.Gonza1es mulai memberikan pembelaan terhadap


anaknya, Mandy.


"Tapi pada kenyataannya, mereka bertengkar


Mrs.Gonzales." Mrs.Tannisa menjawab dengan datar.


"Mungkin saja 'kan gadis kampung ini yang


memulai!" Mrs.Gonzales menatap Sharon dengan pandangan meremehkan.


Melihat itu, Deril berdeham tak nyaman. ”Maaf untuk kesalahan yang


telah Sharon lakukan Mrs.Tannisa. Aku


sangat menyesal dengan apa yang telah di lakukan oleh


kekasihku."


 

__ADS_1


TBC


__ADS_2