
Sharon menegak saliva-nya sedikit sulit, "Err.. maaf." Ia
segera menarik tangannya menjauh.
Christian tersenyum tipis,
"Maaf, sepertinya aku keterlaluan ya?"
Sharon meringis. Gadis itu tak mengatakan apapun.
"Sepertinya
sebentar lagi be1 berbunyi, aku harus segera pergi." Gadis itu bangkit.
Christian mengikutinya. Ketika Sharon hendak melangkah, pria
itu menarik pergelangan tangannya.
"Fikirkan ucapanku
Sharon. Aku akan menunggu." Ucapnya dengan senyum yang tulus.
Lalu
pria itu menjauh begitu saja, meninggalkan Sharon yang masih membeku.
Sharon memegang erat-erat lembar jawaban yang berada
di dalam pelukannya. Beberapa lembaran ini adalah hasil jawaban ujian kelas 10.
Mr.Darry mempercayakannya untuk membantu memeriksa hasil ujian kelas 10.
Malam ini sepertinya ia harus bergadang. Melihat begitu
banyaknya lembar jawaban yang harus ia periksa dengan teliti. Sharon tak merasa
dibebankan, karena ia sangat senang jika dapat membantu Para guru untuk
memeriksa hasil ujian.
Ia segera membuka pintu kamarnya. Ketika gadis itu akan menarik handle pintu, seseorang menghampirinya.
Ia melihat sosok tampan itu mendekat ke arahnya. Sosok yang sedikit membuatnya kacau akibat 'kejadian' di bukit. Siapa lagi kalau bukan Deril?
"Hai?"
Bisiknya pelan. Pria itu membukakan pintu
untuknya.
Mereka masuk ke dalam kamar. Sharon segera menyimpan lembaran jawaban itu di atas meja belajarnya. Sedangkan Deril, ia melepas dasi dan juga jasnya. Ia juga
melepas sepatunya.
__ADS_1
"Kau ingin meminum sesuatu?" Tawar Sharon. "Apa saja!" Tegasnya duduk di atas ranjang.
Sharon membuka lemari es mininya. Ia meraih dua botol
kaleng minuman dari dalam sana. Satu untuk Deril dan satu lagi untuknya.
Ia menyerahkannya pada Deril lalu setelah itu, ia
mendudukkan bokongnya di kursi. Matanya mulai meneleti lembar jawaban di
hadapannya satu-per-satu.
"Bagaimana
perkembangannya?" Tanya Deril.
"Dia mengajakku berkencan,
rasanya terlalu cepat." "Terima saja."
Jawab Deril santai.
"Aku tak tau, aku tak bisa." Bisik Sharon
pelan.
"Lebih cepat lebih baik." Deril melempar botol kaleng kosong
"Apa
yang kau lakukan?" Tanyanya. "Memeriksa lembar
jawaban."
"Eh? Apa tidak
mengganggu?" Deril mengernyit. "Aku senang
melakukannya, kenapa tidak?"
"Kemarilah, aku ingin melihat." Pria itu
melangkah lebih awal ke balkon. Dengan setengah menggerutu Sharon
mengikutinya.
"Matematika,
eh?"
"Ya."
__ADS_1
Jawab Sharon singkat.
"Apa tidak lelah menghitungnya? Ku lihat kau baru
pulang."
"Kau banyak bertanya, sebaiknya jika kau kasihan
padaku. Bantulah aku." Dengus Sharon.
Deril terkekeh, ia mengacak rambut Sharon dengan pelan. "Baiklah." la meraih satu ballpoint dan mulai fokus seperti Sharon.
"Sepertinya beberapa hari ke depan aku tak akan
kesini." Desah pria itu.
"Kenapa?"
"Aku seorang pria Sharon."
Sharon menatapnya lekat-lekat, "Ya, kau memang seorang
pria."
"Bukan itu," desah Deril.
Sungguh gadis di hadapannya terlalu polos. "Lalu?"
Deril meraih
dagu gadis itu, "Tatap aku."
Sharon menatap mata hijau itu dengan lekat. Tangan gadis itu terulur menyentuh rahangnya dengan pelan.
"Tidak, Sharon.. ”bisik Deril pelan. Ia menepis tangan Sharon dengan pelan.
"Kau akan tau apa, Christian akan dengan mudahnya mengajarimu," kekehnya. "Aku harus pulang." Ujarnya.
Deril mendekat, ia mengecup kening Sharon dengan lembut lalu menatap kedua bola
mata itu dengan lembut. "Buenas
Noches.." bisiknya lalu menjauh. (Selamat malam)
Setelah pria itu menghilang di balik pintu, Sharon memegang
dadanya.
Kenapa jantungku selalu berdebar? Deril apakah..
Aku tak mungkin menyukaimu kan?
TBC
__ADS_1