Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 17


__ADS_3

"Pergilah!" Ujar Christian menyuruh Sharon agar pergi. Sharon tampak berbinar, namun ia segera pergi.


Sharon melangkah menjauh dari lingkungan kantin. Ia terus melangkah hingga pada akhirnya sampai di toilet wanita. Gadis itu masuk ke dalam sana dan membersihkan rambutnya.


Dewi dalam


batinnya tersenyum riang, Demi apa?


Astaga! Christian menolongnya!


Sharon terus tersenyum seraya membersihkan rambutnya. Ia


menatap bayangan dirinya sendiri di cermin. Hatinya benar-benar berbunga.


 


Ini bagaikan mimpi!


Ia segera tersadar ketika bayangan dirinya menunjukkan


bahwa seragam yang ia kenakan basah. Sharon segera melangkah keluar dan ia pun


pergi ke kamar asrama.


Sharon melirik ke kanan dan ke kiri menyadari bahwa


sosok Verline tak ada disini. Dimana


gadis im? ia mendesah pelan dan


mengusap rambut basahnya dengan handuk kering. Ia telah memutuskan untuk tak kembali ke sekolah. Seragam miliknya yang lain ada di Verline.


Tapi, hart ini ada ulangan. Sharon menggigit bibir bawahnya. Ia melangkah mendekati lemari Verline


dengan hati-hati. Tangannya terulur, sedikit bergetar ia mencoba membuka lemari tersebut.


Ia menghela nafas lega ketika lemari itu telah terbuka. Mata cokelatnya segera menelusuri seluruh isi lemari itu.


Dimana seragamnya?


Tanpa sengaja mata cokelatnya menangkap satu stel pakaian kerja. Sebuah jas mahal


lengkap dengan kemeja dan dasinya. Sharon mengernyit heran, milik siapa ini?

__ADS_1


 


Lalu gadis itu kembali mengalihkan pandangannya pada sisi lemari yang lain. Ia menangkap sosok yang lebih menarik lagi. Sebuah map berwarna


cokelat. Ia hendak menarik map tersebut, namun suara pintu terbuka sontak


membuatnya segera menjauh.


Verline tampak disana. Mata hijau beningnya tampak hampir mencelos ketika melihat sosok Sharon yang tengah berada di hadapan lemarinya. Verline menegak saliva-nya dengan susah payah.


Apa yang gadis itu lakukan?


Ia mendekat ke arah Sharon. Sharon hanya tergagap dan menjauh. Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Maaf-Err..


aku mencari seragamku--" gugup Sharon.


Verline menghela


napas, ia mengulurkan tangannya.


Meraih sesuatu dari sisi lemari lain. Seragam Sharon..


pelan.Sharon menerimanya dengan ragu. Verline tampak menatapnya


dengan intens. Sungguh menurut Sharon,


 


mata Verline sama sekali tak cocok untuk ukuran wanita. Mata hijau bening itu terlalu


tajam dan siapapun yang menatapnya sangat yakin bahwa itu mata pria jantan.


Eh..? Jantan? Apa benar? Dia wanita 'kan?


"Ada apa dengan rambutmu?" Sontak Suara Verline membuyarkan


Sharon dari lamunannya.


"Eh? Ini? Tadi Mandy menumpahkan minuman padaku. Tapi


sudah tidak apa-apa, aku sudah membersihkannya." Sharon tersenyum tipis.

__ADS_1


"Dan kau


 


hanya diam saja?"


Verline melonggarkan Syal yang dikenakannya. Katakanlah bahwa Verline aneh, itu memang benar. Lagi- lagi Sharon ingin mengomentari


penampilan gadis itu. Entah kenapa Verline selalu memakai syal setiap hart,


detik, menit atau bahkan tidur?


Sharon ragu untuk menanyakan hal itu, ia takut Verline


tersinggung. Mungkin saja kan gadis itu kedinginan, Tapi bukankah ini musim panas? Justru Sharon merasa kegerahan.


 


Ada pula hal lain yang benar-benar membuat Sharon heran


adalah jaket gadis itu.


Kenapa


jaket? Ya! Karena gadis itu selalu mengenakannya setiap hari!


Sharon semakin menggila dengan pikirannya sekarang. Ia


terlalu banyak mengomentari penampilan Verline dengan dewi batinnya.


Apakah gadis itu tak kepanasan?


Jaket itu hampir menutupi telapak tangannya. Ditambah lagi kaus kaki panjang yang gadis itu kenakan,


begitu panjang mirip stocking. Sesekali


Sharon sering memperhatikan tangan gadis itu yang sedikit meneuat dari jaketnya. Begitu kekar dan uratnya sedikit menonjol.


Hentikan Sharon! Kau bukan komentator!


 


TBC

__ADS_1


__ADS_2