
Seketika Mandy melongo tak percaya. Ia menatap Sharon dan Deril
bergantian. Ia tak tuli 'kan? Deril mengatakan apa tadi? Kekasih? Katakan bahwa
dunia sudah gila!
"Tak apa Mr. Hernandez. Aku sangat memakluminya. Namun dengan terpaksa aku harus mencabut beasiswanya."
Mrs.Huggens menatap dingin ke arah Sharon. Sharon hanya dapat menunduk.
"Apa? Apakah hanya sampai disitu Mrs.Tannisa? Kenapa kau tidak
menghukumnya?" Mrs.Gonza1es menunjukkan rasa tak terimanya secara
terang-terangan.
"Itu masuk ke dalam kategori hukuman, Mrs.Gonzales.
Dan untuk Mandy, aku harus menghukumnya juga. Ia harus membersihkan ruangan Aula sampai bersih."
"Apa?! Dios! Apa
kau bercanda? Anakku sensitif terhadap debu! Kau--"
"Aku tak
perduli. Hukuman tetaplah harus di--"
"Aku akan membayar!" Ujar Mrs.Gonzales ber-api-
api. Ia mengeluarkan beberapa lembar dollar dari dompetnya, dengan sombongnya
ia menyimpan dollar tersebut di atas meja.
Mrs.Tannisa menatapnya dengan datar, "Terserah
Nyonya!" Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Deril,
"Beasiswa Sharon resmi aku cabut hari ini."
"Aku akan membayar seluruh biaya sekolah Sharon. Aku ingin seluruh data pembayarannya hari ini juga. Aku yang akan membayar semuanya. Berapa
yang harus aku bayar?" Ucap Deril tegas.
Mandy menatapnya
__ADS_1
dengan pandangan tak percaya.
Dios* Apa yang dia katakan tadi? "Deril kau--" Sharon tampak resah.
”Aku yang akan membayar semuanya, Nadine.. ”
Deril tersenyum miring.
Sharon merona mendengar panggilan Nadine untuknya.
Semuanya terasa berbeda dengan panggilan yang Christian ucapkan.
Entahlah ia merasa hatinya menghangat.
Setelah selesai, Mereka segera pergi dari ruangan Mrs.Tannisa. Mandy tampak menghentakkan kakinya dengan kesal. Mrs.Tannisa menolak mentah uang yang di berikan ibunya,
wanita itu memutuskan untuk tetap memberikan Mandy hukuman.
Sedangkan Sharon, la harus kembali ke kelas. Deril tampak mengantarkannya. Sharon merasa
tak nyaman dengan sekitarnya, ia merasakan pandangan menusuk ke arahnya. Pandangannya bahkan
lebih menusuk dari kemarin-kemarín.
Christian melihat?" Bisiknya
khawatir.
"Itu lebih
baik." Deril mengamit jari-jarinya.
"A-aku telah sampai." Sharon
tersenyum kikuk dan melepaskan tautannya.
"Baiklah." Deril mengacak rambut Sharon yang tampak ikal di ujungnya. Gadis itu terlihat cantik. Apalagi hari ini Sharon resmi melepas kaca matanya.
Sharon merona dan menatap sekitarnya, ia menyelipkan anak
rambut dengan gugup.
”Aku harus pergi." Deril mendekat dan...
CUP
__ADS_1
Satu kecupan mendarat tepat di pipi kanannya. Seketika ia
membeku dan menatap Deril dengan pandangan tak percaya. Pria itu hanya
tersenyum dan menjauh.
Sharon merasakan pipinya semakin
merona. Ia... apa yang ta rasakan
sekarang?
Di samping itu tampak seorang pria
menatap mereka dengan rahang yang mengeras.
Hening..
Semuanya terasa hampa, kenangan-kenangan manis itu
menghantuinya, ia gila.. ta mati rasa. Semuanya terlambat.. gadis yang dicintainya telah pergi, semuanya salahnya. Pria itu menatap
ruangan Aula dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang, ia benar-benar hilang
dari raganya.
Melihat sosok pria itu, membuatnya kembali mengingat
kesalahan yang telah ia perbuat. Kesalahan yang ia
lakukan pada gadisnya, Renata..
la mengusap wajahnya dengan kasar. Diraihnya bola basket dengan geram. Ia melemparnya dengan kasar. Andai
dulu ... ia tak meninggalkan gadis itu. Semuanya tak akan begini. Andaikan saja
dulu ia menolak bertunangan dengan Mandy. Mungkin ia akan bahagia sekarang dengan
Renata. Ia menyesal, ya.. ia menyesal sekarang.
Ia memang brengsek, pria brengsek dari seribu pria brengsek
yang ada di dunia ini. Ia brengsek! Bibirnya
terkatup rapat. Ia kembali meraih bola basket dan melemparnya dengan kasar.
__ADS_1
TBC