Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 34


__ADS_3

Seketika Mandy melongo tak percaya. Ia menatap Sharon dan Deril


bergantian. Ia tak tuli 'kan? Deril mengatakan apa tadi? Kekasih? Katakan bahwa


dunia sudah gila!


"Tak apa Mr. Hernandez. Aku sangat memakluminya. Namun dengan terpaksa aku harus mencabut beasiswanya."


Mrs.Huggens menatap dingin ke arah Sharon. Sharon hanya dapat menunduk.


"Apa? Apakah hanya sampai disitu Mrs.Tannisa? Kenapa kau tidak


menghukumnya?" Mrs.Gonza1es menunjukkan rasa tak terimanya secara


terang-terangan.


"Itu masuk ke dalam kategori hukuman, Mrs.Gonzales.


Dan untuk Mandy, aku harus menghukumnya juga. Ia harus membersihkan ruangan Aula sampai bersih."


"Apa?! Dios! Apa


kau bercanda? Anakku sensitif terhadap debu! Kau--"


"Aku tak


perduli. Hukuman tetaplah harus di--"


 


"Aku akan membayar!" Ujar Mrs.Gonzales ber-api-


api. Ia mengeluarkan beberapa lembar dollar dari dompetnya, dengan sombongnya


ia menyimpan dollar tersebut di atas meja.


Mrs.Tannisa menatapnya dengan datar, "Terserah


Nyonya!" Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Deril,


"Beasiswa Sharon resmi aku cabut hari ini."


"Aku akan membayar seluruh biaya sekolah Sharon. Aku ingin seluruh data pembayarannya hari ini juga. Aku yang akan membayar semuanya. Berapa


yang harus aku bayar?" Ucap Deril tegas.


Mandy menatapnya

__ADS_1


dengan pandangan tak percaya.


Dios* Apa yang dia katakan tadi? "Deril kau--" Sharon tampak resah.


”Aku yang akan membayar semuanya, Nadine.. ”


Deril tersenyum miring.


Sharon merona mendengar panggilan Nadine untuknya.


Semuanya terasa berbeda dengan panggilan yang Christian ucapkan.


Entahlah ia merasa hatinya menghangat.


 


Setelah selesai, Mereka segera pergi dari ruangan Mrs.Tannisa. Mandy tampak menghentakkan kakinya dengan kesal. Mrs.Tannisa menolak mentah uang yang di berikan ibunya,


wanita itu memutuskan untuk tetap memberikan Mandy hukuman.


Sedangkan Sharon, la harus kembali ke kelas. Deril tampak mengantarkannya. Sharon merasa


tak nyaman dengan sekitarnya, ia merasakan pandangan menusuk ke arahnya. Pandangannya bahkan


lebih menusuk dari kemarin-kemarín.


Christian melihat?" Bisiknya


khawatir.


"Itu lebih


baik." Deril mengamit jari-jarinya.


"A-aku telah sampai." Sharon


tersenyum kikuk dan melepaskan tautannya.


"Baiklah." Deril mengacak rambut Sharon yang tampak ikal di ujungnya. Gadis itu terlihat cantik. Apalagi hari ini Sharon resmi melepas kaca matanya.


Sharon merona dan menatap sekitarnya, ia menyelipkan anak


rambut dengan gugup.


”Aku harus pergi." Deril mendekat dan...


CUP

__ADS_1


Satu kecupan mendarat tepat di pipi kanannya. Seketika ia


membeku dan menatap Deril dengan pandangan tak percaya. Pria itu hanya


tersenyum dan menjauh.


Sharon merasakan pipinya semakin


merona. Ia... apa yang ta rasakan


sekarang?


Di samping itu tampak seorang pria


menatap mereka dengan rahang yang mengeras.


Hening..


Semuanya terasa hampa, kenangan-kenangan manis itu


menghantuinya, ia gila.. ta mati rasa. Semuanya terlambat.. gadis yang dicintainya telah pergi, semuanya salahnya. Pria itu menatap


ruangan Aula dengan pandangan kosong. Pikirannya melayang, ia benar-benar hilang


dari raganya.


Melihat sosok pria itu, membuatnya kembali mengingat


kesalahan yang telah ia perbuat. Kesalahan yang ia


lakukan pada gadisnya, Renata..


la mengusap wajahnya dengan kasar. Diraihnya bola basket dengan geram. Ia melemparnya dengan kasar. Andai


dulu ... ia tak meninggalkan gadis itu. Semuanya tak akan begini. Andaikan saja


dulu ia menolak bertunangan dengan Mandy. Mungkin ia akan bahagia sekarang dengan


Renata. Ia menyesal, ya.. ia menyesal sekarang.


 


Ia memang brengsek, pria brengsek dari seribu pria brengsek


yang ada di dunia ini. Ia brengsek! Bibirnya


terkatup rapat. Ia kembali meraih bola basket dan melemparnya dengan kasar.

__ADS_1


TBC


__ADS_2