
Deril mengamati wajah gadis itu. Sharon tampak tegar, di tengah orang-orang yang membencinya gadis itu
tak pernah patah semangat. Deril tau, beberapa orang menjauhi Sharon karena
keadaan ekonominya. Gadis itu tak dekat dengan orang lain selain Paula dan dirinya. Tak ada yang tampak berminat menjadi teman dekatnya.
Lagi-lagi Deril merasa tak tega
memanfaatkan Sharon demi kepuasannya.
"Ayo kita pulang." Ia meraih Jemari Sharon ke dalam genggamannya.
Mereka melangkah menjauhi pemakaman.
Sharon melirik ke arah jemarinya dan jemari Deril yang saling bertautan.
Gadis itu merona. Ia merasakan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Apa artinya ini?
Sharon melepaskan tautan jari mereka
ketika mereka telah sama-sama di depan mobil. Deril
tampak salah tingkah dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Maaf membuatmu bolos sekolah." Gumam Deril ketika
mereka sama-sama di dalam mobil.
Sharon tersenyum
tipis, "Tak masalah."
"Aku akan membiayai sekolahmu,
kau tak perlu khawatir." Deril melajukan mobilnya.
Sharon menganga sejenak. Ia hendak membuka mulutnya, namun Deril menyela.
"Apapun yang kau butuhkan, kau hanya perlu memintanya
padaku." Tegas Deril.
"Tapi aku
..."
"Aku akan tetap mengawasimu dengan menjadi Verline. Aku ingin melihat pekerjaanmu, apakah berjalan baik atau tidak."
"Bagaimana jika Christian tak tertarik padaku?"
__ADS_1
Sharon meremas kedua tangannya yang saling bertautan.
"Kau terlalu pesimis." Deril mendengus.
Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di pekarangan
Asrama. Sharon melirik keluar kaca mobil. Asrama tampak sepi. Jelaslah semua orang pasti sedang di sekolah.
"Apa kau akan
turun juga?" Sharon bertanya.
Deril melirik
keluar lalu mengalihkan pandangannya
pada Sharon.
"Sepertinya semuanya tampak aman, tak masalah jika aku ikut." Ia membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu.
Sharon menggigit bibir bawahnya. Ia melirik sekitarnya
dengan takut-takut. Takut ada yang melihat keberadaan Deril. Ketika mereka
hendak sama-sama
melangkah masuk ke dalam. Tiba-tiba Sharon di kagetkan dengan
"Sharon? Apa itu kau?!"
Sharon menegang di tempat. Keringat dingin terasa
membanjiri telapak tangannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang.
Kepalanya terasa pening. Ia membalikkan tubuhnya seketika, menghadap ke arah
Mrs.Huggens.
Diliriknya Deril yang berdiri di sampingnya. Pria itu tampak tenang. Deril sama sekali tak menunjukan ekspresi apapun.
"Dan siapa kau, Tuan?" Tanya Mrs.Huggens mengalihkan pandangannya pada Deril. Di perhatikannya
penampilan Deril dari atas sampai bawah.
Deril berdeham, "Namaku Deril, Nyonya." Ujarnya
Sopan. "Aku kakak Verline." Tambahnya lagi.
Seketika Raut wajah Mrs.Huggens berubah tenang. Ia menunjukkan senyum tipisnya, "Oh.. Senang bertemu denganmu Tuan Hernandez. Maaf atas kesalahanku
__ADS_1
karena tak mengenalmu. Ayo masuk.. "
Sharon meringis. Ia melirik ke arah Deril yang tersenyum tipis ke arahnya. Mereka melangkah memasuki ruangan
milik Mrs.Huggens.
Mrs.Huggens
mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Maaf aku tak mengenalmu tadi.. " sekali lagi
Mrs.Huggens tampak menunjukkan rasa bersalahnya.
"Tak
masalah Mrs." Deril membalasnya dengan
senyuman.
"Jadi ada apa kedatanganmu kesini?" "Aku hanya mengantarkan Sharon."
Seketika raut wajah Mrs.Huggens tampak berubah. Ia menunjukkan raut wajah tak sukanya secara terang- terangan.
"Oh.. kau bolos ya hari ini Sharon. Aku bisa saja
dengan mudah mencabut beasiswamu." Sindirnya.
Sharon hanya
menunduk.
"Maaf Mrs. Tapi dia bolos karena mengantarkan Verline ke rumah
sakit. Tadi malam Verline demam tinggi. Ia menelponku dan kami segera membawa Verline ke rumah
sakit. Saat ini Verline berada di kamarnya, ia
sedang istirahat." Jelas Deril panjang lebar. Pria itu
menyela.
"Oh ya tuhan! Kenapa tidak memberitahuku?"
Mrs.Tannisa menunjukkan ekspresi terkejutnya yang tampak dibuat-buat.
"Aku terburu-buru, Madame.. " Sharon berujar
dengan pelan.
__ADS_1
TBC