
Sharon meringis lalu ia segera melenggang dari hadapan Verline. Verline yang melihat itu hanya bernafas lega. Ia menghembuskan nafas
panjang lalu mengunci lemarinya rapat-rapat.
Gawat jika Sharon sampai tau kalau ia seorang pria!
Sharon mengetuk-ngetukkan ballpoint tepat ke arah dahinya. Gadis itu mendesah frustasi.
Sungguh aneh, ta tak dapat berkonsentrasi.
Ia melirik ke arah sampingnya. Tampak Verline dengan fokusnya mengerjakan soalnya. Gadis itu tampak tak berpikir lama, beberapa detik membaca kemudian akan dengan
mudah Mengisi.
Tak mau kalah akhirnya Sharon berusaha keras berpikir.
Ia memutar kerja otaknya dengan cepat. Demi mempertahankan beasiswanya!
Satu per-satu dari seluruh siswa yang mengikuti kelas ulangan harian mulai mengumpulkan
jawabannya. Tak terkecuali dengan Verline. Bahkan ia mengumpulkannya lebih awal. Gadis itu tampak telah keluar dari ruangan dengan sisa waktu yang masih cukup lama.
Verline tersenyum miring. Ia melirik Sharon yang tampak
tengah masih mengerjakan soalnya. Gadis
itu sepertinya kesulitan..
Bukan hal yang sulit bagi Deril mengerjakan soal yang
berhubungan dengan akutansi. Oh ayolah
...dia seorang pengusaha muda! Tak sulit baginya mengerjakan seluruh soal
tersebut!
Selang beberapa menit, akhirnya Sharon keluar dari ruangan. Gadis itu tampak menekuk wajahnya. Tak seperti biasanya ia merasa sangat menderita di dalam ruangan itu.
Ia menggeram frustasi. Sharon menggeleng- gelengkan
kepalanya. Hingga pada akhirnya, ulahnya terhenti ketika satu cup jus berada
__ADS_1
tepat di hadapannya. Sharon mendongak untuk menatap siapa pemilik tangan itu.
Awalnya ia menganga tak percaya.
Dios! Dios! Dios!
Apakah
itu benar-benar dia?! Apa aku salah lihat?!
Benarkah itu dia?!
Gadis itu masih dengan tampang bodohnya memandang sesosok
dewa yunani-nya. Hingga Christian
bersuara.
"Apa kau dapat menyelesaikannya?"
Seketika rasanya kupu-kupu di dalam perutnya berterbangan.
Christian! Dios! Christian tersenyum kepadanya!
"Ah--i-iya tentu saja!" Sharon tergagap. Dengan
gugupnya gadis itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
"Ini untukmu.. " sekali lagi Christian
menyodorkan satu cup jus ke arahnya.
Dengan malu-malu
Sharon menerimanya,
"¡Gracias!" (Terima kasih)
"De nada!" (Sama-sama)
Mereka melangkah beriringan
__ADS_1
melewati lorong-lorong koridor. Tanpa henti-hentinya dewi
dalam batin Sharon terus tersenyum lebar.
Dirinya melayang, Tangkap aku sebelum aku terbang terlalu jauh!
"Namamu Sharon?" Tanya Christian ketika
mereka telah sanna-sama sampai di taman sekolah. Mereka duduk di bangku taman seraya meneguk jus masing-masing.
Ya tuhan..!
Dia tahu namaku? Bagaimana bisa?
"Eh iya!"
"Hei, tidak perlu gugup seperti itu. NamakuChristian!"
"Err iya." Lagi-lagi Sharon tak dapat menyembunyikan kegugupannya.
Christian terkekeh. Gadis ini.. ia bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan Verline. Pria itu terus
memperhatikan Sharon membuat Sharon merona seketika.
Di samping itu Verline tampak memperhatikanmereka berdua. Gadis itu tersenyum sinis.
Kena kau brengsek!
Ia akan melancarkan rencananya dari mulai saat ini. Ia terus memperhatikan mereka berdua,
tapi entah kenapa jauh dalam dirinya. Ia merasa tidak suka ketika Christian
menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sharon. Membuat gadis itu merona seketika.
Verline segera bersembunyi ketika Sharon melangkah meninggalkan Christian. Dan Christian tampak menjauh, entah akan pergi ke mana.
Sharon tak henti-hentinya tersenyum lebar. Ini seperti mimpi, oh ayolah sayang! Ini bukan mimpi. Christian Derevano mengajakmu berbicara! Semua ini benar-benar nyata.
Ia mengusap cup yang berada dalam genggamannya. Tadi tangan Christian menempel tepat disini. Sharon tersenyum. Ia juga menyentuh rambutnya, dimana tepat Christian menyelipkannya ke belakang telinganya.
TBC
__ADS_1