
Terkadang jika baru datang, ia akan tersenyum lebar padaku, atau memberikan kecupan
singkat di keningku. Namun saat int, ia benar-benar berbeda.
Aura tatapan dingin mata hijaunya terasa menusuk dan melingkupiku.
Aku meras sangat terintimidasi. Ia benar-benar menatapku dengan tatapan yang
sulit untuk ku artikan.
Dia bukan Deril yang dulu..
"Kau sudah
melihatnya." Ujarnya tiba-tiba.
Sejenak aku tergagap, namun selanjutnya aku
mengangguk.
"Ya."
"Bagus." Ia tersenyum puas, "Kenakan itu
besok malam, kita lihat kejutan apa yang akan dia dapatkan." Sinisnya.
"Maksudmu?" Aku tergagap.
"Kau akan tahu besok." Ia
bangkit hendak melangkah keluar, namun selang beberapa detik ia kembali menoleh. "Kenakan
ini." Ia mendekat ke arahku, memasangkan sebuah cincin yang begitu manis
di jari manisku.
"Apa ini?" Bisikku menatap mata hijaunya. "Cincin
pertunangan kita."
"A-apa?!" Cicitku hampir memekik.
Ia mendengus pelan, "Akting kita,
Sharon .."
Bibirku terkatup seketika. Ku tatap cincin yang tersemat manis di jariku. Aku menghela nafas dalam hati.
"Jangan berlebihan menganggap ini
semua nyata, kita hanya berpura-pura."
Deg
"Ya .." lirihku penuh sesak. Air mataku hampir
saja menetes jika aku tak mengerjapkan mataku.
"Jangan lupa untuk memakai semuanya. Dandanlah
secantik mungkin." Tegasnya.
"Aku akan
berusaha." Ucapku tertahan.
Tiba-tiba ia meraih jemariku ke dalam genggamannya.
__ADS_1
Genggaman hangat yang sangat kurindukan. Sejenak tatapan matanya tampak
melembut. Oh, mata itu..
"Ayo ikut aku..
" bisiknya.
Keningku berkerut. Dengan terpaksa aku mengikuti
langkahnya.
Kami melangkah seraya melirik ke kanan dan ke kiri
melewati lorong Asrama. Jantungku berdegup kencang. Rasanya keringat dingin
membanjiri telapak tanganku. Aku takut, ya takut.. aku takut seseorang melihat kami.
Seakan mengerti apa yang ku rasakan, Deril meremas tanganku dengan lembut. Ia melirik ke arahku dan tersenyum tipis.
"Kita akan
baik-baik saja, Sharon.. " bisiknya.
Tak terasa waktu telah berlalu, aku telah berada di dalam
mobil mewahnya. Aku menghela nafas lega,
bersyukur karena tak ada yang melihat kami. Deril tampak
datar,
ia kembali pada raut wajah semulanya.
Aku meremas kedua telapak tanganku.
hangat genggamannya yang ia lepaskan beberapa menit
yang lalu.
Ku lirik
Deril tengah menyalakan mesin. Mobil yang kami tumpangi pun menjauhi pekarangan
Asrama.
"Toko
jam?" Cicitku ketika kami telah berada di sebuah toko. Yang tak lain
adalah toko jam tangan.
"Ya..
" Deril mulai meneliti satu per-satu jam yang terpajang.
Kemudian seorang pelayan menyapa kami. Ia tampak
tersenyum
ramah.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? Nona?" Sapanya. "Pesanan
jam atas nama Deril Hernandez .. " "Baiklah,
tunggu sebentar." Wanita itu melenggang.
"Kau memesan jam?"
Deril mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia
mengangguk.
"Jam yang mirip dengan pemberian Renata."
Ucapnya.
Aku menatapnya tanpa berkedip, "Ke-kenapa?"
Gugupku, "Kenapa kau membeli jam yang sama?" Tambahku setengah
mencicit.
"Aku ingin dia mengingat karma-nya." Ia menghela
nafas lalu tatapannya tiba-tiba melembut.
"Apa ada jam yang kau suka?" Tanyanya.
"Hah?"
"Jam yang
kau suka, Sharon.. ” tekannya.
"Ah, tidak!" Aku menatap
ke arah lain.
Wanita itu-pelayan tadi-maksudku, ia kembali dengan membawa
kotak kecil di tangannya. Ia menyodorkannya ke arah Deril. Deril tampak
tersenyum miring lalu membukanya. Ia menunjukannya ke arahku.
Jam yang bagus,
pasti sangat mahal.
Renata sangat pintar memilih jam ini..
Pasti dia sangat mencintai Christian..
"Dulu, Renata sempat menyerahkan ini." Bisik Deril sedih,
"Tepat disaat anniversary mereka."
"Apa yang terjadi?" Cicitku.
"Pria itu hanya membukanya, karena selanjutnya selingkuhannya melemparnya begitu saja pada
Adikku." Ia menjeda ucapannya, tatapan matanya tampak terbakar
emosi, "Dan aku ingin kenangan itu kembali, aku ingin melihat dia
mendapatkan Karmanya." Geramnya.
TBC
__ADS_1