Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 36


__ADS_3

Sharon menggeleng-gelengkan


kepalanya. "Apa yang kau bicarakan?" Gadis itu


berpura-pura tak tahu.


 


"Oh dios! Pria


itu! Pria bermata hijau bening. Dia tampan sekali Shar! Ku dengar dia kakak Verline." Sorak Paula heboh.


"Err.. Ya. Dia memang kakak


Verline."


"Dan  kekasihmu?"   Paula   menambahkan   seketika membuat Sharon merona.


Hm..


Tiba-tiba ia menyentuh pipinya tanpa sadar. Deril menciumnya


disana. Rasa hangat mulai menjalar di hatinya.


Kupu-kupu itu mengepalkan sayapnya di sekitar perutnya.


Ia tak


pernah merasakan ini dengan Christian?


"Hei,


benarkan?" Goda Paula, "Aku juga melihat dia menciummu."


"Diam


Paula." Sharon mendesis, namun senyum tak hilang dari bibirnya.


"Kau benar-benar beruntung!"


Sharon semakin merona.


 


beruntung?


Tapi itu hanyalah sandiwara!


"Ah dan ya! Kau semakin cantik dari hari ke hari! Perubahan, eh?" Kekeh Paula kembali menggoda Sharon.


"Err.. sepertinya aku


harus segera ke asrama." Gadis


itu segera melenggang.


Sharon melangkah tergesa menjauhi Paula. Gadis itu benar-benar tak tahan dengan godaannya. Ketika ia sedang melangkah


tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Ia hampir saja terjatuh jika


orang itu tak memeluk pinggangnya.


Sharon segera menjauh ketika dirinya

__ADS_1


kembali ke alam nyata. Pria itu.. Christian.


Gadis itu menegak


saliva-nya dengan gugup. Lalu tersenyum kaku.


"Kau


baik-baik saja?" Tanya Christian khawatir. Sharon


mengangguk, "A-ku-tentu.. "


Christian  tersenyum  tipis,  "lain   kali   perhatikan jalanmu, Hermos!" Kekehnya lalu ia menjauh. (Cantik)


Sharon menatap kepergian pria itu dengan


senyum di bibirnya. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.


***


SHARON'S POV


Aku menatap buku di hadapanku dengan


kemyitan di dahiku. Pelajaran ini,


kenapa sulit sekali? Dari dulu otakku tak dapat menerima pelajaran tentang


akutansi. Entah kenapa, responnya selalu


menolak. Mungkin karena aku tak mempelajarinya dengan baik, atau..


Aku menggeram pelan dan melempar tubuhku


langit-langit kamarku dengan iris


cokelatku. Suara pintu terbuka membuatku menoleh seketika. Dari ambang pintu kamar mandi, tampak Deril mendekat seraya


mengusap rambut basahnya. Ia telah mengenakan pakaian lengkap.


Ia duduk di atas ranjangnya. Aku bangkit dan menatapnya.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya seraya terkekeh. "Ada


yang lucu?" Ujarku ketus.


 


Ia mengulum senyumnya, "Akutansi, eh?"


Ia mendekat ke arah meja belajarku dan menatap bukuku. Aku


hanya mengangguk menjawab ucapannya.


"Mudah..


" gumamnya. Ia mulai mencoret-coret


bukuku.


Aku menatapnya dengan kening berkerut. Apa yang


ia lakukan?

__ADS_1


"Apa yang kau laku--"


"Selesai." Ia melempar bukuku tepat ke


hadapanku. Aku meraihnya. Mataku sedikit membelalak tak percaya. la mengisi semua soalnya...


"Terims--"


la memotong ucapanku dengan cepat,


"seharusnya kau lebih banyak belajar." Ia melangkah keluar balkon kamar


asrama. Aku mengikutinya.


"Hei! Mau apa kau disana? Bagaimana jika ada yang melihatmu?" Teriakku tertahan.


Deril hanya membalas ucapanku dengan kekehannya, "malam begini, siapa


yang akan bangun jam segini? Seharusnya kau tidur." Tangan kekamya mengacak


 


rambutku    dengan     pelan.      Aku     menatap     mata     hijau beningnya.


"Aku hanya sedikit ada tugas sekolah." Aku duduk di lantai dan ia mengikutiku.


"Bagaimana   hubunganmu    dengan  Christian?"   la mengalihkan


topik pembicaraan.


Aku tersenyum masam, "Dia mulai sedikit berbeda." "Maksudmu?"


"Dia


selalu memanggilku dengan sebutan Nadine..



suaraku memelan


ketika kata 'nadine' terucap dari bibirku.


Deril


tampak terdiam. Bibirnya terkatup rapat. la bergeming.


Aku menatap perubahan raut wajahnya dengan sedikit takut, "selan-jutnya, a-apa yang harus aku lakukan?"


"Ikuti permainannya. Ketika ia mengencanimu, terima saja dia. Tapi ingat, kau jangan membawa


perasaanmu." Jelasnya dengan suara datar."Tapi


bagaimana, kau telah mengakuiku sebagai kekasihmu." Bisikku pelan.


 


"Aku akan


mengatur alur skenario ini." Ia terkekeh.


"Aku khawatir, topengmu diketahui oleh orang lain." Aku mendesah.


"Kau tenang saja. Mulai besok, aku akan menjadi diriku kembali. Tak akan ada Verline lagi. Dia akan keluar dari sekolah ini." Jelasnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2