
Sharon menggeleng-gelengkan
kepalanya. "Apa yang kau bicarakan?" Gadis itu
berpura-pura tak tahu.
"Oh dios! Pria
itu! Pria bermata hijau bening. Dia tampan sekali Shar! Ku dengar dia kakak Verline." Sorak Paula heboh.
"Err.. Ya. Dia memang kakak
Verline."
"Dan kekasihmu?" Paula menambahkan seketika membuat Sharon merona.
Hm..
Tiba-tiba ia menyentuh pipinya tanpa sadar. Deril menciumnya
disana. Rasa hangat mulai menjalar di hatinya.
Kupu-kupu itu mengepalkan sayapnya di sekitar perutnya.
Ia tak
pernah merasakan ini dengan Christian?
"Hei,
benarkan?" Goda Paula, "Aku juga melihat dia menciummu."
"Diam
Paula." Sharon mendesis, namun senyum tak hilang dari bibirnya.
"Kau benar-benar beruntung!"
Sharon semakin merona.
beruntung?
Tapi itu hanyalah sandiwara!
"Ah dan ya! Kau semakin cantik dari hari ke hari! Perubahan, eh?" Kekeh Paula kembali menggoda Sharon.
"Err.. sepertinya aku
harus segera ke asrama." Gadis
itu segera melenggang.
Sharon melangkah tergesa menjauhi Paula. Gadis itu benar-benar tak tahan dengan godaannya. Ketika ia sedang melangkah
tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. Ia hampir saja terjatuh jika
orang itu tak memeluk pinggangnya.
Sharon segera menjauh ketika dirinya
__ADS_1
kembali ke alam nyata. Pria itu.. Christian.
Gadis itu menegak
saliva-nya dengan gugup. Lalu tersenyum kaku.
"Kau
baik-baik saja?" Tanya Christian khawatir. Sharon
mengangguk, "A-ku-tentu.. "
Christian tersenyum tipis, "lain kali perhatikan jalanmu, Hermos!" Kekehnya lalu ia menjauh. (Cantik)
Sharon menatap kepergian pria itu dengan
senyum di bibirnya. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.
***
SHARON'S POV
Aku menatap buku di hadapanku dengan
kemyitan di dahiku. Pelajaran ini,
kenapa sulit sekali? Dari dulu otakku tak dapat menerima pelajaran tentang
akutansi. Entah kenapa, responnya selalu
menolak. Mungkin karena aku tak mempelajarinya dengan baik, atau..
Aku menggeram pelan dan melempar tubuhku
langit-langit kamarku dengan iris
cokelatku. Suara pintu terbuka membuatku menoleh seketika. Dari ambang pintu kamar mandi, tampak Deril mendekat seraya
mengusap rambut basahnya. Ia telah mengenakan pakaian lengkap.
Ia duduk di atas ranjangnya. Aku bangkit dan menatapnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya seraya terkekeh. "Ada
yang lucu?" Ujarku ketus.
Ia mengulum senyumnya, "Akutansi, eh?"
Ia mendekat ke arah meja belajarku dan menatap bukuku. Aku
hanya mengangguk menjawab ucapannya.
"Mudah..
" gumamnya. Ia mulai mencoret-coret
bukuku.
Aku menatapnya dengan kening berkerut. Apa yang
ia lakukan?
__ADS_1
"Apa yang kau laku--"
"Selesai." Ia melempar bukuku tepat ke
hadapanku. Aku meraihnya. Mataku sedikit membelalak tak percaya. la mengisi semua soalnya...
"Terims--"
la memotong ucapanku dengan cepat,
"seharusnya kau lebih banyak belajar." Ia melangkah keluar balkon kamar
asrama. Aku mengikutinya.
"Hei! Mau apa kau disana? Bagaimana jika ada yang melihatmu?" Teriakku tertahan.
Deril hanya membalas ucapanku dengan kekehannya, "malam begini, siapa
yang akan bangun jam segini? Seharusnya kau tidur." Tangan kekamya mengacak
rambutku dengan pelan. Aku menatap mata hijau beningnya.
"Aku hanya sedikit ada tugas sekolah." Aku duduk di lantai dan ia mengikutiku.
"Bagaimana hubunganmu dengan Christian?" la mengalihkan
topik pembicaraan.
Aku tersenyum masam, "Dia mulai sedikit berbeda." "Maksudmu?"
"Dia
selalu memanggilku dengan sebutan Nadine..
”
suaraku memelan
ketika kata 'nadine' terucap dari bibirku.
Deril
tampak terdiam. Bibirnya terkatup rapat. la bergeming.
Aku menatap perubahan raut wajahnya dengan sedikit takut, "selan-jutnya, a-apa yang harus aku lakukan?"
"Ikuti permainannya. Ketika ia mengencanimu, terima saja dia. Tapi ingat, kau jangan membawa
perasaanmu." Jelasnya dengan suara datar."Tapi
bagaimana, kau telah mengakuiku sebagai kekasihmu." Bisikku pelan.
"Aku akan
mengatur alur skenario ini." Ia terkekeh.
"Aku khawatir, topengmu diketahui oleh orang lain." Aku mendesah.
"Kau tenang saja. Mulai besok, aku akan menjadi diriku kembali. Tak akan ada Verline lagi. Dia akan keluar dari sekolah ini." Jelasnya.
__ADS_1
TBC