
Sosok Deril-lah yang telah merubah kehidupannya. Pria itu
membantunya dalam segala hal, dan pria itu menginginkan imbalan.
Deril
Hernandez, pria itu ingin agar aku menghancurkan Christian.
Sharon menghela nafas. Akhir-akhir ini, dia dan Christian mulai cukup dekat. Tapi rasanya ada yang aneh. Ia tak pernah merasakan jantung
berdetak kencang ataupun merasa terpesona.
Apakah
Deril benar? Bahwa ta hanya kagum pada Christian?
Sudah dua minggu ini sejak kepergian
Deril, Sharon merasa kesepian setiap malam. Bukan kesepian karena apa-apa,
kesepian karena tak ada yang mengajaknya berbicara.
Deril sama sekali tak menghubunginya.
Beberapa kali Sharon mengirimkan pesan singkat pada
pria itu, tapi Deril tak membalasnya. Sharon mendesah frustasi.
Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Ia bingung perasaan apa ini. Rasanya seperti rindu.
Rindu? Apakah benar ia merindukan pria itu?
Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Besok adalah liburan akhir pekan. Sekolah mengijinkan para
siswa-siswi untuk berlibur. Sekedar bertemu dengan orang tua mereka selama
satu minggu. Lalu setelah itu, mereka kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
__ADS_1
Sharon bingung, apa yang harus ia lakukan. Ia bisa saja memakai kartu debit milik Deril untuk keperluannya,
namun sepertinya.. untuk berpergian menemui orang tuanya.
Ia tak yakin.
Tapi, ia sangat merindukan kedua orang tuanya yang berada di Tegucigalpa. Ia ingin
sekali bertemu dengan mereka.
Sharon menghela nafas resah. Ia mulai memilih-milih pakaian mana saja yang akan ia bawa untuk pergi liburan. Tiba-tiba ia teringat pada ajakan Christian. Pria itu
mengajaknya untuk liburan bersama dengan teman- temannya.
Sharon menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak mungkin ia pergi dengan sekelompok 'manusia berkuasa'. Dan ia yakin, ada Mandy disana.
Saat ini ia tak ingin mencari masalah dengan singa betina itu. Walaupun ia tau, jika ia tak menyingkirkan Mandy.
Kecil.kemungkinan baginya untuk mendekati Christian.
Apa yang harus ta lakukan?
Dios..
Ceklek
Suara pintu kamar yang dibuka secara tiba-tiba membuatnya
berjengkit kaget. Ia menatap sosok yang mematung di ambang pintu. Sosok itu
hendak masuk.
Seketika hatinya terasa lega. Baru saja ia berkutat dengan
dewi dalam batinnya memikirkan sosok itu. Dan sekarang sosok itu ada di
__ADS_1
hadapannya.
Deril tampan menunjukan senyum tipisnya dan mendekat ke arah Sharon. Pria itu menyimpan paper bag di atas nakas dan tiba-tiba saja
memeluk Sharon.
Sharon hanya dapat tertegun. Gadis itu tersenyum lebar lalu
membalas pelukan pria itu dengan ragu.
"Hat.."
sapa pria itu setelah melepas pelukannya.
"¿como estas?" (Apa kabar?) Tanyanya lembut seraya menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Sharon.
"Baik, bagaimana denganmu?" Gadis itu menjawab
dengan gugup.
"Baik, namun ada sedikit yang kurang tak melihat
wajahmu Sharon." Bisiknya.
Sharon menatap mata hijau bening itu. Tatapannya tampak
begitu lembut. Apa yang pria itu katakan tadi?
"Kemana kau selama ini?" Sharon setengah berbisik. Entah apa yang merasukinya hingga berani bertanya seperti itu. Seakan-akan ia adalah kekasih wanita yang di tinggal kekasihnya cukup lama.
"Pekerjaanku banyak." Deril mendengus pelan lalu ia
terkekeh, "Kenapa? Apa kau merindukanku?" Pria itu melangkah meraih paper bag, menyimpannya di atas
pangkuannya. Lalu ia mengajak Sharon untuk duduk di balkon kamar. Mereka
sama-sama menatap langit.
__ADS_1
TBC