
Ya tuhan.. demi apapun maafkan dia, Sharon tak pernah
berkata kasar sekalipun. Batinnya mengutuk.
"******." Bisik Sharon
sinis. "Dasar kau--"
"Berhenti!" Teriak seseorang seketika membuat
Mandy menghentikan ucapannya.
"Christian?!"
Sontak gadis itu menganga.
"Christian tolong aku Christian! Dia menjambak
rambutku." Mandy mulai terisak. Ia sedang berusaha mencari muka di hadapan pria itu. Namun Christian telah mengetahuinya,
pria itu hanya terdiam menatap Mandy dengan tajam.
"Berhenti Mandy! Tidakkah cukup bagimu mengacaukan keadaan? Apakah hukuman Mrs.Huggens kurang
memuaskanmu? Lalu kau ingin apa? Kau ingin sekolah men-drop-out mu?"
"A-apa? Apa yang kau katakan Christian?!" Mandy
mengusap air matanya dengan kasar.
Sungguh disini-mereka semua menonton
dirinya. la merasa sangat di permalukan.
Kenapa kekasihnya? Ada apa dengan Christian?!
"Lebih baik kita pergi,
Sharon." Pria itu pergi bersama Sharon tanpa menghiraukan pandangan
membunuh dari Mandy.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Christian ketika mereka telah
sama-sama berada di kantin sekolah.
Sharon menegak saliva-nya dengan susah payah.
Baik-baik saja?
Ia sama sekali tidak baik! Bohong jika ia baik-baik
saja?! Sekarang ia mulai merasa khawatir dengan kelanjutan
__ADS_1
skenario gilanya.
Gadis itu-Mandy-dia pasti akan semakin gila padanya.
Seharusnya tadi Sharon tak perlu menjadi jagoan' membentak si-singa-betina. Seharusnya ia memikirkan
resikonya.
Bodoh kan, Sharon! "Sharon?" Sentak Christian. "Eh?
I-iya?!"
"Kau
baik-baik saja kan?"
"Err... ya, aku baik-baik saja." Bibir
gadis itu mencoba menyunggingkan
senyuman tipis.
"Apa yang Mandy lakukan sebenarnya?" Christian
tampak menatapnya dengan khawatir.
"Dia-Seharusnya kau membelanya Christian, astaga!"
Sharon berseru.
"Sudahlah, sebenarnya apa yang terjadi?"
tikus di dalam lokerku. Tapi kau tak perlu cemas, aku sudah membuangnya."
"Dios, gadis itu memang
keterlaluan." Geramnya. "Tapi dia
kekasihmu bukan? Bagaimanapun juga--"
"Dia bukan kekasihku Sharon. Aku tak
mencintainya." Christian
menghela nafas lelah.
Sharon hanya terdiam.
Tak mencintainya? Lalu bagaimana ini?
Dahi gadis itu mengernyit, ia benar-benar bingung sekarang.
"Err.. Christian sepertinya aku harus segera
pergi." Gadis itu melangkah menjauh tanpa mendengarkan Christian yang
__ADS_1
memanggil namanya.
Christian tampak menghela
nafas. Bagaimana
caranya
mendapatkan perasaan gadis itu?
Apakah ia harus merebut gadis itu dari Deril Hernandez?
Rasanya begitu aneh. Dulu Sharon adalah gadis yang cupu tanpa gaya, namun sekarang gadis itu berbeda. Ktan hari, gayanya semakin modis. Ia seperti gadis kaya
kebanyakan, memakai lipgloss, rambut yang ditata. Perubahan
ini terlihat, tepatnya setelah Verline hadir di sisinya.
Ah.. Verline. Christian mendesah, gadis bertubuh tinggi
itu. Sekarang ia tak menyukainya lagi. Sekarang yang ia inginkan hanya
Sharon...
Sharon Gabriella Dos Santos..
Sharon menyimpan tasnya di atas nakas. Gadis itu membanting
tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Mata cokelatnya melirik ranjang yang
bersebelahan dengan ranjangnya.
Tiba-tiba bibirnya
menyunggingkan senyuman kecut.
Deril..
Satu hari..
Tepatnya baru satu hari ini ia tak bersama Deril. Pria itu kembali pada kehidupannya.
Biasanya sosok tampan itu akan bersandar di dinding, duduk
dengan laptop di pangkuannya. Hampir setiap malam Sharon melihatnya.
Sampai saat ini Sharon tak menyangka, Sosok Verline ternyata adalah Deril. Sharon
bangkit, gadis itu menatap bayangan dirinya di cermin.
"Hei cantik siapa namamu?" Ia berucap. Berbicara
pada bayangan dirinya di cermin. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecut.
Tak ada kaca mata, tak ada wajah kusam, tak ada rambut
__ADS_1
usang, tak ada sosoknya yang amat tampak 'tak pantas'. Sekarang hanyalah ada
sosoknya yang begitu cantik. Dengan mata cerah, rambut ombre tatanan salon mahal, kuku pedicure, kulit eksotis yang tampak halus.