
”Hei kau!” Pang gil Deril membuat Paula memegang
seketika.
”Kan akan
menyesal jika mengatakan apa yang kau lihat.” Ancam pria itu. Paula tak
menggubrisnya, ia memilih untuk
melangkah menjauh sesegera mungkin.
Dan mulai saat itu, semua teka-teki itu akhirnya terpecahkan. Deril Hernandez sendiri yang menceritakan semuanya
ketika Paula menemui pria itu. Pria itu tak mengancam apapun, tapi satu hal
yang membuat Paula benar-benar terpojok.
Perusahaan Ayahnya berada dalam kekuasaan Deril
Hernandez..
Dengan berat hati Paula kembali memotret sosok Sharon
dan Christian. Setelah itu, ia segera melangkah menjauh.
Sharon menerima uluran tangan Christian ketika mereka
sama-sama telah berada di restoran. Pria itu tersenyum lebar ke arahnya, namun
Sharon hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Restoran itu tak kalah mewah dengan restoran yang pernah mereka kunjungi untuk
kencan yang gagal. Dengan nuansa yang klasik, namun tetap terlihat mewah. Restoran ini begitu
cocok bagi pasangan yang akan melangsungkan kencan mereka.
"Apakah kau menyukainya?" Tanya Christian ketika mereka telah selesai menyantap
makanan mereka.
Sharon mengulum senyum lalu mengangguk.
"Nuansa yang indah." Ucap gadis itu.
Christian meraih jemari gadis itu ke dalam genggamannya.
"Sharon, aku tak tau apakah aku
__ADS_1
pantas untukmu atau tidak. Tapi yang jelas, aku benar-benar tulus padamu."
Sharon menatap pria itu dengan
sedih.
Seandainya..
Seandainya Deril yang menatapnya penuh cinta sekarang,
seandainya Deril yang mengamit jemarinya, seandainya Deril yang mengatakan hal
itu, pasti ia akan merasa sangat senang.
Sebulir kristal bening membasahi pipi
mulusnya.
Christian menghapusnya dengan lembut.
"Hei, kenapa?" Bisiknya seraya menatap Sharon
dengan lembut.
"Aku terharu, kau begitu manis." Kekeh Sharon.
Aku sedih..
Kenapa
Kenapa
kau Christian?
"Jadi.. " Christian tersenyum.
Ah.. alangkah bahagianya jika gadis lain
yang mendapatkan senyuman manis itu. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Sharon.
"Jadi?"
Sharon mengulang ucapan pria itu.
"Apakah
kau mau menjadi kekasihku?" Ujar pria itu.
Sharon mengangguk dengan mantap. Raganya memang menunjukan bahwa ia benar-benar mantap, namun
__ADS_1
hatinya?
Christian membawa Sharon ke dalam dekapannya. Seketika
Tangis Sharon pecah. la terisak dalam pelukan Christian. Tanpa canggung, Sharon
membalas pelukan pria itu dengan erat.
"Ssh.. kau
tak perlu menangis."
"Aku terlalu bahagia, Christian.. " Sharon melepas pelukannya. la menatap Christian dengan nanar.
Christian menangkup wajah gadis itu. Di ciumnya kening Sharon dengan lembut. Lalu
selanjutnya ciumannya turun ke bibir gadis itu. Sharon menegang seketika. la belum
siap melakukannya. Namun ternyata,
Christian hanya mengecup bibirnya sekejap. Sharon mendesah lega dalam hati.
"Aku mencintaimu, Sharon.. " pria itu kembali
memeluknya.
Sharon tersenyum walau hatinya pedih.
Deril mengacak rambutnya dengan kesal ketika memandang foto
yang di kirimkan oleh Paula. Sosok Christian yang tampak tengah mencium kening
Sharon benar-benar membuat Deril membara.
Ia benar-benar merasakan panas di hatinya. Deril merobek
foto tersebut dengan geram. Di lemparnya seluruh robekkan kecil itu
ke lantai.
Sialan kau
Derevano! Lihat saja nanti!
Deril meraih kunci mobilnya. Pria itu segera melangkah keluar dari ruangannya. Di liriknya arlojinya, waktu telah menunjukan pukul 4 sore.
Pria itu melangkah tergesa menuju parkiran. Ketika ia telah sampai di hadapan mobilnya, Deril segera masuk dan menyalakan mesin.
__ADS_1
Mobil Lamborghini miliknya pun melaju menjauhi perusahaan.