
Verline melangkah lebih dulu memasukki mobilnya. Sharon mengekorinya.
Lalu mobil yang mereka tumpangi menjauhi plaza mayor.
***
Sharon menyimpan tasnya di atas nakas, seperti biasa. Nakas yang ia milikki cukup lebar. Ia menguap beberapa kali, ia benar-benar lelah sekaligus mengantuk. Verline tampak melangkah keluar dari kamar mandi. Gadis itu mungkin baru selesai mandi' pikir Sharon.
Sharon pun terlelap. Lagi-lagi Verline tertarik untuk mengamati wajah gadis itu.
Cantik pikimya.
Keesokan harinya.. Verline sama sekali tak pergi ke kantin sekolah. Gadis itu memilih mengikuti Sharon, namun semuanya terhenti karena Christian.
Oh sial..
"Hai Ver!" Sapa Christian, Manis seperti biasa.
"Hai!" Verline tersenyum kaku. Gadis itu terus melangkah mundur, Christian terus melangkah maju menutup jarak di antara mereka.
"Bisakah kau menjauh?!" Ujar Verline. "Oh ayolah.. one kiss!"
Verline menganga, ia masih normal!
Ia mengangkat tangannya, dilayangkannya tamparan ke wajah pria itu.
Plakk!
Christian meringis, ia menatap Verline dengan tajam. Ia mengusap wajahnya beberapa kali. Tamparan gadis itu benar-benar menyakitkan. "Jangan pernah menampakkan batang hidungmu di hadapanku!" Verline melangkah
menjauh dengan gaya anggunnya.
Christian menggeram.
__ADS_1
Verline menatap sekitarnya. Sialan! Ia kehilangan jejak Sharon. Kemana gadis itu pergi?!
Ia terus melangkah menyusuri koridor. Hingga pada akhirnya, ia menemukan sosok Sharon yang tampak tengah memasukkan cokelatnya ke dalam loker milik Christian.
Verline tersenyum lebar, "Sharon!" Panggilnya. Seketika Sharon menganga. Ia tergagap berusaha untuk
menjauh. Namun semuanya terlambat, Verline telah berada di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan Sharon!" Seru Verline. Sharon tergagap, salivanya kering seketika, semuanya terasa begitu cepat. Dan... apakah Verline
melihat semuanya?
Sharon menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap Verline dengan horor. Sedangkan Verline, batinnya tampak
tersenyum puas.
Kena kau, Miss!
Damn, Sharon!
"A-ahh-kuh..." gugup gadis itu.
"Dengan loker Christian?" Verline mengangkat halisnya yang tebal dengan sapuan eyebrow.
"A-akku.. aku hanya kebetulan lewat!" Gadis itu mencoba untuk berdalih.
"Oh.. ; Dios! (Tuhan) apa aku sebodoh itu?" "Maksudmu apa?" Sharon menatap gadis itu hati-hati. Ya tuhan.. bagaimana ini?!
"Aku melihat semuanya. Ketika kau memasukkan cokelatmu ke dalam loker Christian, ketika kau membuat quotes dengan bahasa Spanyol, ketik—"
"Hentikan!" Sharon mengangkat tangannya, "Kumohon jangan beritahu ini pada Christian! Dia bisa membenciku." Lirihnya.
__ADS_1
Verline tersenyum licik, "Aku tak akan mengatakannya."
"Benarkah?!" Sharon tampak berbinar-binar.
"¡Gracias!" (Terima kasih)
"Benar .." lagi, Verline tersenyum licik.
Semuanya benar-benar mempermudah rencananya. "Kau tidak perlu khawatir, Sharon. Semuanya akan baik- baik saja."
"Kumohon Verline..."
"Hei? Kenapa kau begitu takut? Aku tak akan mengatakannya, aku janji!" Verline menepuk bahu gadis itu.
"Aku benar-benar takut. Kau bisa saja mengatakannya pada Christian, suatu saat jika kita bermusuhan."
"Oh ayolah.. kita bukan anak kecil lagi bukan?"
Mereka melangkah beriringan. Sharon mengalihkan pandangannya. Kemanapun asalkan tak menatap Verline.
"Err.. ” Sharon menelan saliva-nya. "Apa kau benar-benar menyukainya?" "Eh?!"
"Ya, aku tanya Sharon. Apa kau benar-benar menyukainya?"
"Entah.. aku tak pantas menyukainya." Gumamnya pelan.
"Kenapa tidak?"
"Kau tau. Dia tampan, pintar, anak basket, Kaya, sedangkan aku?" Sharon mendesah, "Kau lihat aku? Apa
yang harus aku banggakan dari diriku. Oh ya tuhan.. kenapa aku mengumbar kisah padamu?!" Sharon terkekeh.
__ADS_1
TBC