
Gadis itu menarik handle
pintu, namun terasa sulit. "Ada yang kau sembunyikan?" Paula
tersenyum nakal.
"Tidak! Tidak ada!"
"Aku tak percaya." Paula berucap setengah berteriak,
"Hei.. apakah ada orang di dalam?!" Teriaknya.
Sharon merutuki dirinya. Ia berdo'a dalam dewi
batinnya.Lelah
karena pintu tak terbuka juga, akhirnya Paula
menyerah.
"Okay... baiklah. Aku harus segera pergi sepertinya," Paula
menjauh, ";Adios! Sharon!"
(Selamat tinggal)
Sharon menghela nafas lega. Ia mengunci pintu kamarnya
rapat-rapat. Lalu di ketuknya pintu kamar mandi.
Deril tampak menampakkan batang hidungnya dari sana.
"Siapa tadi?" Tanyanya. "Paula."
"Dios, dia gila menarik pintu begitu kuatnya." (Tuhan) desah Deril seraya
mengusap jari-jarinya yang pegal.
Sharon terkekeh.
Deril menatap wallpaper Renata di layar ponselnya. Pria itu tersenyum masam. Sharon yang sedari tadi melihat Deril terdiam mengalihkan pandangannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Sharon.
__ADS_1
Deril memaksakan sebuah senyuman, "Ya."
Sharon menghela nafas lalu mengikat rambutnya. Deril menarik
ikatan rambut gadis itu hingga rambut Sharon kembali tergerai.
"Jangan diikat.""Kenapa?" Sharon mengernyit.
"Ti-tidak! Tidak apa-apa. Jangan diikat saja."
Deril tergagap. Ia tersenyum ketika Sharon
memilih menyimpan ikat rambutnya.
"Apakah Christian akan melirikku?" Sharon
meneteskan sesuatu ke matanya.
Deril mengangguk, "Aku yakin dia akan terpikat dengan cepat." Pria itu menjeda ucapannya, "Oh iya.. aku akan memesan beberapa alat penata rambut untuk rambutmu."
"Untuk apa?"
"Agar rambutmu terlihat lebih rapi." Deril memutar
"Oh. Aku tidak bisa memakainya." Sharon meraih
tasnya.
"Dan Tasmu, aku akan membelikan tas baru untukmu. Kau harus lebih mengenal gaya." Deril mengetik sesuatu di ponselnya.
Sharon mendengus, "Terserah.. ”
Ia bangkit melangkah menjauhi kamarnya, "Kau tidak pergi sekolah?" Gadis itu menunjukkan wajahnya di balik pintu.
"Aku harus pergi ke kantor. Ada hal yang harus kuurus
di sana." Deril tetap fokus pada ponselnya.
"Baiklah, selamat berjuang! Semoga Mrs.Huggens
tak menangkapmu." Gadis itu terkekeh lalu menjauh. Deril
menjauhkan ponselnya dari tangannya. la
__ADS_1
menatap pintu dimana Sharon menghilang. Tanpa sadar pria itu tersenyum.
***
SHARON'S POV
Aku melirik ke arah Christian yang tampak tengah fokus mencatat sesuatu di bukunya. Aku mengusap
kedua telapak tanganku di bawah meja.
Ayo Sharon.. ajak dia bicara.
Saat ini aku dan Christian sedang mengerjakan tugas kelompok
kami. Sungguh Sangat kebetulan aku, Christian, dan Verline satu
kelompok. Kami hanya mengerjakan tugas berdua karena Ver-maksudku-Deril tak dapat masuk hari ini. Dia bilang ada tugas mendadak dari kantomya.
Aku merasa ini semua mimpi. Gadis yang selama ini satu kamar denganku-yang aku tau
seorang wanita- ternyata seorang pria yang begitu tampan. Ku akui Deril
berlipat-lipat lebih tampan dari Christian. Oh? Kenapa aku?
Aku menggeleng-gelengkan
kepalaku. Sepertinya aku mulai tidak fokus. Tujuanku saat
ini adalah mendekati Christian, benar bukan?
Aku harus bisa mendapatkan hatinya lalu selanjutnya apa yang
harus ku lakukan?
Sepertinya menunggu Deril bertindak. Aku sangat tak yakin dengan Deril. Pria itu begitu membenci Christian, dan di lain sisi aku tak menyangka dengan Christian. Apakah dia se-bejad itu mempermainkan
perasaan adik Deril?
Sejujurnya aku bingung dengan keputusan mana yang harus ku pilih. Memilih mengejar Christian atau menghancurkannya? Tapi, aku berhutang banyak pada Deril dan aku juga tak tega melihatnya terpuruk. Aku pun pernah merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan orang yang kita
sayangi tentulah sangat menyakitkan.
__ADS_1
TBC