
”Okay, untuk hari ini cukup sampai disini. Sampai
bertemu minggu depan, Class.” Ucapan
Ms.Anne membuyarkan lamunanku.
Aku segera
bergegas bangkit. Meraih tasku dan
melangkah keluar.
Ketika aku tengah hendak melangkah,
Christian telah mematung di hadapanku. Ia tersenyum dengan khasnya. Aku melangkah lebih awal, aku tau apa yang ia inginkan.
terus melangkah dalam keheningan. Menyusurí lorong sekolah. Sejak 3 tahun terakhir, aku tak
pernah menyusuri lorong sekolah dengan seorang pria. Hanya kali ini."Jadi?" Tanya
Christian ketika keheningan terasa cukup lama menyelimuti kami.
”Em.. " aku bergumam sejenak, Apa keputusanku sudah tepat? "Katakanlah."
Ujarnya.
Aku mengangguk pelan, "Kapan kau akan mengajakku
berkencan?"
"Jadi, kau menerimaku?" Tanyanya antusias.
Aku mengangguk seraya mengulum senyum. Christian tampak begitu berbinar. la menatapku dengan senyum yang begitu merekah.
"Malam ini." la mengangguk tegas.
"Tentu." Aku mengangguk senang, walau sebenarnya aku tak ingin.
Aku tengah mematut diriku di cermin ketika ponselku berdering.
Ku lirik nama yang tertera disana.
Christian..
Aku menghela nafas dan menggeser tombol hijau di layar i-Phone-ku. Ku tegak saliva-ku dengan susah payah untuk menetralkan suaraku.
"Halo?"
"Hai?
__ADS_1
Aku sudah menunggu di gerbang. Cepatlah!" "Ba-baik,
aku segera kesana." Aku tergagap.
Ku tutup telfon dengan segera. Aku kembali menatap bayangan
diriku di cermin. Lagi-lagi aku hanya dapat menghela
nafas. Dandananku malam ini tidak terlalu buruk, bukan itu.. tapi, perasaanku yang tak menentu.
Apa keputusan yang aku ambil telah tepat?
Aku kembali bertanya kepada diriku
sendiri. Ku lirik jam yang menempel di dinding. Waktu telah menunjukan pukul 7 malam.
Para penghuni asrama tidak diizinkan untuk pergi keluar di
malam hari. Penjagaan disini cukup ketat. Para gadis tidak diizinkan pergi
keluar kecuali malam ini, tepatnya malam jum'at.
Biasanya mereka
berkencan dengan kekasih mereka.
Christian mengajakku berkencan.
Aku segera melangkah keluar dari kamarku. Ku lirik layar
ponselku, berharap Deril mengirimkan pesan padaku. Tapi, seharian ini. Ia sama sekali tak ada kabar.
Aku menggelengkan kepalaku, mencoba mengenyahkan dia dari fikiranku. Seharusnya aku bahagia sekarang, aku akan berkencan dengan sosok yang selama
ini aku kagumi.
Christian Derevano..
Christian membawaku ke sebuah restoran yang sangat mewah.
Desain yang tak pernah kulihat
sebelumnya, karena selama ini aku hanya mengunjungi
kedai-kedai biasa.
Dewi dalam batinku tak henti-hentinya berdecak kagum melihat suasana restoran yang wan. Aku tak dapat menjelaskan sedalam mana kocek yang
harus di rogoh oleh pria di sampingku.
__ADS_1
la terlalu kaya..
Kami duduk berhadapan di sebuah kursi yang khusus.
Lilin beraroma mawar terasa menyengat dalam indra penciumanku. Musik yang
mengalun.. mereka- dekorasi ini-tampak
romantis.
Bagi mereka-mungkin-mereka akan bahagia atau berbinar jika
mendapatkan kejutan kencan seperti ini. Tapi, tidak denganku. Aku sama sekali
tak merasakan bahagia atau terkejut. Yang aku rasakan hanya, gundah..
Bibirku sama sekali tak tertarik untuk tersenyum ketika
pelayan itu menghidangkan makanan. Aku terlalu hanyut dengan fikiranku sendiri.
Hanyut dalam fîkiranku tentang Deril..
Aku menatap layar ponselku, berharap pria
bermata hijau itu menghubungiku. Namun kenyataannya, pria itu
sama sekali tak ada. Ia sama sekali tak menghubungiku.
"Ekhem.. " dehaman Christian membuatku
segera kembali ke dalam kenyataan, kenyataan bahwa aku berkencan
dengannya...
Aku meremas jariku di bawah sana. Minatku untuk menyentuh
makanan di hadapanku sangat sedikit. Aku sama sekali tak bergairah.
__ADS_1