
Sharon meraih cincin yang pertama. Gadis itu melirik ke dalam lingkaran itu. Disana terdapat nama Deril.
Deril?
Ia
meraih cincin yang lainnya. Cincin bermodel untuk seorang pria. Sharon..
Sharon
menutup mulutnya. Ia menatap Paula dengan pandangan bertanya. Paula hanya
mengangguk mantap.
"Sepertinya dia ingin kau menjadi tunangannya."
"Tapi,
dia membunuh--" "Bukan Deril pelakunya." "Bagaimana kau bisa tahu?"
Paula menghela nafas, ia tertunduk. "Maafkan aku Sharon. Aku telah mengetahui semuanya. Perihal
Verline dan Deril. Aku telah mengetahuinya."
"Paula, kau--" Sharon tak
melanjutkan ucapannya.
Gadis itu memilih untuk mendesah.
"Aku bekerja sama dengan Deril... " dan mulailah
Paula bercerita panjang lebar. Gadis itu menjelaskan semuanya. Ia menjelaskan
pada Sharon bahwa ia telah bekerja sama dengan Deril.
"Maafkan aku, Sharon. Bukan aku bermaksud
menghianatimu, tapi aku juga ingin kalian bersama. Deril mencintaimu." Paula meringis pelan.
"Jika dia mencintaiku, dia tak
akan melepasku."
"Itu karena dia tahu bahwa kau
mencintai Christian.
Jadi dia merelakanmu. Deril ingin kau bahagia."
__ADS_1
"Dan.. siapa pelaku pembunuhan Christian? Siapa yang
menembaknya?"
Paula menarik nafas, "Mantan kekasih Mandy, dia
memilikki dendam pada Christian. Mereka telah menangkap pelakunya."
Sharon menatap kosong sepasang cincin
di tangannya.
Gadis itu kemudian mendongak menatap Paula. "Dimana
Deril?" Bisiknya.
"Dia, sepertinya dia berada di
tempat jet pribadinya." Paula menunduk resah.
"Apa?!"
"Dia memutuskan untuk kembali ke
Amerika." "Antarkan aku sekarang!" Sharon mulai kembali
berkaca-kaca.
operasi membuat mereka menoleh.
"Nona, apakah anda keluarga dari
Tuan Christian?"
Sharon sejenak tertegun lalu pada akhirnya hanya mengangguk,
"Ya, apakah dia baik-baik saja?!"
"Maaf Nona, kami telah berusaha. Namun Tuan kehilangan banyak darah. Peluru itu menembus tepat di
jantungnya." Jelas Dokter itu.
"A-apa?!" Seketika tubuh Sharon luruh ke dalam
pelukan Paula.
Ia telah pergi.. Christian telah pergi ..
Walau bagaimanapun pria itu pernah mengisi hatinya.
__ADS_1
Christian..
Entah berapa kali malam ini Sharon
meneteskan air matanya. Dan itu untuk kedua pria yang berarti baginya..
"Nona, Tuan Christian tak dapat di selamatkan."
Dokter itu menunduk.
Paula mengusap lengan Sharon. Mencoba memberikan kekuatan pada gadis itu. Namun tetap
saja, Sharon menangis sesenggukkan.
"Kau harus memilih Sharon, mulai saat ini. Siapa yang akan kau pilih. Tinggal disini bersama Christian, atau kau memilih tinggal bersama Deril?" Bisik Paula.
Sharon menatap gadis itu dengan nanar,
"Christian--" bisiknya, kemudian
ia kembali berucap, "Antarkan aku pada Deril,
sekarang!"
Paula menatap tak percaya pada Sharon.
Lalu gadis itu segera menarik
pergelangan Sharon. Mereka pun pergi bersama.
Sharon berlari dengan air mata yang terus menetes. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan tatapan bertanya orang-orang. Ia terus berlari sekuat tenaga.
Hingga ia sampai disana, di sebuah tempat begitu luas. Mata
cokelatnya menatap nanar sekitar. Ada beberapa jet disini, tapi mana yang akan Deril tumpangi? Gadis itu terus menatap bingung. Lalu tatapannya berhenti pada
sebuah jet berwarna Cokelat.
Jet itu tampak bersiap hendak menjauh dari permukaan.
Sharon membelalak. la berlari menuju jet tersebut. Air matanya semakin mengalir
deras.
Namun usahanya sia-sia. Jet itu telah menjauhi permukaan
tanah. Jet itu telah mengambang di udara. Sharon tertunduk lemas.
__ADS_1
la menangis sejadi-jadinya. Christian telah pergi, dan Deril pun pergi?
TBC