
Verline merasa iba mendengar ucapan gadis itu. Ia merasa
tak tega untuk memanfaatkan Sharon untuk kepentingannya sendiri. Tapi, ini
bukan hanya untuknya juga. Sharon juga akan mendapatkan keuntungan dengan
mendapatkan Christian.
Apakah
gadis itu akan baik-baik saja dengan Christian?
"Tak masalah, kau bisa menceritakannya jika mau."
Verline mengulum senyum.
"Tidak ... Aku tidak mau menjual cerita sedih."
Sharon tersenyum tipis.
"Apa kau membutuhkan bantuanku?" "Maksudmu?" Sharon mengernyit.
"Aku bisa membantumu mendapatkan Christian!" Usul
Verline.
"Kau harus
mendengar dari aw—"
"Aku tau!"
Verline memotong ucapan Sharon.
Sharon hanya menunduk menatap kedua tangannya yang saling
bertautan. "Tapi, dia menyukaimu bukan?" Lirih Sharon.
Ya, Christian menyukai Verline. Lihatlah tatapannya ketika Verline berada di
hadapan pria itu.
"Sayang sekali.. aku telah memilikki kekasih."
Verline terkekeh pelan. Ia sedang mencoba menjaga kekehannya agar tak terdengar
seperti seorang pria.
"Lalu bagaimana
caranya?"
__ADS_1
"Dimulai dengan mengubah penampilanmu
mungkin."
"Penampilan?"
"Mungkin hal ini terdengar klise, para gadis biasa rela mengubah penampilan demi pria yang
diincarnya,"
"Itu seperti di novel-novel?" Sharon mendengus.
"Ini bukan kisah novelmu, Sharon." Verline
mendesah, "Kau harus bisa merebut Christian dari Mandy."
"Bagaimana kau
tahu soal Mandy?!"
"Siapa yang
tidak tahu soal gadis itu? Semua orang
tahu.."
Gadis bermata hijau itu bangkit lebih awal dari bangku
mereka memutuskan untuk segera ke kelas.
"Verline?! Psst! Verline!" Panggil pria tersebut
dengan sedikit berbisik.
Verline tetap fokus pada pelajaran. Ia sangat enggan untuk menghadapi Christian. Ia
harus bisa membuat pria itu membencinya. Itu
akan lebih baik.
Hingga keempat kalinya Christian mengganggunya, Verline beranjak. Ia mengangkat tangannya. Mr.Spranger yang sedang menjelaskan teori pembelajaran pun menoleh
ke arahnya.
”¿Puedo quedarme con Súarort?”(bisakah aku duduk bersama Sharon?) Tanya Verline dengan bahasa Spanyol yang fasih.
Mr.Spranger
mengernyit, "Por que?”(kenapa?)
"No puedo concentrarme, Christian Es prisa." (Aku tidak dapat fokus, Christian mengganggu). Jelas Verline.
__ADS_1
Akhirnya Mr. Spranger mengizinkan Verline untuk duduk bersama Sharon. Sharon hanya menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Kau dapat berbicara bahasa kami-maksudku-Spanyol?"
Verline duduk lalu tersenyum, "Tentu. Aku tau Mr.Spranger
tidak dapat berbahasa inggris!"
Sharon hanya memperbaikki letak kaca matanya. Gadis itu
kembali fokus pada teori pelajaran yang diajarkan Mr.Spranger. dalam hati
Verline tersenyum senang, hmm.. lihat
Christian.
Ia menatap ke arah Christian, diangkatnya kedua jarinya
tepat di depan matanya. Lalu ia mengarahkan kedua jari tersebut ke arah
Christian yang tengah menatapnya.
Di bangku itu, sosok Christian tampak menggeram tak
senang. Gadis itu begitu sulit di
jinakkan. Apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan seketika. Tak terkecuali gadis itu.. Verline...
Setelah pelajaran Mr. Spranger selesai.
Verline dan Sharon melangkah keluar kelas bersama. Mereka harus kembali
ke asrama. Tak ada kelas lain lagi hart ini.
Verline melirik arloji di pergelangan tangannya. "Sharon, apa kau akan melakukannya mulai
sekarang?!" Tanya gadis itu.
Sharon menautkan
kedua alisnya, "Maksudmu?"
"Ayo!" Verline mengajaknya agar segera masuk ke
dalam kamar asrama. Sharon mengikuti langkah gadis itu dengan agak sedikit tergesa.
Sesampainya di kamar
Asrama, Verline mengambil beberapa benda' miliknya dari dalam laci nakas. Ia
menyimpannya di atas nakas.
TBC
__ADS_1