Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 29


__ADS_3

Mrs. Tannisa mendengus, "Pandai sekali kau mencari muka Sharon. Dan ke mana kacamatamu, tumben sekali


kau tak memakai kaca mata."


"Aku baru selesai Operasi.. " lagi Sharon hanya


berujar dengan pelan.


"Dapat uang darimana kau?! Jangan-jangan kau menjual--"


"Maaf Nyonya saya menyela ucapan anda. Apa yang ingin anda ucapkan sama sekali tidak


benar. Saya yang membayar biaya operasi lasik Sharon. Karena dia kekasih Saya."


Deril menyela. Ia sengaja menekankan kata kekasih saya.


 


Ia tampak menatap Mrs.Tannisa dengan datar. Sungguh ia tak suka dengan Mrs.Tannisa, wanita tua itu tak


memilikki attitude dalam perkataannya. Dimana letak sopan santunnya dalam berbicara?


Bukankah dia kepala asrama? Cih!


Mrs.Tannisa tampak terkejut. Ia menatap Sharon


seakan-akan berniat melahap gadis itu hidup-hidup.


"Baiklah, maaf atas ucapanku Tuan Hernandez."


"Kalau begitu kami permisi. Saya harus melihat keadaan Verline." Deril beranjak. Ia meraih jemari Sharon ke dalam genggamannya. Mrs.Tannisa hanya menggeram pelan.


Sharon menunduk dengan kaku lalu mengikuti langkah


Deril yang tergesa.


"Kenapa diam saja ketika wanita tua itu mengatakanmu seperti itu?" Bentak Deril ketika mereka sama-sama di


dalam kamar asrama.


"Aku tak bisa.. dia-aku takut dia mencabut


beasiswaku." Lirih Sharon.


 

__ADS_1


"Aku yang akan membayar semuanya!" Geram Deril. Pria itu mendudukan bokongnya di atas ranjang Verline. Ia melirik ke arah Sharon yang tampak menunduk. Gadis itu tampak ketakutan.


"Oh ayolah.. aku tak suka Mereka berbicara seperti itu Sharon. Kemarilah " ia menepuk


ruang kosong di sampingnya. Sharon mendekat lalu duduk di samping Deril.


"Dengarkan aku.. kau harus melawan apapun yang mereka


katakan, terutama jika mereka merendahkanmu seperti itu." Deril meraih dagu gadis itu membuat Sharon mendongak menatapnya.


Sharon hanya terdiam.


"Apakah   aktingku   bagus?"   Deril    terkekeh.  Ia mencoba mencairkan suasana.


Sharon menautkan kedua alisnya, "Bagaimana bisa Mrs.Tannisa percaya kau adalah Kakak


Verline?"


"Saat aku masuk ke sini, aku menceritakan semuanya pada Mrs. Tannisa." Deril


mulai membuka ceritanya,


 


"Aku mengakui diriku sebagai adik tiri dari keluarga Hemandez."


tersenyum. "Apa yang jenius?" Deril menatap


gadis itu.


"Kebohonganmu, tentu saja. Apalagi.. " gadis itu


bergumam dengan pelan.


Tiba-tiba saat mereka sedang berbincang, terdengar suara


ketukan di pintu. Sharon menatap horor ke arah pintu lalu bergantian menatap


Deril.


"Bagaimana


ini?" Bisik Sharon panik.


Deril segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci

__ADS_1


dirinya disana. Pintu semakin terdengar di ketuk.


"Sharon! Kau di dalam? Ini aku Paula!" Teriak Paula di luar sana.


Sharon segera melangkah dan membuka pintu. Ia menunjukkan


eengiran khasnya ke arah Paula.


"Sharon kau baik-baik saja?" Tanya Paula Khawatir.


Tadi saat ia lewat kesini kebetulan mendengar kekehan seorang pria.


 


"Ah


aku baik-baik saja! Kau tak perlu khawatir." Sharon tergagap.


"Benar


'kan? Tadi aku mendengar kekehan seorang pria."


Sharon menatap ke dalam kamarnya, "Ti-tidak! Tidak ada


siapa-siapa disini! Kau bergurau Paula!"


"Aku yakin." Paula menerobos masuk begitu saja. Di tatapnya seluruh isi kamar Sharon dengan jeli.


"Dimana Verline?"


"Err di-dia.. "


"Mrs.Tannisa   bilang


dia sedang sakit, jadi aku berniat menjenguknya."


"Ya-tapi.. dia sedang tidak ada disini. Dia sedang


bersama Err.."


Melihat kegugupan Sharon, Paula


menatapnya penuh selidik.


"Sharon kau tampak gugup. Ada yang salah?" Paula mengikuti arah pandangannya yang mengarah pada pintu Kamar mandi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2