
Mrs. Tannisa mendengus, "Pandai sekali kau mencari muka Sharon. Dan ke mana kacamatamu, tumben sekali
kau tak memakai kaca mata."
"Aku baru selesai Operasi.. " lagi Sharon hanya
berujar dengan pelan.
"Dapat uang darimana kau?! Jangan-jangan kau menjual--"
"Maaf Nyonya saya menyela ucapan anda. Apa yang ingin anda ucapkan sama sekali tidak
benar. Saya yang membayar biaya operasi lasik Sharon. Karena dia kekasih Saya."
Deril menyela. Ia sengaja menekankan kata kekasih saya.
Ia tampak menatap Mrs.Tannisa dengan datar. Sungguh ia tak suka dengan Mrs.Tannisa, wanita tua itu tak
memilikki attitude dalam perkataannya. Dimana letak sopan santunnya dalam berbicara?
Bukankah dia kepala asrama? Cih!
Mrs.Tannisa tampak terkejut. Ia menatap Sharon
seakan-akan berniat melahap gadis itu hidup-hidup.
"Baiklah, maaf atas ucapanku Tuan Hernandez."
"Kalau begitu kami permisi. Saya harus melihat keadaan Verline." Deril beranjak. Ia meraih jemari Sharon ke dalam genggamannya. Mrs.Tannisa hanya menggeram pelan.
Sharon menunduk dengan kaku lalu mengikuti langkah
Deril yang tergesa.
"Kenapa diam saja ketika wanita tua itu mengatakanmu seperti itu?" Bentak Deril ketika mereka sama-sama di
dalam kamar asrama.
"Aku tak bisa.. dia-aku takut dia mencabut
beasiswaku." Lirih Sharon.
__ADS_1
"Aku yang akan membayar semuanya!" Geram Deril. Pria itu mendudukan bokongnya di atas ranjang Verline. Ia melirik ke arah Sharon yang tampak menunduk. Gadis itu tampak ketakutan.
"Oh ayolah.. aku tak suka Mereka berbicara seperti itu Sharon. Kemarilah " ia menepuk
ruang kosong di sampingnya. Sharon mendekat lalu duduk di samping Deril.
"Dengarkan aku.. kau harus melawan apapun yang mereka
katakan, terutama jika mereka merendahkanmu seperti itu." Deril meraih dagu gadis itu membuat Sharon mendongak menatapnya.
Sharon hanya terdiam.
"Apakah aktingku bagus?" Deril terkekeh. Ia mencoba mencairkan suasana.
Sharon menautkan kedua alisnya, "Bagaimana bisa Mrs.Tannisa percaya kau adalah Kakak
Verline?"
"Saat aku masuk ke sini, aku menceritakan semuanya pada Mrs. Tannisa." Deril
mulai membuka ceritanya,
"Aku mengakui diriku sebagai adik tiri dari keluarga Hemandez."
tersenyum. "Apa yang jenius?" Deril menatap
gadis itu.
"Kebohonganmu, tentu saja. Apalagi.. " gadis itu
bergumam dengan pelan.
Tiba-tiba saat mereka sedang berbincang, terdengar suara
ketukan di pintu. Sharon menatap horor ke arah pintu lalu bergantian menatap
Deril.
"Bagaimana
ini?" Bisik Sharon panik.
Deril segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci
__ADS_1
dirinya disana. Pintu semakin terdengar di ketuk.
"Sharon! Kau di dalam? Ini aku Paula!" Teriak Paula di luar sana.
Sharon segera melangkah dan membuka pintu. Ia menunjukkan
eengiran khasnya ke arah Paula.
"Sharon kau baik-baik saja?" Tanya Paula Khawatir.
Tadi saat ia lewat kesini kebetulan mendengar kekehan seorang pria.
"Ah
aku baik-baik saja! Kau tak perlu khawatir." Sharon tergagap.
"Benar
'kan? Tadi aku mendengar kekehan seorang pria."
Sharon menatap ke dalam kamarnya, "Ti-tidak! Tidak ada
siapa-siapa disini! Kau bergurau Paula!"
"Aku yakin." Paula menerobos masuk begitu saja. Di tatapnya seluruh isi kamar Sharon dengan jeli.
"Dimana Verline?"
"Err di-dia.. "
"Mrs.Tannisa bilang
dia sedang sakit, jadi aku berniat menjenguknya."
"Ya-tapi.. dia sedang tidak ada disini. Dia sedang
bersama Err.."
Melihat kegugupan Sharon, Paula
menatapnya penuh selidik.
"Sharon kau tampak gugup. Ada yang salah?" Paula mengikuti arah pandangannya yang mengarah pada pintu Kamar mandi.
__ADS_1
TBC