
Sharon mendesah panjang. Ia bangkit segera menyimpan seluruh lembar jawaban yang telah ia periksa
bersama Deril ke atas meja belajarnya. Lalu gadis itu segera membaringkan
tubuhnya di atas ranjang. Ia pun tenggelam dalam mimpinya.
Di samping itu, Deril kembali membuka pintu setelah memastikan
Sharon tertidur pulas. Ia masuk, berjalan mengendap-endap dan menutup pintu
dengan rapat.
Deril berjongkok menatap sosok wajah cantik-nan- damai itu.
Bibir pria itu menyunggingkan senyuman. Ia meraih sesuatu di dalam sakunya, sebuah cincin.
Disematkannya
cincin tersebut di jari manis Sharon.
"Kita lihat apa yang akan aku lakukan, jika nanti Christian
tergila-gila padamu." Bisiknya. Ia pun melangkah menjauh.
Sharon berjingkit, gadis itu tengah mencoba meraih Buku
Kimia yang berada di jajaran paling atas. Ia mendengus kesal
ketika tangannya tak sampai juga.
Demi tuhan, ia tak ingin terlahir pendek. Oh bukannya ia tak bersyukur, tapi
lihatlah.. ia kesulitan sekarang.
Sebenarnya, Sharon tak terlalu pendek untuk ukuran tinggi
seorang siswi kelas 12 SMA. Ia memilikki tinggi yang cukup ideal,
yaitu sekitar 167 Centi Meter. Cukup
tinggi bukan?
Dengan berat badan 50 Kilogram tentu
memperindah tampilan tubuhnya. Ia tak terlihat kurus maupun gemuk. Bentuk
__ADS_1
tubuhnya sangat proposional. Mungkin Sharon cocok untuk menjadi seorang Model.
Sharon termerenung sejenak. Ia tengah mencari cara bagaimana agar ia dapat meraih buku tersebut. Sesekali ia melirik ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang
mau membantunya. Namun, tak ada seorang pun yang melintas.
Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan kantin.
Akhirnya Sharon memutuskan untuk menggunakan tangga.
Ia segera menaikki anak tangga dengan perlahan dan takut-takut. Dewi dalam
batinnya meringis, semoga ia baik-baik saja setelah ini.
Sharon menghela nafas lega ketika buku Kimia itu
akhirnya sampai ke tangannya. Dan sekarang ia mulai kembali kebingungan, bagaimana cara turunnya?
Sharon memejamkan matanya perlahan. Ia mulai menuruni
anak tangga satu-per-satu. Tangga pertama, tangga
kedua, tangga ketiga...
setelahnya bokongnya akan mendarat di lantai dengan mulus.
Satu..
Dua..
Namun, ?
Kenapa ia tak terjatuh? Ia
sama sekali tak merasakan bokongnya yang mencium lantai.
Sharon membuka matanya. Ia tertegun ketika objek pertama
yang ia tangkap adalah sosok Christian. Pria itu tersenyum ke arahnya.
Sharon gelagapan dan segera menjauh. Syukurlah, rupanya
__ADS_1
Christian menolongnya.
"Kau tidak
apa-apa?" Tanya pria itu.
"Ah, tidak! Aku baik-baik saja, Gracias!" Sharon
tersenyum.
"Sama-sama." Christian mendudukkan bokongnya di kursi, diikuti oleh Sharon.
"Sebaiknya panggil aku jika kau tak dapat meraih buku
yang tinggi, mungkin aku bisa membantu." Tawar Christian.
"Ehm.. " Sharon bergumam pelan. Ia mengulum
senyum. Gadis itu mulai membuka buku Kimia di tangannya.
Selembar demi selembar halaman telah membuat Sharon hanyut. Ia bahkan telah melupakan sosok Christian yang sedari tadi
memperhatikannya. Gadis itu terlalu
fokus pada dunia membacanya. Bahkan ketika Christian
berdeham, Sharon sama sekali tak menoleh.
Pada saat Christian meraih jemari gadis itu ke dalam genggamannya, barulah Sharon
mendongak. Gadis itu merona seketika.
"Cincin yang bagus." Ujar Christian mengomentari
cincin yang tersemat di jemari Sharon.
Cincin yang begitu indah dengan mata swarovski yang berkilauan. Sungguh Sharon bingung dengan cincin di jarinya.
Siapa yang menyematkannya?
Gadis itu sempat merenung tadi pagi. Memikirkan cincin siapa, siapa yang memberikan cincin ini padanya. Ia sempat berfıkiran bahwa Deril-lah yang memberikan cincin itu padanya.
Tapi kapan?
__ADS_1
Pria itu sudah pulang bukan?
TBC