Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 48


__ADS_3

Sharon mendesah panjang. Ia bangkit segera menyimpan seluruh lembar jawaban yang telah ia periksa


bersama Deril ke atas meja belajarnya. Lalu gadis itu segera membaringkan


tubuhnya di atas ranjang. Ia pun tenggelam dalam mimpinya.


Di samping itu, Deril kembali membuka pintu setelah memastikan


Sharon tertidur pulas. Ia masuk, berjalan mengendap-endap dan menutup pintu


dengan rapat.


Deril berjongkok menatap sosok wajah cantik-nan- damai itu.


Bibir pria itu menyunggingkan senyuman. Ia meraih sesuatu di dalam sakunya, sebuah cincin.


Disematkannya


cincin tersebut di jari manis Sharon.


"Kita lihat apa yang akan aku lakukan, jika nanti Christian


tergila-gila padamu." Bisiknya. Ia pun melangkah menjauh.


Sharon berjingkit, gadis itu tengah mencoba meraih Buku


Kimia yang berada di jajaran paling atas. Ia mendengus kesal


ketika tangannya tak sampai juga.


Demi tuhan, ia tak ingin terlahir pendek. Oh bukannya ia tak bersyukur, tapi


lihatlah.. ia kesulitan sekarang.


Sebenarnya, Sharon tak terlalu pendek untuk ukuran tinggi


seorang siswi kelas 12 SMA. Ia memilikki tinggi yang cukup ideal,


yaitu sekitar 167 Centi Meter. Cukup


tinggi bukan?


Dengan berat badan 50 Kilogram tentu


memperindah tampilan tubuhnya. Ia tak terlihat kurus maupun gemuk. Bentuk

__ADS_1


tubuhnya sangat proposional. Mungkin Sharon cocok untuk menjadi seorang Model.


Sharon termerenung sejenak. Ia tengah mencari cara bagaimana agar ia dapat meraih buku tersebut. Sesekali ia melirik ke kanan dan ke kiri, berharap ada seseorang yang


 


mau membantunya. Namun, tak ada seorang pun yang melintas.


Sepertinya mereka terlalu sibuk dengan kantin.


Akhirnya Sharon memutuskan untuk menggunakan tangga.


Ia segera menaikki anak tangga dengan perlahan dan takut-takut. Dewi dalam


batinnya meringis, semoga ia baik-baik saja setelah ini.


Sharon menghela nafas lega ketika buku Kimia itu


akhirnya sampai ke tangannya. Dan sekarang ia mulai kembali kebingungan, bagaimana cara turunnya?


Sharon memejamkan matanya perlahan. Ia mulai menuruni


anak tangga satu-per-satu. Tangga pertama, tangga


kedua, tangga ketiga...


setelahnya bokongnya akan mendarat di lantai dengan mulus.


Satu..


Dua..


Namun, ?


Kenapa ia tak terjatuh? Ia


sama sekali tak merasakan bokongnya yang mencium lantai.


 


Sharon membuka matanya. Ia tertegun ketika objek pertama


yang ia tangkap adalah sosok Christian. Pria itu tersenyum ke arahnya.


Sharon gelagapan dan segera menjauh. Syukurlah, rupanya

__ADS_1


Christian menolongnya.


"Kau tidak


apa-apa?" Tanya pria itu.


"Ah, tidak! Aku baik-baik saja, Gracias!" Sharon


tersenyum.


"Sama-sama." Christian mendudukkan bokongnya di kursi, diikuti oleh Sharon.


"Sebaiknya panggil aku jika kau tak dapat meraih buku


yang tinggi, mungkin aku bisa membantu." Tawar Christian.


"Ehm.. " Sharon bergumam pelan. Ia mengulum


senyum. Gadis itu mulai membuka buku Kimia di tangannya.


Selembar demi selembar halaman telah membuat Sharon hanyut. Ia bahkan telah melupakan sosok Christian yang sedari tadi


memperhatikannya. Gadis itu terlalu


 


fokus pada dunia membacanya. Bahkan ketika Christian


berdeham, Sharon sama sekali tak menoleh.


Pada saat Christian meraih jemari gadis itu ke dalam genggamannya, barulah Sharon


mendongak. Gadis itu merona seketika.


"Cincin yang bagus." Ujar Christian mengomentari


cincin yang tersemat di jemari Sharon.


Cincin yang begitu indah dengan mata swarovski yang berkilauan. Sungguh Sharon bingung dengan cincin di jarinya.


Siapa yang menyematkannya?


Gadis itu sempat merenung tadi pagi. Memikirkan cincin siapa, siapa yang memberikan cincin ini padanya. Ia sempat berfıkiran bahwa Deril-lah yang memberikan cincin itu padanya.


Tapi kapan?

__ADS_1


Pria itu sudah pulang bukan?


TBC


__ADS_2