
Sharon yang melihat itu hanya dapat mengkerutkan keningnya.
"Apa ini?" Sharon meraih salah satu botol dari
kumpulan botol lain.
"Itu Lulur.."
"Lulur?"
"Ya, kau harus memakainya mulai saat ini. Lihatlah
kulitmu! Kau tampak begitu kusam. Christian tak akan memandangmu jika kau
tampak kusam." Jelas Verline.
Ya, Sharon memang agak kusam. Tapi sejujurnya, Sharon terlihat cantik. Gadis itu memiliki wajah latin yang khas. Dengan kulit
eksotis dan mata cokelat tajamnya. Sharon
cukup menarik..
"Tapi aku tidak pernah memakai ini sebelumnya!"
Sharon berseru. Ia takut kulitnya kenapa-napa jika menggunakan kosmetik atau alat kecantikan seperti itu. Ia terbiasa sederhana dengan dirinya.
"Oh.. ayolah Sharon! Kau hanya perlu mencobanya!" Verline berdecak, "Nah sekarang. Gunakan
semuanya, sebelum itu kau baca dahulu cara penggunaannya."
Dengan ragu Sharon meraih seluruh botol itu ke dalam genggamannya. Dibawanya semua botol tersebut ke dalam kamar mandi. Di dalam, ia hanya dapat mengernyit kebingungan dengan semua botol di hadapannya. Ia telah
melepas seluruh pakaiannya dan hanya memakai Bathrobe. Sharon mulai meraih salah satu botol dari semua botol itu.
Ia mengerutkan keningnya, ”Apa ini?" Gumamnya pelan. Lalu ia kembali meraih botol yang lain, hingga botol
yang terakhir.
Seluruh cara pemakaiannya menggunakan bahasa Prancis. Ia tak mengerti..
Lalu Sharon memutuskan untuk menggunakan Botol yang berwarna cokelat. Ia membuka
tutup botol tersebut dengan perlahan. Ia
__ADS_1
mencondongkan wajahnya, hidungnya menempel disana. Baunya menyengat..
Sharon meneteskan beberapa tetes cairan itu ke telapak
tangannya. Dengan perlahan, ia mengoleskannya
ke arah betisnya.
Tak terasa apapun..
Ia kembali mengoleskannya ke paha kirinya. Lama- kelamaan
ia mulai merasakan panas di sekitar kedua kalinya. Ia segera membasuhnya, namun
rasa gatal dan panas itu tak menghilang.
Ia mendesah frustasi. Kemudian dengan cepat Sharon keluar dari kamar mandi. Tampak sosok Verline yang tengah membaca bukunya.
"Sudah selesai?" Gadis itu mendongak menatap
Sharon.
"Panas! Gatal!!" Teriak Sharon kesetanan. Verline
"Apa yang kau
gunakan?!" Desah Verline frustasi.
Sharon meringis, ia
menggeleng. "Aku tak tau!
Semuanya memakai bahasa Prancis!"
"Biar kulihat!" Verline membawa kedua kaki gadis itu ke atas pahanya.
Gadis itu meraih sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah salep, ia mengoleskannya ke
atas kaki Sharon.
Sharon merasakan hal yang janggal ketika telapak tangan gadis itu menyentuh kulitnya. "Aku memakai yang berwarna Cokelat, baunya cukup
menyengat." Gadis itu mulai bersuara untuk menghilangkan kejanggalannya.
__ADS_1
Verline menjauhkan tangannya, "Sudah selesai!" la
tampak tergagap.
"Tanganmu terasa kasar." Gumam Sharon pelan.
"Tidak seperti gadis lain--"
"Itu karena aku sering nge-gym." Verline mendengus.
Gadis itu mengalihkan topik pembicaraan, "Cairan yang kau pakai itu tidak
boleh digunakan secara langsung ke atas kulitmu! Hah.. Astaga!" Verline mendesah.
"Seharusnya kau memberi tahuku!" Sharon balas
mendengus. "Mungkin tidak akan seperti ini.. kulitku.. ya tuhan.. "
"Ruamnya hanya satu jam. Tidak akan bertahan lama, kau
tenang saja. Salep itu cukup ampuh."
Sharon hanya terdiam. Ia mengusap pelan kedua kakinya,
terutama pahanya. Terasa perih dan gatal. "Berapa kali aku harus
mengatakan soal penampilan!" Verline mengalihkan pandangannya dari Sharon.
"Memangnya
kenapa? Kita sama-sama perempuan!"
"Aku hanya tak suka." Gadis itu menjeda ucapannya, Verline melirik ke arah Sharon yang duduk di atas ranjangnya.
"Dan lihat ... Kau telah melewati batas!"
Sharon mencebik
kesal, ia bangkit dan menjauh.
Gadis itu duduk di
atas ranjang miliknya.
__ADS_1
TBC