Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 7


__ADS_3

Syukurlah jika memang Verline yang menyimpan cokelat ini.


Tapi..


Tunggu dulu?!


Apa benar Verline yang menyimpannya?


Bukannya sebelum gadis itu bersekolah di sini, Ia sering mendapatkan cokelat yang sama?


Ah.. mungkin saja cokelat yang dulu itu dari penggemar lainnya. Dan yang sekarang hanya dari Verline. Christian terkekeh lalu melangkah menjauh dari lokernya. Dibawanya Cokelat itu ke dalam tasnya.


Verline memukul-mukul kepalanya dengan pelan. Ia benar-benar merutuki dirinya. Sialan! Gerutunya dalam hati. Ia sangat yakin bahwa akan terjadi kesalah-pahaman. Mengingat pria itu memang memiliki tingkat Percaya diri yang 'tinggi'.


Uggh.. ta harus melakukan sesuatu. Gadis itu terus melangkah dengan perlahan. Ia merogoh ponsel dari saku seragamnya. Beberapa hart ini ia belum mendapat kabar dari rumah sakit.


 


Bagaimana keadaan adiknya?

__ADS_1


Verline melangkah memasukki kamar asrama. Ia bersyukur Gadis aneh itu tidak ada di dalam. Verline segera mengunci pintu dan membuka seluruh pakaiannya. Ia meraih setelan kemeja di dalam tas 'rahasianya'. Dengan cepat ia memakainya. Tak lupa juga ia menghapus seluruh make up dan melepas wig nya.


Sekarang sosoknya telah berubah menjadi Deril..


Ia menghela nafas lega ketika lorong asrama tampak sepi. Masih dengan indra penglihatannya yang hati-hati, Deril melangkah keluar dari kawasan asrama tersebut.


Semuanya begitu adrenalin dibandingkan dengan ketahuan menyontek. Deril akui itu.


Ia benar-benar harus melewati banyak 'rintangan' yang membuat jantungnya hampir saja mencelos dan berdebar setengah mati. Mulai dari security yang berjaga, penjaga asrama, dan orang-orang yang berlalu lalang.


Dan sekarang, ia bersyukur dapat sampai ke rumah sakit dengan selamat. Batinnya tersenyum lebar.


 


Senyum lebarnya memudar ketika melihat sosok sang adik masih dalam keadaan sama. Pucat, terlelap, sama sekali tak tersenyum..


Deril tersenyum kecut lalu duduk di kursi samping ranjang adiknya. Diraihnya tangan lemah itu ke dalam genggamannya. Ia mengecupnya sekilas. "Kapan kau bangun, Re? Apa kau tidak merindukanku?" Bisiknya.


Gadis itu bergeming. Bibir pucatnya terkatup. Suasan terasa begitu hening, hanya suara detakkan jantungnya yang menjadi teman bagi Deril. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Bagaimanapun caranya..


pria itu harus merasakan apa yang adiknya rasakan.


Ia hampir kehilangan malaikat kecilnya. Sahabat yang selalu setia mendampinginya. Orang yang selalu memberikannya semangat ketika ia rapuh. Ia tahu itu, ia


 


sama sekali tak terobsesi pada adiknya. Hanya saja, ia terlalu protektif.


Deril melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa waktu begitu cepat berlalu?


Deril bangkit dan segera melangkah keluar. Ia harus kembali ke asrama.


Sharon menguap beberapa kali, Ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Beberapa kali tubuhnya


hampir terjatuh karena matanya mengantuk. Ia tetap bersikeras menyelesaikan essay nya malam ini juga.


Akhirnya ia tenggelam pada alam mimpinya. Sharon mulai terlelap. Hingga ia tak sadar pintu kamar terbuka. Seorang pria tampan dengan kemeja biru langitnya tampak melangkah dengan hati-hati. Mata hijau beningnya melirik Ke arah Sharon. Ia mendesah lega. Gadis itu tertidur..

__ADS_1


Deril menatap sosok Sharon yang tampak tengah terlelap di atas meja belajarnya. Gadis itu sanna sekali tak merasa terganggu dengan suara derap langkah sepatunya.


tbc


__ADS_2