
"Dasar pelit!"
Dengusnya. la melangkah ke kamar mandi dan membanting pintu cukup keras.
Verline terkekeh pelan
dengan suara barítonnya. la menatap pintu kamar mandi.
Gadis
itu terlibat lucu jika sedang sebal..
Beberapa menit kemudian, Sharon keluar dari kamar
mandi dengan pakaian lengkapnya. la melempar semua botol di tangannya ke arah Verline.
"Eh?!
Apa yang kau lakukan!" Bentak Gadis itu. "Apa?! Bukannya aku tak boleh melewati batas ya?"
"Tapi, kau bisa mengulurkannya padaku!" Verline
berdecak kesal, ia memunguti seluruh
botol yang berisi luluran tersebut.
"Malas!"
Jawab Sharon ketus.
Verline mengulurkan tangannya, gadis itu melepas seluruh
tali yang membatasi jarak mereka. Sharon yang melihat itu melongo. la
menatapnya sedikit tak percaya.
"Kíta teman, bukan?" Verline melempar seluruh
gulungan tali bekas itu ke dalam tong sampah.
"Teman?" Sharon menatapnya ragu.
Lalu selang beberapa detik, ia mengulum senyum.
"Ya
teman.." Verline membalas senyumannya. "Nah sekarang.. apakah kau
memaafkanku Nona?"
Sharon mengangguk, "Tentu."
__ADS_1
Mudah ditipu ..
Verline tersenyum sinis dalam hati. "Apa kau masih tetap
mau melanjutkan semuanya?"
"Apa?"
"Apa
kau masih mau melanjutkan usahamu untuk mendapatkan Christian?"
Sharon
menatap Verline dengan ragu. Gadis itu tampak menggigit bibir bawahnya.
Salon itu tampak begitu mewah. Semua orang yang masuk
ke sini adalah orang yang memiliki 'kantong
dalam'.
Melihat pakaian yang mereka gunakan, Sharon
yakin. Sangat yakin.. Sharon sangat tak pantas berada di sini.
Ia terus mengamati seluruh isi ruangan. Ia telah membulatkan
caranya.. Dan sekarang, dirinya kini sedang
bersama Verline di sebuah salon ternama. Verline membawanya kesini.
Entah untuk apa.. mendandani dirinya?
Sepertinya tidak
mungkin.. sakunya tidak setebal orang-orang yang berlalu lalang disini.
"Sekarang kau duduk disana."
Sharon melirik ke arah Verline. Gadis itu hanya mengangguk.
Akhirnya Sharon mengikuti perintah gadis
berambut pirang itu untuk duduk disana. Gadis berambut pirang itu adalah
salah satu pegawai disini.
Tukang salon?
Oh ayolah.. sebutan itu hanya berlalu di kota kecilmu
Miss Santos.
__ADS_1
Wanita pirang itu mulai melepaskan ikat rambut yang melingkar di rambut Sharon. Sharon
meringis pelan. /o takut terjadi sesuatu..
"Jangan menunduk, Nona.. " perintah wanita
berambut pirang itu dengan datar. Akhirnya Sharon mendongak.
Entah berapa jam lamanya, Si-pirang-bernametag- Savannah itu memporak-porandakkan rambutnya. Sharon mendesah tak nyaman. Pikirannya berkecamuk.
la tak memilikki uang? Darimana ia akan membayar? Kapan selesai?
Sharon menoleh ke arah dimana Verline duduk. Gadis itu tampak tak ada disana.
Oh ya
tuhan!
Apa Verline
meninggalkannya! Bagaimana ini? la membayar darimana? la tak memilikki uang?!
Sharon mendesah semakin tak nyaman. Sebuah benda yang menutupi kepalanya terasa begitu membakar. Uap-uap itu mengepul dari sana. Apa ini aman?
Savannah menghampirinya. Ia melepas alat itu dari kepala
Sharon. Sharon mendesah lega. Lalu wanita itu kembali
berkutat dengan rambutnya.
Kapan selesai?
A yolah.. ia sudah pegal dan lelah...
Lama terus merenung, menunggu, dengan kesal. Akhirnya
semuanya selesai, Sharon mendesah lega lebih panjang. Ia
menatap dirinya di cermin.
Siapa dia?
Ia menganga tak percaya menatap bayangan dirinya
sendiri di cermin. Itu
bukan dirinya..
Seorang gadis dengan gaya rambut baru. Mengkilap, rambut
yang.. ombre hair! Tatanan salon yang mahal. Dan ia melirik ke kuku tangannya,
kukunya tampak indah dengan manicure atau pedicure? Oh.. ayolah.. Sharon tak tahu.
Kapan wanita pirang itu melakukannya?
__ADS_1
TBC