
Pria itu sosok yang sangat sempurna rupanya. Menawan.. bahkan jika di bandingkan
dengan Ketampanan Christian, Deril berlipat-lipat lebih tampan darinya. Pria
itu tampak dewasa.
Deril menoleh ke arah Sharon yang tampak menunduk sedari tadi. Pria itu mendesah. Sharon tampak begitu cantik
dengan dress yang mereka beli saat
itu. Ditambah lagi polesan make up natural tampak menghiasi wajah polosnya.
"Kita akan pergi ke mana?" Bisik Sharon. "Rumah sakit."
Sharon mengernyit
heran.
"Kita harus memeriksakan matamu Shar. apa kau merasa lebih baik
dengan penglihatanmu?" Deril
melipat kemejanya sampai siku.
"Lumayan."
Ucapnya pelan.
"Dan kita juga akan menjenguk adikku."
"Tapi, bagaimana kita bisa keluar?
Penampilanmu--" "Mudah saja. Kalau begitu aku pergi lebih dulu, dan
aku menunggu di mobil."
Deril melangkah keluar begitu saja.
Dengan ragu Sharon mengikuti langkahnya. Pelan- pelan ia melangkah. Malam-malam begini, ia sangat yakin bahwa semua penghuni asrama telah tidur. Ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan
tangannya. Jam baru menunjukkan pukul 7. Dan apa Deril bilang tadi? Ke rumah
sakit mengecek matanya? Apa dokter itu masih ada?
Ia menggelengkan kepalanya. Lalu melanjutkan langkahnya.
Hingga tak terasa Sharon telah berada di
__ADS_1
depan mobil Deril.
Ia membuka pintu dan segera masuk. Duduk di kursi
kemudi belakang.
"Kau pikir aku
supirmu." Sindir Deril dengan ketus.
Dengan berat hati akhirnya Sharon duduk di bangku
depan. Tepat berdekatan dengan Deril. Deril tersenyum dalam
hati, ia segera melajukan mobilnya.
Tak ada percakapan di antara mereka hingga mereka sampai di rumah
Sakit. Sharon hanya mengikuti langkah
Deril. Pria itu masuk begitu saja ke dalam sebuah ruangan tanpa
mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ck.. dasar tidak sopan.
separuh baya-yang Sharon tau bahwa pria itu dokter yang... dokter itu!
"Paman.."
Deril tersenyum tipis.
Ia sangat yakin bahwa Sharon terkejut.
Ketahuilah bahwa dokter yang mengoperasi mata
Sharon adalah pamannya. Kemarin Deril
memberikan sedikit sandiwara di hadapan Sharon. Pamannya sangat mendukung usaha Deril untuk menghancurkan Christian secara perlahan.
"Deril--diaa?"
"Dia pamanku. Nah sekarang kau
harus memeriksa
__ADS_1
matamu."
Sharon mendekat dengan ragu. Pria berjas putih itu mulai memeriksa matanya. Sharon di
berikan intruksi untuk membaca angka-angka kecil di sebuah papan.
"Bagus Sharon. Sepertinya perkembangan matamu mulai
membaik." Dokter itu tersenyum.
Sharon mengangguk dengan kaku.
"Jadi bagaimana Pannan?"
Tanya Deril tak sabar.
"Ia belum sembuh total, tapi aku sangat yakin
penglihatannya mulai sangat normal." Jelas Pamannya.
"Baiklah kalau begitu terima kasih.
Kami harus segera pergi, aku akan menjenguk Renata." Deril pun melangkah
keluar. Pamannya hanya tersenyum, sedangkan Sharon ia tersenyum kikuk.
Sharon mengikuti langkah Deril yang memasukki sebuah ruangan. Ruangan ICU. Mata cokelatnya menatap
seluruh isi ruangan dengan jeli. Lalu pandangan matanya berhenti pada seorang gadis.
Gadis itu tampak pucat bagaikan mayat. Seluruh alat bantu tampak menempel di tubuhnya. Suara detakkan jantungnya
terdengar begitu jelas. Deril tampak melangkah mendekat dan duduk di sebuah
kursi di samping gadis itu terbaring.
Sharon mendekat ke arah Deril. Pria itu tampak menatap
gadis di hadapannya dengan tatapan kosong. Namun Sharon tau, begitu banyak
kesedihan yang tak terluapkan dalam tatapan itu.
"Apa dia
korna?" Tanya Sharon pelan.
Deril menoleh lalu mengangguk. Bibirnya terkatup rapat, ia
sama sekali tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Sejak kapan?" Tanya Sharon lagi. la sedikit
takut sekarang.