Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 46


__ADS_3

Ia tak pernah merasakannya pada Christian, Ia


tak


pernah merasakan hal ini sebelumnya.


Perkataan Deril Malam itu..


Ia masih mengingatnya. Begitu mudahnya pria itu mengatakan


bahwa ciuman itu hanya untuk mengajarkannya. Padahal ia merasa senang Deril


melakukannya.


Sharon mengerang pelan. Ia merasakan dadanya berdenyut


tak nyaman ketika pria itu mengatakannya. Tanpa diinginkan air matanya menetes


begitu saja.


 


Ia mengusap wajahnya dengan pelan lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Gadis itu segera bangkit melangkah menuju kantin. Ia butuh sesuatu yang dingin untuk menyegarkan fikirannya.


Tiba-tiba ketika ia tengah melangkah, seseorang menjulurkan


kakinya membuat ia jatuh tersungkur. Ia merutuki siapapun yang melakukan itu.


"Aw!"


Ringis.


Lalu beberapa detik selanjutnya, ia mendengar gelak tawa para gadis. Sharon hanya dapat menggeram pelan.


Ah.. betapa ingin ia menampar singa betina itu..


Betapa


ingin ia menjadi Gorila yang siap memakan singa kecil itu hidup-hidup.


Sharon bangkit dan menepuk rok seragamnya dengan pelan. Sedikit, ya.. hanya sedikit kotor tak masalah


baginya.


"Bagaimana rasanya?" Ejek Mandy. "Baik." Sharon tersenyum tipis.


"Gadis bodoh, masih memilikki bedak yang tebal untuk


menginjakkan kakimu disini?" Ejek Mandy lagi.


 


Sharon menarik napas, mencoba menetralkan emosinya.


"Kau tau wajahku lebih dari kata tebal. Maka aku tak akan pernah

__ADS_1


menyerah." Tegasnya penuh tantangan.


"Kau!"


Gadis itu tampak menggeram kesal.


"Kenapa? Ada yang salah denganku?" Sharon


mengangkat sebelah halisnya santai, "Aku bisa mendapatkan apapun yang aku


mau, Mandy. Dan bersiaplah ... Cepat atau lambat Christian akan menjadi


milikku, segera." Setelah


mengucapkan kalimat terakhirnya, Sharon melangkah menjauh.


Dalam hati ia menggerutu, bisa-bisanya ia menantang Mandy


seperti itu. Seharusnya ia tak mengatakan perihal


Christian.


Sepertinya masalah akan semakin rumit.


Sharon segera mendudukan bokongnya ketika


ia telah sampai di kantin. Gadis itu menyeruput minumannya dengan tenang. Ia dapat merasa sedikit lega, lega karena minuman dingin ini membuat


tenggorokannya tak mati rasa lagi.


 


"Eh?


Christ--"


Belum  sempat  gadis  itu  melanjutkan      ucapannya, Christian telah lebih dahulu memotong.


"Boleh aku


duduk?" Tanyanya lembut. "Err.. te-tentu."


Sharon tergagap.


Christian mendudukkan


bokongnya tepat di kursi yang berhadapan dengan Sharon.


"Bagaimana liburanmu?" Tanya


Christian. "Ehm.. ya, lumayan."


Jawab Sharon seadanya. "Dengan Deril?" Tanya pria itu lagi.


Sharon mengangguk, "Ya.. dengannya." Suara gadis

__ADS_1


itu tampak sedih.


Sedih ketika mengingat nama itu, mengingatkannya pada


kejadian di bukit. Dewi dalam batinnya hanya bisa tersenyum sekecut mungkin.


Bukankah bagus jika Deril mengajarkanmu?


 


"Ada apa?"


Christian tampak sedikit khawatir ketika melihat perubahan dalam raut wajah


gadis itu.


"Ti-tidak!"


"Ceritakan padaku, Sharon.. " paksa Christian tak


menyerah.


"Aku--" gadis itu menjeda ucapannya, darimana ia harus memulai?


"Katakan saja, aku bisa menjadi pendengar yang


baik." Senyum Christian tampak sangat tulus.


"Aku dan Deril, kami telah putus. Tepatnya saat kami liburan." Sharon menerka-nerka


apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia meneliti raut wajah Christian, namun sosok itu tak


menunjukkan raut apapun.


"Oh.. kau harus


banyak bersabar." Ujarnya enteng.


Ku kira dia akan senang..


Sharon mendengus pelan.


Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggenggamnya


jemarinya dengan lembut. Ia menoleh


ke arah jemarinya yang tengah bertautan dengan Christian. Gadis itu terlihat gugup lalu


menatap Christian.


 


"Aku,


apakah aku bisa menjadi penggantinya?" Ujar Christian pelan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2