
Ia tak pernah merasakannya pada Christian, Ia
tak
pernah merasakan hal ini sebelumnya.
Perkataan Deril Malam itu..
Ia masih mengingatnya. Begitu mudahnya pria itu mengatakan
bahwa ciuman itu hanya untuk mengajarkannya. Padahal ia merasa senang Deril
melakukannya.
Sharon mengerang pelan. Ia merasakan dadanya berdenyut
tak nyaman ketika pria itu mengatakannya. Tanpa diinginkan air matanya menetes
begitu saja.
Ia mengusap wajahnya dengan pelan lalu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Gadis itu segera bangkit melangkah menuju kantin. Ia butuh sesuatu yang dingin untuk menyegarkan fikirannya.
Tiba-tiba ketika ia tengah melangkah, seseorang menjulurkan
kakinya membuat ia jatuh tersungkur. Ia merutuki siapapun yang melakukan itu.
"Aw!"
Ringis.
Lalu beberapa detik selanjutnya, ia mendengar gelak tawa para gadis. Sharon hanya dapat menggeram pelan.
Ah.. betapa ingin ia menampar singa betina itu..
Betapa
ingin ia menjadi Gorila yang siap memakan singa kecil itu hidup-hidup.
Sharon bangkit dan menepuk rok seragamnya dengan pelan. Sedikit, ya.. hanya sedikit kotor tak masalah
baginya.
"Bagaimana rasanya?" Ejek Mandy. "Baik." Sharon tersenyum tipis.
"Gadis bodoh, masih memilikki bedak yang tebal untuk
menginjakkan kakimu disini?" Ejek Mandy lagi.
Sharon menarik napas, mencoba menetralkan emosinya.
"Kau tau wajahku lebih dari kata tebal. Maka aku tak akan pernah
__ADS_1
menyerah." Tegasnya penuh tantangan.
"Kau!"
Gadis itu tampak menggeram kesal.
"Kenapa? Ada yang salah denganku?" Sharon
mengangkat sebelah halisnya santai, "Aku bisa mendapatkan apapun yang aku
mau, Mandy. Dan bersiaplah ... Cepat atau lambat Christian akan menjadi
milikku, segera." Setelah
mengucapkan kalimat terakhirnya, Sharon melangkah menjauh.
Dalam hati ia menggerutu, bisa-bisanya ia menantang Mandy
seperti itu. Seharusnya ia tak mengatakan perihal
Christian.
Sepertinya masalah akan semakin rumit.
Sharon segera mendudukan bokongnya ketika
ia telah sampai di kantin. Gadis itu menyeruput minumannya dengan tenang. Ia dapat merasa sedikit lega, lega karena minuman dingin ini membuat
tenggorokannya tak mati rasa lagi.
"Eh?
Christ--"
Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya, Christian telah lebih dahulu memotong.
"Boleh aku
duduk?" Tanyanya lembut. "Err.. te-tentu."
Sharon tergagap.
Christian mendudukkan
bokongnya tepat di kursi yang berhadapan dengan Sharon.
"Bagaimana liburanmu?" Tanya
Christian. "Ehm.. ya, lumayan."
Jawab Sharon seadanya. "Dengan Deril?" Tanya pria itu lagi.
Sharon mengangguk, "Ya.. dengannya." Suara gadis
__ADS_1
itu tampak sedih.
Sedih ketika mengingat nama itu, mengingatkannya pada
kejadian di bukit. Dewi dalam batinnya hanya bisa tersenyum sekecut mungkin.
Bukankah bagus jika Deril mengajarkanmu?
"Ada apa?"
Christian tampak sedikit khawatir ketika melihat perubahan dalam raut wajah
gadis itu.
"Ti-tidak!"
"Ceritakan padaku, Sharon.. " paksa Christian tak
menyerah.
"Aku--" gadis itu menjeda ucapannya, darimana ia harus memulai?
"Katakan saja, aku bisa menjadi pendengar yang
baik." Senyum Christian tampak sangat tulus.
"Aku dan Deril, kami telah putus. Tepatnya saat kami liburan." Sharon menerka-nerka
apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia meneliti raut wajah Christian, namun sosok itu tak
menunjukkan raut apapun.
"Oh.. kau harus
banyak bersabar." Ujarnya enteng.
Ku kira dia akan senang..
Sharon mendengus pelan.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menggenggamnya
jemarinya dengan lembut. Ia menoleh
ke arah jemarinya yang tengah bertautan dengan Christian. Gadis itu terlihat gugup lalu
menatap Christian.
"Aku,
apakah aku bisa menjadi penggantinya?" Ujar Christian pelan.
__ADS_1
TBC