
"Tapi aku sering merasakan hal yang
tak biasa. Hal itu tak dapat dikatakan sebagai kagum!" Sharon berdalih.
"Oh ya? Mari kita lihat. Kau harus mengubur rasa
cintamu demi masa depanmu." Deril mendesis dengan mata yang menatap Sharon
tajam.
"Kau masih ingat perkataanku tadi malam? Aku bisa saja mencabut beasiswamu dengan uangku.
Bukan hanya itu saja, aku juga
bisa membuatmu angkat kaki dari sini. Apa kau mau?" Ancamnya.
Sharon mendongak menatap pria itu dengan
mata yang hampir mencelos. Apa dia bilang? Ya tuhan.. apa pria
ini? Apa yang dia inginkan?!
"Kenapa harus
aku?!" Bentak Sharon tertahan.
"Kenapa?"
Deril mengulang ucapan gadis itu dengan
nada mengejek.Sharon hampir saja meneteskan air matanya, tapi ia
menahannya. Ia tak boleh lemah. Ia harus kuat. Apapun yang harus di
tanggungnya, ia harus bisa menerimanya. Yang terpenting adalah beasiswanya, ia
harus bisa mempertahankan itu semua.
"Aku
memiliki tawaran yang lain untukmu." "Apa?"
"Aku akan membeli sekolah
ini jika perlu," Sharon menganga,
"Apa kau gila?!" Serunya.
Deril tersenyum misterius, "Benarkah aku gila?
__ADS_1
Kenapa memangnya jika aku membeli sekolah ini?"
"Siapa kau sebenarnya?!"
"Namaku Deril. Aku telah mengatakannya padamu, Nona
Dos Santos." Deril menekankan nama Sharon. Membuat gadis itu terenyuh
seketika.
"Astaga.. apa
kau mafia?"
Ya, mungkin kan bisa saja pria itu mafia yang memilikki dendam pada Christian. Atau keluarganya?
"Mafia?" Sontak Deril tertawa, "hahah..
bukan Sharon, aku bukan mafia." Ia kembali menatap Sharon dengan raut
wajah yang serius.
"Aku tak suka basa-basi mu. Sekarang apa tawaranku
kurang memuaskan? Atau kau ingin fasilitas mewah? Kau ingin
apa? Mobil? Apartment? Atau rumah mewah?" Tanya Deril bertubi-tubi.
aku apa? Aku tidak dapat dibeli tuan! Aku bukan barang!" Bentaknya setengah
berteriak.
"Jika kau tak mudah dibeli, kau tak akan dengan
mudahnya menerima biaya operasi lasik dariku."
"Tapi,
aku kira kau tulus---" lirihnya terpotong oleh
ucapan Deril.
"Kau terlalu mudah untuk dibohongi." Deril
melempar paper bag di tangannya.
"Gunakan semua ini. Sekarang mulailah untuk mempercantik dirimu, jaga
__ADS_1
penampilanmu
di hadapan Christian. Buat dia selalu melirikmu." Verline melangkah keluar
kamar.
Sharon menatap paper
bag di hadapannya dengan nanar. Sebulir kristal bening menetes membasahi
pipi mulusnya.
Pardone.. madre .. padre (maaf ibu ayah)
Ia mulai mematut dirinya di cermin. Selama ini ia tak
pernah memakai semua benda ini. Tapi hari ini ia akan berusaha untuk bisa menggunakannya.
Verline melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia merasa sangat jengah menunggu Sharon. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan? Kenapa lama sekali?
Ia mendengus. Rencana pertamanya mengancam Sharon telah berhasil, tinggal rencana keduanya-membuat Sharon melakukan tugasnya dengan baik.
Merasa kesal, Verline membuka pintu kamar asrama
tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Sharon tampak memunggungi dirinya. Ia
melangkah mendekat.
"Sharon apa kau sud--" ucapannya terhenti ketika ia melihat
penampilan Sharon. Verline mendesah.
Sharon tampak begitu buruk dengan lipstick merah menyala dan eye
shadow yang err-ya Tuhan!
"Sharon apa yang kau lakukan?!" Verline berseru. "Berdandan apalagi."
"Cepat basuh wajahmu, kita sudah telat!" Dengan
nada geram Verline membentaknya. Sharon segera membasuh wajahnya secepat
mungkin. Lalu ia kembali dengan wajah polosnya tanpa apapun.
"Kau tak perlu menggunakan apapun saat ini!
Cukuplah gunakan bedak dan lipgloss."
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah Sharon selesai menggunakan bedak dan lipgloss. Mereka segera melangkah dengan cepat menuju kelas. Verline sangat yakin bahwa mereka terlambat.
TBC