Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 23


__ADS_3

"Tapi aku sering merasakan hal yang


tak biasa. Hal itu tak dapat dikatakan sebagai kagum!" Sharon berdalih.


"Oh ya? Mari kita lihat. Kau harus mengubur rasa


cintamu demi masa depanmu." Deril mendesis dengan mata yang menatap Sharon


tajam.


"Kau masih ingat perkataanku tadi malam? Aku bisa saja mencabut beasiswamu dengan uangku.


Bukan hanya itu saja, aku juga


bisa membuatmu angkat kaki dari sini. Apa kau mau?" Ancamnya.


Sharon mendongak menatap pria itu dengan


mata yang hampir mencelos. Apa dia bilang? Ya tuhan.. apa pria


ini? Apa yang dia inginkan?!


 


"Kenapa harus


aku?!" Bentak Sharon tertahan.


"Kenapa?"


Deril mengulang ucapan gadis itu dengan


nada mengejek.Sharon hampir saja meneteskan air matanya, tapi ia


menahannya. Ia tak boleh lemah. Ia harus kuat. Apapun yang harus di


tanggungnya, ia harus bisa menerimanya. Yang terpenting adalah beasiswanya, ia


harus bisa mempertahankan itu semua.


"Aku


memiliki tawaran yang lain untukmu." "Apa?"


"Aku akan membeli sekolah


ini jika perlu," Sharon menganga,


"Apa kau gila?!" Serunya.


Deril   tersenyum misterius,  "Benarkah  aku   gila?

__ADS_1


Kenapa memangnya jika aku membeli sekolah ini?"


"Siapa kau sebenarnya?!"


"Namaku Deril. Aku telah mengatakannya padamu, Nona


Dos Santos." Deril menekankan nama Sharon. Membuat gadis itu terenyuh


seketika.


"Astaga.. apa


kau mafia?"


 


Ya, mungkin kan bisa saja pria itu mafia yang memilikki dendam pada Christian. Atau keluarganya?


"Mafia?" Sontak Deril tertawa, "hahah..


bukan Sharon, aku bukan mafia." Ia kembali menatap Sharon dengan raut


wajah yang serius.


"Aku tak suka basa-basi mu. Sekarang apa tawaranku


kurang memuaskan? Atau kau ingin fasilitas mewah? Kau ingin


apa? Mobil? Apartment? Atau rumah mewah?" Tanya Deril bertubi-tubi.


aku apa? Aku tidak dapat dibeli tuan! Aku bukan barang!" Bentaknya setengah


berteriak.


"Jika kau tak mudah dibeli, kau tak akan dengan


mudahnya menerima biaya operasi lasik dariku."


"Tapi,


aku kira kau tulus---" lirihnya terpotong oleh


ucapan Deril.


"Kau terlalu mudah untuk dibohongi." Deril


melempar paper bag di tangannya.


"Gunakan semua ini. Sekarang mulailah untuk mempercantik dirimu, jaga


 

__ADS_1


penampilanmu


di hadapan Christian. Buat dia selalu melirikmu." Verline melangkah keluar


kamar.


Sharon menatap paper


bag di hadapannya dengan nanar. Sebulir kristal bening menetes membasahi


pipi mulusnya.


Pardone.. madre .. padre (maaf ibu ayah)


Ia mulai mematut dirinya di cermin. Selama ini ia tak


pernah memakai semua benda ini. Tapi hari ini ia akan berusaha untuk bisa menggunakannya.


Verline melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia merasa sangat jengah menunggu Sharon. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan? Kenapa lama sekali?


Ia mendengus. Rencana pertamanya mengancam Sharon telah berhasil, tinggal rencana keduanya-membuat Sharon melakukan tugasnya dengan baik.


 


Merasa kesal, Verline membuka pintu kamar asrama


tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya Sharon tampak memunggungi dirinya. Ia


melangkah mendekat.


"Sharon apa kau sud--" ucapannya terhenti ketika ia melihat


penampilan Sharon. Verline mendesah.


Sharon tampak begitu buruk dengan lipstick merah menyala dan eye


shadow yang err-ya Tuhan!


"Sharon apa yang kau lakukan?!" Verline berseru. "Berdandan apalagi."


"Cepat basuh wajahmu, kita sudah telat!" Dengan


nada geram Verline membentaknya. Sharon segera membasuh wajahnya secepat


mungkin. Lalu ia kembali dengan wajah polosnya tanpa apapun.


"Kau  tak  perlu   menggunakan    apapun  saat ini!


Cukuplah gunakan bedak dan lipgloss."


"Baiklah."

__ADS_1


Setelah Sharon selesai menggunakan bedak dan lipgloss. Mereka segera melangkah dengan cepat menuju kelas. Verline sangat yakin bahwa mereka terlambat.


TBC


__ADS_2