
"Jangan membuat orang yang
mencintaimu kecewa,"
Sharon tertegun. la menatap Christian yang tampak menunduk sedih.
"Karena satu kali kau mengecewakannya, ia tak akan pernah kembali padamu."
"Kenapa kau berbieara seperti itu?"
"Karena aku pernah mengalaminya." Pria itu
tersenyum kecut, "Aku mengecewakan orang yang ku cintai."
"Siapa?"
"Renata."
Ayo.. mulailah bercerita.
Sharon menatap Christian dengan pandangan tak sabar. la
benar-benar ingin mendengar semua cerita itu dari
mulut Christian langsung. la harus
membuktikan pada Deril bahwa semuanya pasti kesalahpahaman.
"Dia adalah kekasihku dulu. Aku
sangat mencintainya dan ia pun begitu."
Sharon kembali tertegun. la tak
mengatakan apapun dan hanya menyimak. Bibir gadis itu tampak terkatup rapat.
"Kau tak marah?"
"Kenapa harus marah. Semua itu hanyalah masa lalumu.
Ceritakan kembali .." gadis itu tersenyum.
"Apa kau mengenal Renata
Hernandez?"
Ya, dia
meregang nyawa karenamu Christian. Itu yang aku tan.
"Siapa dia?"
"Kau
mantan kekasih Deril, aku yakin kau pasti mengenalnya." Dengus Christian.
"Tidak, aku sama sekali tak
__ADS_1
mengenalnya. Aku hanya mengenal Verline." Sharon
berujar dengan lancar.
Mata
Christian menyipit. "Ku kira kau mengenalnya." "Aku
hanya mengenal Verline."
"Oh." Christian hanya ber-oh-ria.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Sharon
mencoba memancing
Christian kembali.
"Aku
kepergok selingkuh, bukan selingkuh. Pada kenyataannya, aku sama sekali tak
mencintai Mandy."
"Mandy?"
"Ya,
kami bertunangan karena masalah bisnis orang tua." Christian tampak sedih.
"Dimana gadis itu sekarang?"
"Dia telah meninggal karena kecelakaan, dan itu salahku."
"Ku rasa, ada seseorang yang dendam kepadaku
sekarang." Christian tersenyum masam.
Seketika Sharon membeku. Apakah Christian telah
mengetahui semuanya?
SHARON'S POV
Aku menatap bayangan diriku di cermin. Bayangan diriku yang tampak sangat berbeda malam ini. Se-sosok gadis cantik dengan make up natural tampak
menatapku. Itu adalah diriku.
Ku lirik kembali gaun yang saat ini ku kenakan. Gaun
berwarna tosca dengan bagian punggung
yang terbuka dan tali Sphagetti yang melingkar di leherku. Aku tampak dewasa mengenakan gaun ini.
Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku. Aku benar-benar
gugup malam ini. Rencana apa yang akan dilakukan oleh Deril?
__ADS_1
Ku lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku dengan resah. Waktu telah menunjukan pukul 7
malam, tapi Deril belum juga menunjukan batang hidungnya.
Pria itu yang
menyuruhku agar datang bersamanya.
Tak lama kemudian, pria yang kutunggu sedari tadi pun
menunjukan batang hidungnya. Ia tampak sangat tampan dengan jas yang melekat di
tubuhnya. Rambut cokelat yang ditata sedemikian rapih. Siapa yang dapat menolak
pesonanya?
Terlalu kaya dan mapan di usia 23-nya. Ia terlalu berkuasa
di usia semuda itu. Terkadang aku berfikir bagaimana ia menyelesaikan kuliahnya
se-singkat itu? Mengingat ia terlalu muda baginya menjadi seorang CEO. Apalagi handal
dalam hal bisnis.
"Apa yang kau fıkirkan?" Tanyanya membuatku
kembali ke alam sadar.
Aku tergagap,
"Tidak ada!"
"Kalau begitu
ayo kita pergi." Ujarnya.
Sebelum ia melangkah keluar. Dengan sigap ku tarik tangannya.
"Apalagi?" Desahnya.
"Apa sebaiknya kau urungkan
niatmu." Bisikku.
"Apa maksudmu?" Ia mendesis tak senang, "apa kau teringat ucapanku?" Bibirnya tampak menyunggingkan
senyuman sinis.
"Bu-bukan, tapi--"
"Dengan Sharon, aku akan melepasmu. Tapi setelah semuanya selesai." Ia memotong ucapanku dengan cepat.
Aku menghela nafas resah. Ia segera menarik tanganku keluar
untuk mengikutinya.
Selama di perjalanan, aku sama sekali tak mengatakan apapun.
Bibirku terkatup rapat. Dan Deril pun tampak sama, ia fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Kita telah sampai."
TBC