Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 62


__ADS_3

"Jangan membuat orang yang


mencintaimu kecewa,"


Sharon tertegun. la menatap Christian yang tampak menunduk sedih.


"Karena satu kali kau mengecewakannya, ia tak akan pernah kembali padamu."


"Kenapa kau berbieara seperti itu?"


"Karena aku pernah mengalaminya." Pria itu


tersenyum kecut, "Aku mengecewakan orang yang ku cintai."


 


"Siapa?"


"Renata."


Ayo.. mulailah bercerita.


Sharon menatap Christian dengan pandangan tak sabar. la


benar-benar ingin mendengar semua cerita itu dari


mulut Christian langsung. la harus


membuktikan pada Deril bahwa semuanya pasti kesalahpahaman.


"Dia adalah kekasihku dulu. Aku


sangat mencintainya dan ia pun begitu."


Sharon kembali tertegun. la tak


mengatakan apapun dan hanya menyimak. Bibir gadis itu tampak terkatup rapat.


"Kau tak marah?"


"Kenapa harus marah. Semua itu hanyalah masa lalumu.


Ceritakan kembali .." gadis itu tersenyum.


"Apa kau mengenal Renata


Hernandez?"


Ya, dia


meregang nyawa karenamu Christian. Itu yang aku tan.


"Siapa dia?"


 


"Kau


mantan kekasih Deril, aku yakin kau pasti mengenalnya." Dengus Christian.


"Tidak, aku sama sekali tak

__ADS_1


mengenalnya. Aku hanya mengenal Verline." Sharon


berujar dengan lancar.


Mata


Christian menyipit. "Ku kira kau mengenalnya." "Aku


hanya mengenal Verline."


"Oh." Christian hanya ber-oh-ria.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Sharon


mencoba memancing


Christian kembali.


"Aku


kepergok selingkuh, bukan selingkuh. Pada kenyataannya, aku sama sekali tak


mencintai Mandy."


"Mandy?"


"Ya,


kami bertunangan karena masalah bisnis orang tua." Christian tampak sedih.


"Dimana gadis itu sekarang?"


"Dia telah meninggal karena kecelakaan, dan itu salahku."


 


"Ku rasa, ada seseorang yang dendam kepadaku


sekarang." Christian tersenyum masam.


Seketika Sharon membeku. Apakah Christian telah


mengetahui  semuanya?


SHARON'S POV


Aku menatap bayangan diriku di cermin. Bayangan diriku yang tampak sangat berbeda malam ini. Se-sosok gadis cantik dengan make up natural tampak


menatapku. Itu adalah diriku.


Ku lirik kembali gaun yang saat ini ku kenakan. Gaun


berwarna tosca dengan bagian punggung


yang terbuka dan tali Sphagetti yang melingkar di leherku. Aku tampak dewasa mengenakan gaun ini.


Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku. Aku benar-benar


gugup malam ini. Rencana apa yang akan dilakukan oleh Deril?


 

__ADS_1


Ku lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku dengan resah. Waktu telah menunjukan pukul 7


malam, tapi Deril belum juga menunjukan batang hidungnya.


Pria itu yang


menyuruhku agar datang bersamanya.


Tak lama kemudian, pria yang kutunggu sedari tadi pun


menunjukan batang hidungnya. Ia tampak sangat tampan dengan jas yang melekat di


tubuhnya. Rambut cokelat yang ditata sedemikian rapih. Siapa yang dapat menolak


pesonanya?


Terlalu kaya dan mapan di usia 23-nya. Ia terlalu berkuasa


di usia semuda itu. Terkadang aku berfikir bagaimana ia menyelesaikan kuliahnya


se-singkat itu? Mengingat ia terlalu muda baginya menjadi seorang CEO. Apalagi handal


dalam hal bisnis.


"Apa yang kau fıkirkan?" Tanyanya membuatku


kembali ke alam sadar.


Aku tergagap,


"Tidak ada!"


"Kalau begitu


ayo kita pergi." Ujarnya.


 


Sebelum ia melangkah keluar. Dengan sigap ku tarik tangannya.


"Apalagi?" Desahnya.


"Apa sebaiknya kau urungkan


niatmu." Bisikku.


"Apa maksudmu?" Ia mendesis tak senang, "apa kau teringat ucapanku?" Bibirnya tampak menyunggingkan


senyuman sinis.


"Bu-bukan, tapi--"


"Dengan Sharon, aku akan melepasmu. Tapi setelah semuanya selesai." Ia memotong ucapanku dengan cepat.


Aku menghela nafas resah. Ia segera menarik tanganku keluar


untuk mengikutinya.


Selama di perjalanan, aku sama sekali tak mengatakan apapun.


Bibirku terkatup rapat. Dan Deril pun tampak sama, ia fokus pada jalanan.

__ADS_1


"Kita telah sampai."


TBC


__ADS_2