Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 14


__ADS_3

Ia tampak begitu berbeda, lebih terlihat.. cantik?


Yang benar saja!


 


Sharon menyentuh helaian rambutnya dengan ragu.


Gadis itu tersenyum lebar.


Hanya saja.. kaca matanya..


Rambut indahnya tampak tak pantas dengan kaca matanya.


"Apa sudah selesai?" Suara Verline membuyarkan lamunannya.


Sharon menoleh. Verline tampak menganga tak percaya, namun ekspresi itu hanya sekejap. Ia kembali merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Ayo kita pulang!" Gadis itu melangkah lebih awal, Sharon mengikuti langkahnya.


Selama di perjalanan pulang, Sharon menatap keluar kaca mobil. Hingga Verline berdeham membuat gadis itu


menoleh perlahan. "Kau tampak cantik dengan rambut barumu." Puji Verline.


Sharon mengulum senyum. Ia tak merasakan bahwa pujian itu diberikan oleh seorang gadis, entah kenapa rasanya pujian itu terdengar diberikan oleh seorang pria. Atau hanya perasaannya saja?


 


"Maaf, aku merepotkanmu." Sharon menghela nafas.


"Tak masalah.. " karena aku menginginkanmu dalam misiku Nona.

__ADS_1


"Kau pasti merogoh kocek yang cukup dalam." Lagi- lagi Sharon merasa sangat menyesal. Salahnya kenapa ta membawaku kesana.


Verline hanya tersenyum tipis. Uangku tidak akan pernah habis, dan aku tak perduli seberapa banyak kocek yang ku rogoh. karena itu akan setimpal.


"Oh  iya,  ada   yang  ingin   kutanyakan    padamu?"Verline membuka suara. "Apa?"


"Soal matamu. Apa kau minus*"


"Aku silinder." "Silinder? Sejak kapan?" "Sejak masuk SMP,"


"Kenapa kau tidak operasi saja? Maksudku- menggunakan kaca mata bukannya mengurangi, terkadang akan memperburuk." Jelas Verline. Mata hijau itu tetap


 


fokus menatap jalanan, namun bibirnya tak berhenti menjelaskan."Operasi terlalu mahal. Kau tau, aku bukan keluarga berada." Sharon tersenyum kecut.


"Kalau begitu, besok.. kau harus ikut denganku."


"Dokter mata."


***


Terbangun begitu pagi bukanlah hal yang menyenangkan bagi Sharon. Biasanya ia akan bangun pada pukul 6, tapi kini Ia harus bangun pukul 5. Entah kenapa Verline membangunkannya. Gadis itu juga menyuruhnya segera bersiap.


Sharon melangkah keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Gadis itu masih tampak menguap. "Kita mau kemana?" Ujarnya dengan suara parau.


"Dokter mata." Jelas Verline singkat.


"Dokter Mata? Untuk apa kita ke sana?"


"Tentu saja untuk mengobati matamu, Nona.."

__ADS_1


"Tapi kita harus sekolah. Begitu banyak kelas hari ini."


Sharon  mencebik.  Ia paling  tidak suka membolos.


Sekolah adalah hal yang Nomor satu baginya. Karena dengan belajar, ia yakin. Mungkin saja ia dapat mengubah


 


kehidupan keluarganya suatu saat nanti. Jika tidak dapat bekerja hari ini, mungkin bisa saja Esok harI kita kaya raya karena belajar. Itulah Motto Sharon.


"Aku sudah meminta izin pada Mrs. Tannisa, dan beliau mengizinkan." Verline bangkit meraih kunci mobil dan tas slempangnya. "Ayo Shar, kita harus segera berangkat!" Gadis itu melangkah lebih awal. Dengan berat hati, Sharon mengikuti langkahnya.


Ini masih terlalu pagi bagi mereka menembus jalanan Kota Madrid. Sama sekali tak tampak orang yang berlalu lalang. Hanya ada beberapa mobil, mungkin? Sharon masih mengantuk. Sangat-sangat mengantuk. Sungguh ia tak dapat menahan rasa kantuknya. Ia tampak menguap beberapa kali seperjalanan.


"Sebenarnya ke mana kita akan pergi?"


"Rumah Sakit La pas, kau tau 'kan?" Verline membelokkan mobilnya.


Seketika Sharon mengerjapkan matanya, "¿que1" Kagetnya. Ia cukup terkejut-oh bukan.. -tepatnya sangat terkejut.


 


What the hell? Rumah sakit La pas adalah rumah sakit termegah di kota Madrid.


"Kenapa?" Verline mengernyit."Kenapa?! Itu rumah sakit mahal! Aku tak yakin kau dapat membayarnya. Hanya untuk rawat ina--"


"Kau meragukan kekayaanku?!"


Sharon mendesah pasrah. Akhirnya ia memilih bungkam. Hingga mereka sampai di rumah sakit, Sharon hanya mengikuti Verline. Ia sama sekali tak angkat bicara. Ia pasrah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2