Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 54


__ADS_3

Ia mengambil jalan liciknya untuk memanfaatkan


Paula.


Pria itu memerintahkan Paula untuk selalu mengawasi gerak-gerik Sharon.


Deril memang tak menemui gadis itu, tapi ia akan selalu


mengawasinya. Walaupun tidak secara langsung. Pria itu akan selalu mengawasi, Amor-nya. (Cinta)


Sharon menatap rintikan hujan yang tampak turun dengan derasnya. Gadis itu mengulurkan tangannya keluar jendela


kelas. Perlahan, rintikkan itu mulai jatuh membasahi telapak tangannya.


Sharon menatap rintikkan tersebut dengan pandangan


kosong. Air terjatuh, dan rasanya begitu dingin. Gadis itu menghela nafas.


Kalut..


Kecewa..


 


Bingung..


Apa yang harus ia lakukan lagi sekarang? Jatuh cinta?


Ya sepertinya, menyakitkan ternyata.


Cinta yang tumbuh dari dendam seseorang itu seperti sebuah duri.


Kenapa duri?


Jika diibaratkan, Cinta dari dendam itu seperti bunga mawar dan durinya bagi Sharon.


Ketika dendam yang berperan sebagai duri itu merambat-melindungi-Batang Mawar.


Maka Mawar-yang diibaratkan seperti cinta- sedikit sulit untuk digapai. Karena


duri itu masih melingkupinya.


 


 


Dendam dan kisah cintanya..


Dan kenapa Sharon harus bersusah payah memikirkan Cintanya dan Dendam Deril?


Toh Deril pun sama sekali tak memikirkan cinta ataupun


perasaan. Pria itu sudah jelas tak membalas perasaannya. Pria itu hanya


memanfaatkannya sebagai partner dendamnya.


 


Pria itu hanya memikirkan dendamnya. Dendamnya pada


Christian. Entah apalagi yang akan dilakukan Deril jika mereka-Sharon dan Christian-telah menjadi sepasang


kekasih.


Sharon mengusap wajahnya dengan kasar. Seharusnya Verline


tak pernah hadir, seharusnya ia tak menerima gadis itu ke dalam kamar asramanya, sekarang semuanya menjadi sulit, rumit, dan membuatnya pening.

__ADS_1


Hidupnya tak setenang seperti dulu. Sharon merasa percuma


dengan perubahan fısiknya. Ia sama sekali tak bahagia dengan kecantikan


barunya.


Ia tak bahagia dengan para pria yang selalu mengejarnya. Ia


sama sekali tak bahagia dengan Mata indahnya, yang dapat melihat tanpa kaca


mata. Ia sama sekali tak bahagia dengan kartu debit yang Deril berikan. Ia sama sekali tak bahagia dengan hidup tanpa perlu bersusah


payah mempertahankan beasiswa.


 


 


Semua itu percuma..


Sebuah kain tebal yang tersampir di


bahunya tiba-tiba


membuat Sharon menoleh. Gadis itu


kembali ke alam


 


 


 


sadarnya.


Di dapatinya Christian tengah tersenyum ke arahnya. Sharon hanya menunduk.


 


 


kau membuka jendelanya? Udara sangat dingin." Ujar pria itu dengan nafas


yang ber-uap.


 


 


"Aku suka hujan." Sharon bergumam sangat pelan.


 


 


Christian meraih jemari Sharon ke dalam genggamannya. Pria itu menatap Sharon dengan sendu.


Ia menyelipkan anak rambut Sharon ke belakang telinganya.


 


 


"Tanganmu terasa begitu


dingin." Bisiknya.

__ADS_1


 


 


Sharon menatap pria itu dengan senyuman miring. Gadis itu sama sekali tak


melepaskan genggaman Christian. Tak ada rasa canggung lagi baginya.


 


 


Sejak dua bulan lalu, mereka mulai berteman dekat. Christian tak pernah membahas soal 'kencan' itu. Pria itu seakan-akan telah


melupakannya. Namun Sharon menyadari satu hal, bahwa ia yakin. Christian masih memilikki perasaan itu. Terlihat dari sikap


Christian yang selalu lembut padanya.


 


Pria itu bersikap seakan-akan Sharon adalah kekasihnya.


Christian selalu memberikan perhatian yang lebih. Apapun, kapanpun, Christian


selalu ada baginya.


Christian terlihat berusaha di mata Sharon. Pria itu terlihat ingin menunjukan kesungguhannya. Sharon sangat menghargai akan hal itu, namun di lain sisi ia merasa bersalah. Merasa


bersalah karena ia tak bisa membalas perasaan pria itu.


"Sharon..


"


"Apa


aku masih mendapat izin untuk menunjukan


 


 


semuanya?"


Sharon hanya


terdiam.


"Sampai


kapan?" Tanya pria itu.


"Sampai


kapan aku harus menunjukan agar kau tau?"


Sejenak Sharon menatap mata pria itu. Lalu dengan berat


hati ia meraih tangan pria itu ke dalam genggamannya. la tersenyum hangat walau


terpaksa.


"Christian,


apakah tawaran kencanmu masih


 

__ADS_1


 


berlaku?"


__ADS_2