
Ia mengambil jalan liciknya untuk memanfaatkan
Paula.
Pria itu memerintahkan Paula untuk selalu mengawasi gerak-gerik Sharon.
Deril memang tak menemui gadis itu, tapi ia akan selalu
mengawasinya. Walaupun tidak secara langsung. Pria itu akan selalu mengawasi, Amor-nya. (Cinta)
Sharon menatap rintikan hujan yang tampak turun dengan derasnya. Gadis itu mengulurkan tangannya keluar jendela
kelas. Perlahan, rintikkan itu mulai jatuh membasahi telapak tangannya.
Sharon menatap rintikkan tersebut dengan pandangan
kosong. Air terjatuh, dan rasanya begitu dingin. Gadis itu menghela nafas.
Kalut..
Kecewa..
Bingung..
Apa yang harus ia lakukan lagi sekarang? Jatuh cinta?
Ya sepertinya, menyakitkan ternyata.
Cinta yang tumbuh dari dendam seseorang itu seperti sebuah duri.
Kenapa duri?
Jika diibaratkan, Cinta dari dendam itu seperti bunga mawar dan durinya bagi Sharon.
Ketika dendam yang berperan sebagai duri itu merambat-melindungi-Batang Mawar.
Maka Mawar-yang diibaratkan seperti cinta- sedikit sulit untuk digapai. Karena
duri itu masih melingkupinya.
Dendam dan kisah cintanya..
Dan kenapa Sharon harus bersusah payah memikirkan Cintanya dan Dendam Deril?
Toh Deril pun sama sekali tak memikirkan cinta ataupun
perasaan. Pria itu sudah jelas tak membalas perasaannya. Pria itu hanya
memanfaatkannya sebagai partner dendamnya.
Pria itu hanya memikirkan dendamnya. Dendamnya pada
Christian. Entah apalagi yang akan dilakukan Deril jika mereka-Sharon dan Christian-telah menjadi sepasang
kekasih.
Sharon mengusap wajahnya dengan kasar. Seharusnya Verline
tak pernah hadir, seharusnya ia tak menerima gadis itu ke dalam kamar asramanya, sekarang semuanya menjadi sulit, rumit, dan membuatnya pening.
__ADS_1
Hidupnya tak setenang seperti dulu. Sharon merasa percuma
dengan perubahan fısiknya. Ia sama sekali tak bahagia dengan kecantikan
barunya.
Ia tak bahagia dengan para pria yang selalu mengejarnya. Ia
sama sekali tak bahagia dengan Mata indahnya, yang dapat melihat tanpa kaca
mata. Ia sama sekali tak bahagia dengan kartu debit yang Deril berikan. Ia sama sekali tak bahagia dengan hidup tanpa perlu bersusah
payah mempertahankan beasiswa.
Semua itu percuma..
Sebuah kain tebal yang tersampir di
bahunya tiba-tiba
membuat Sharon menoleh. Gadis itu
kembali ke alam
sadarnya.
Di dapatinya Christian tengah tersenyum ke arahnya. Sharon hanya menunduk.
kau membuka jendelanya? Udara sangat dingin." Ujar pria itu dengan nafas
yang ber-uap.
"Aku suka hujan." Sharon bergumam sangat pelan.
Christian meraih jemari Sharon ke dalam genggamannya. Pria itu menatap Sharon dengan sendu.
Ia menyelipkan anak rambut Sharon ke belakang telinganya.
"Tanganmu terasa begitu
dingin." Bisiknya.
__ADS_1
Sharon menatap pria itu dengan senyuman miring. Gadis itu sama sekali tak
melepaskan genggaman Christian. Tak ada rasa canggung lagi baginya.
Sejak dua bulan lalu, mereka mulai berteman dekat. Christian tak pernah membahas soal 'kencan' itu. Pria itu seakan-akan telah
melupakannya. Namun Sharon menyadari satu hal, bahwa ia yakin. Christian masih memilikki perasaan itu. Terlihat dari sikap
Christian yang selalu lembut padanya.
Pria itu bersikap seakan-akan Sharon adalah kekasihnya.
Christian selalu memberikan perhatian yang lebih. Apapun, kapanpun, Christian
selalu ada baginya.
Christian terlihat berusaha di mata Sharon. Pria itu terlihat ingin menunjukan kesungguhannya. Sharon sangat menghargai akan hal itu, namun di lain sisi ia merasa bersalah. Merasa
bersalah karena ia tak bisa membalas perasaan pria itu.
"Sharon..
"
"Apa
aku masih mendapat izin untuk menunjukan
semuanya?"
Sharon hanya
terdiam.
"Sampai
kapan?" Tanya pria itu.
"Sampai
kapan aku harus menunjukan agar kau tau?"
Sejenak Sharon menatap mata pria itu. Lalu dengan berat
hati ia meraih tangan pria itu ke dalam genggamannya. la tersenyum hangat walau
terpaksa.
"Christian,
apakah tawaran kencanmu masih
__ADS_1
berlaku?"