
Deril menghadap ke arah Sharon dan menatap wajah cantik gadis itu tanpa bersuara.
Mata cokelat dan hijau bening itu tampak bertatapan.
"Kau tampak sangat muda." Kekeh Sharon, "Aku tak menyangka.
Jujur saja, seorang pria kaya bisa menjadi seorang gadis dingin seperti Verline."
"Aku punya uang,
Sharon." Ujar Deril dengan nada arogan yang dibuat-buat.
"Hm.. aku tau." Sharon meringis, "Sebenarnya berapa usiamu?"
"24." Gumam Deril singkat.
"Serius? Kau
tau seorang CEO, mereka selalu berusia
30 ke atas-maksudku-mereka pasti Tua, berjanggut, berambut
put--" oceh gadis itu.
"Aku tau, tapi nyatanya inilah aku. Aku memang terlalu muda untuk mendapatkan jabatan itu, namun siapa
lagi yang akan memegang perusahaan jika bukan aku?" Deril mengakhiri
ucapannya dengan nada sedih.
"Tak ada yang dapat aku lakukan Sharon. Kau harus tau, hidup manusia itu penuh
Drama. Ada yang berpura- pura bahagia untuk menutupi kesedihannya, ada yang
berpura-pura baik, ada juga yang tersenyum lebar namun
hatinya remuk. Mereka bermain dengan skenario mereka untuk mendapatkan Drama yang sesuai." Jelas pria itu.
"Kau memainkan Drama-mu dengan baik. Kau menjadi
Verline untuk membalaskan dendammu."
"Dendam aku dan Renata, Sharon." Tegas pria itu.
"Ya, aku tau." Gadis itu bangkit dan duduk. Deril
mengikutinya.
__ADS_1
"Lalu selanjutnya apa?" Tanya Sharon dengan pelan.
Selanjutnya
apa?
Ya, apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa
yang harus ku lakukan?
Apakah aku juga harus memainkan drama-ku?
"Jika Christian bertanya bagaimana dengan hubungan kita, katakan padanya bahwa kita
telah putus." Pria itu menghela nafas gusar, "Dan, ajakan kencannya.
Terima saja."
"Ya."
Bisik gadis itu tak bersemangat.
Deril meraih dagu gadis itu membuat Sharon mendongak ke arahnya seketika. Wajah polos itu tampak
cantik tanpa polesan make up. Semilir
angin yang berhembus menerpa, membuat helaian rambut ombre nya hampir menutupi wajahnya.
Sharon." Bisik pria itu lembut.
Sharon menatap mata hijau bening itu dengan perlahan. Wajah pria itu semakin mendekat, selanjutnya ia merasakan sesuatu yang lembut
menyentuh bibirnya. Sharon terbelalak sejenak, namun selanjutnya ia hanya
memejamkan matanya.
Ia mengalungkan lengannya di leher pria itu. Bibir lembut pria itu terasa membelai tiap inchi bibirnya. Begitu lembut.
Sharon merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Kupu-kupu.. yah seperti kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Darahnya terasa berdesir, tubuhnya lemas.
Deril melepaskan pangutannya. Ia membelai pipi Sharon yang
merona. Gadis itu tampak begitu cantik. Wajahnya hanya menunduk malu.
"Katakan padaku Sharon, apa kau tak pernah
melakukannya?"
__ADS_1
Sharon hanya
menggeleng pelan. "Apa itu?"
Tanyanya dengan
wajah yang benar-benar polos.
Deril melongo, ia mengacak rambutnya sedikit kesal.
"Lupakan!" Ujarnya sebal.
Sharon mengernyit. Bukan
itu maksudku! Apa its, kenapa
aku merasakan sesuatu yang berdesir ketika ia menciumku?!
***
DERIL’S POV
Demi tuhan!
Aku benar-benar merasa menjadi seseorang yang jahat
sekarang. Yang benar saja gadis itu sama sekali tak tahu apa-apa soal ciuman?!
Aku merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Menatap langit-langit kamar sederhana ini dengan pandangan
kosong. Fikiranku berkelana, mengulang kembali memori tadi.pagi.
Aku kehilangan kendali, menciumnya begitu saja. Ia sama sekali tak membalas ciumanku dan
hanya terdiam. Dan semua dirinya-maksudku-ia yang diam, itu membuktikan bahwa
ia benar-benar polos.
Oh Sharon..
Apa artinya ini? Apa aku mulai menyukai gadis itu?
Dios..
Tidak mungkin! Aku tak menyukainya!
TBC
__ADS_1