Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 53


__ADS_3

Deril menyelipkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinganya. Selang beberapa detik tatapan


pria itu berupa menjadi datar. la menatap Sharon tanpa kelembutan.


Tatapan pria itu begitu menusuk.


"Maaf, tapi aku tak mencintaimu." Ujarnya datar.


Seakan petir menyambar langsung ke dalam hatinya, Sharon hanya dapat tertegun. Sengatan-sengatan listrik itu


 


menghancurkan tiap relung hatinya, masuk mengalirkan listriknya dengan perlahan, memberikan getaran kecil namun


menyakitkan.


Seketika air mata itu kembali mengalir. Ia baru merasakannya, rasa sakit teramat di dalam hatinya.


Ia mengusap air matanya dengan kasar.


Seharusnya ia sadar


ia siapa, seharusnya ia sadar.


Sharon


terlalu bodoh menyatakan perasaannya.


"Aku hanya menganggapmu sebagai partner dendamku Sharon, tak


lebih." Pria itu bergumam begitu dingin.


"Ak-aku tau." Akhirnya, ia bersyukur masih


memilikki kekuatan untuk membuka suaranya. Ia merasakan


saliva-nya benar-benar sulit untuk di telan.


"Tugasmu hanya membantuku, bukan


membawa perasaanmu." Deril bangkit, pria itu meraih jasnya.


Kemudian memakainya. Ia menatap Sharon yang tertunduk.


"Aku fikir mulai sekarang kita harus


saling menjaga jarak. Sebaiknya


cepatlah untuk menghancurkan Christian,

__ADS_1


 


aku menunggu akan hal itu." Setelah mengucapkan itu,


Deril melenggang. Meninggalkan Sharon yang membeku.


Pria itu menghilang di balik pintu. Selanjutnya Sharon


menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangannya. Ia terisak pelan.


Apa ini yang


dinamakan dengan patah hati?


Dan di samping itu, pria itu hanya dapat mengawasi.


Mata hijaunya menatap gadis yang tertunduk itu dengan sendu. Indra


pendengarannya cukup tajam untuk mendengar isakkan pelan itu.


Nanti, jika memang pada waktunya. Ia berjanji akan mengungkapkan semuanya. Sekarang


bukan saatnya, bukan waktunya untuk membawa sebuah perasaan dalam sebuah dendam.


Waktu bagaikan roda yang berputar. Sudah dua bulan ini Deril sama sekali tak menunjukan batang hidungnya di hadapan Sharon.


 


mulai


menghindar. Ia mencoba membiarkan Sharon fokus menjalakannya


'aksi'nya.


Pria itu sama sekali tak menghubungi Sharon. dan ternyata, gadis itu pun sama. Sharon tak menghubunginya. Sekalipun mengirim pesan singkat, Sharon tak pernah.


Deril menatap tumpukan kertas di meja kerjanya. Pria itu menghela nafas lelah. Sampai kapan ia akan begini?


Oh


ayolah..


Ia tak boleh lemah hanya karena cinta. Tujuan utamanya


adalah dendam, bukan cinta. Tapi.. ia benar- benar ingin memilikki gadis itu.


Segera..


Deril mengacak rambutnya dengan kesal. Ia meraih sesuatu di dalam laci meja

__ADS_1


kerjanya. Pria itu menatap benda tersebut dengan tatapan lembut.


Foto Sharon.


Ya, foto Sharon. Pria itu sengaja mengambilnya dari meja belajar Sharon.


 


Deril mengusap wajah polos tersebut dengan senyum tersungging di bibimya. Kemudian ia meraih ponselnya, ia tampak menelpon seseorang.


"Bagaimana Paula?"


Ujarnya to-the-point.


"Mereka terlihat sering berjalan berdua, namun Mandy tampak tak menyukainya. Ku dengar pertunangan Christian dengannya di


batalkan." Suara di sebrang sana tampak menjelaskan.


"Bagus, kabari aku lagi nanti." Deril menutup


sambungan telfon dan mengerang pelan.


Bukan dirinya jika


ia tak licik.


Bahkan teman dekat Sharon-pun tunduk kepadanya.


Paula nama gadis itu, orang tuanya hampir saja bangkrut beberapa pekan lalu


jika perusahaan Deril tak menolongnya.


Lagi-lagi


karena uang, begitu pentingkah uang bagi


manusia?


Sejak saat itu, Paula mulai sering menghubunginya. Gadis


itu selalu memohon agar Deril mau membantu


 


perusahaan ayahnya.


Tentu saja, kesempatan itu Deril pergunakan sebaik mungkin.


TBC

__ADS_1


__ADS_2