
Deril menyelipkan helaian rambut gadis itu ke belakang telinganya. Selang beberapa detik tatapan
pria itu berupa menjadi datar. la menatap Sharon tanpa kelembutan.
Tatapan pria itu begitu menusuk.
"Maaf, tapi aku tak mencintaimu." Ujarnya datar.
Seakan petir menyambar langsung ke dalam hatinya, Sharon hanya dapat tertegun. Sengatan-sengatan listrik itu
menghancurkan tiap relung hatinya, masuk mengalirkan listriknya dengan perlahan, memberikan getaran kecil namun
menyakitkan.
Seketika air mata itu kembali mengalir. Ia baru merasakannya, rasa sakit teramat di dalam hatinya.
Ia mengusap air matanya dengan kasar.
Seharusnya ia sadar
ia siapa, seharusnya ia sadar.
Sharon
terlalu bodoh menyatakan perasaannya.
"Aku hanya menganggapmu sebagai partner dendamku Sharon, tak
lebih." Pria itu bergumam begitu dingin.
"Ak-aku tau." Akhirnya, ia bersyukur masih
memilikki kekuatan untuk membuka suaranya. Ia merasakan
saliva-nya benar-benar sulit untuk di telan.
"Tugasmu hanya membantuku, bukan
membawa perasaanmu." Deril bangkit, pria itu meraih jasnya.
Kemudian memakainya. Ia menatap Sharon yang tertunduk.
"Aku fikir mulai sekarang kita harus
saling menjaga jarak. Sebaiknya
cepatlah untuk menghancurkan Christian,
__ADS_1
aku menunggu akan hal itu." Setelah mengucapkan itu,
Deril melenggang. Meninggalkan Sharon yang membeku.
Pria itu menghilang di balik pintu. Selanjutnya Sharon
menenggelamkan wajahnya di balik telapak tangannya. Ia terisak pelan.
Apa ini yang
dinamakan dengan patah hati?
Dan di samping itu, pria itu hanya dapat mengawasi.
Mata hijaunya menatap gadis yang tertunduk itu dengan sendu. Indra
pendengarannya cukup tajam untuk mendengar isakkan pelan itu.
Nanti, jika memang pada waktunya. Ia berjanji akan mengungkapkan semuanya. Sekarang
bukan saatnya, bukan waktunya untuk membawa sebuah perasaan dalam sebuah dendam.
Waktu bagaikan roda yang berputar. Sudah dua bulan ini Deril sama sekali tak menunjukan batang hidungnya di hadapan Sharon.
mulai
menghindar. Ia mencoba membiarkan Sharon fokus menjalakannya
'aksi'nya.
Pria itu sama sekali tak menghubungi Sharon. dan ternyata, gadis itu pun sama. Sharon tak menghubunginya. Sekalipun mengirim pesan singkat, Sharon tak pernah.
Deril menatap tumpukan kertas di meja kerjanya. Pria itu menghela nafas lelah. Sampai kapan ia akan begini?
Oh
ayolah..
Ia tak boleh lemah hanya karena cinta. Tujuan utamanya
adalah dendam, bukan cinta. Tapi.. ia benar- benar ingin memilikki gadis itu.
Segera..
Deril mengacak rambutnya dengan kesal. Ia meraih sesuatu di dalam laci meja
__ADS_1
kerjanya. Pria itu menatap benda tersebut dengan tatapan lembut.
Foto Sharon.
Ya, foto Sharon. Pria itu sengaja mengambilnya dari meja belajar Sharon.
Deril mengusap wajah polos tersebut dengan senyum tersungging di bibimya. Kemudian ia meraih ponselnya, ia tampak menelpon seseorang.
"Bagaimana Paula?"
Ujarnya to-the-point.
"Mereka terlihat sering berjalan berdua, namun Mandy tampak tak menyukainya. Ku dengar pertunangan Christian dengannya di
batalkan." Suara di sebrang sana tampak menjelaskan.
"Bagus, kabari aku lagi nanti." Deril menutup
sambungan telfon dan mengerang pelan.
Bukan dirinya jika
ia tak licik.
Bahkan teman dekat Sharon-pun tunduk kepadanya.
Paula nama gadis itu, orang tuanya hampir saja bangkrut beberapa pekan lalu
jika perusahaan Deril tak menolongnya.
Lagi-lagi
karena uang, begitu pentingkah uang bagi
manusia?
Sejak saat itu, Paula mulai sering menghubunginya. Gadis
itu selalu memohon agar Deril mau membantu
perusahaan ayahnya.
Tentu saja, kesempatan itu Deril pergunakan sebaik mungkin.
TBC
__ADS_1