
Dan benar saja dugaannya, ketika mereka telah berada di depan kelas. Mr. Darry telah mematung di depan kelas- menerangkan teori.
Sharon meringis,
mereka pasti di hukum.
"Miss Iglesias dan Miss Santos? Kalian
terlambat?" Mr.Darry tampak menatap mereka dengan sedikit kesal.
"Maaf Sir, kami bangun terlambat." Ujar Verline
dengan nada menyesal dibuat-buat.
"Oke baiklah, kali ini aku tidak akan menghukum
kalian. Tapi lain kali, jangan mencoba lari dari hukuman yang akan kuberikan.
Sekarang duduklah!"
"¡Gracias sir!" (Terima kasih pak) bisik
Sharon pelan.
Mr.Darry hanya
membalasnya dengan anggukkan.
Verline melangkah lebih dahulu ke tempat
duduknya. Tatapannya bertemu dengan Christian. Christian tersenyum, ia hanya mendengus menunjukkan wajah datarnya.
Setelah Sharon dan Verline sama-sama duduk. Sharon melirik ke arah Christian. Ia menghela nafas. Pria
itu sama sekali tak menunjukan rasa bersalahnya. Mungkin
__ADS_1
Deril
benar..
Sharon memfokuskan pandangannya pada Mr.Darry. ia
sedikit terlonjak kaget ketika mendapatkan lemparan gumpalan kertas dari
seseorang. Sharon mengerutkan keningnya. Lalu
pandangannya bertemu dengan Christian, pria itu tampak tersenyum tipis.
Sharon membuka
gumpalan kertas tersebut.
I’m sorry..
Sharon tersenyum membacanya lalu ia segera menuliskan balasannya disana. Di lemparkannya kertas tersebut pada Christian.
Its okay .. aku sangat mengerti. Mandy kekasihmu.
Percayalah.. apakah kita bisa bertemu? Nanti? Di kantin?
Sharon tersenyum dalam hati membacanya. Apa benar Christian
tak menyukai Mandy?
Um.. kantin terlalu ramai. Apakah bisa di taman kemarin?Di lemparkannya kembali kertas tersebut secara hati- hati. Verline yang melihat itu hanya dapat mendengus. Ini pertanda baik, namun entah kenapa ia merasakan hatinya panas -membara tepatnya.
oke miel .. (sayang)
Sharon merona membaca kata 'nadine' dalam kertas tersebut. Ia melirik ke arah Christian, ia tampak tersenyum manis ke arahnya. Hatinya mulai bergejolak bahagia, bunga-bunga itu bagaikan bermekaran.
Christian melirik ke arah Sharon yang tampak hanya terdiam. Sedari tadi mereka telah
__ADS_1
duduk disini tapi sama sekali tak ada percakapan yang di buka. Christian masih
bungkam, begitupun Sharon.
"Maaf." Bisik Christian pada akhirnya.
"Tak apa, aku yang salah." Sharon membalasnya
dengan senyuman.
"Hm.. kenapa kau menyalahkan dirimu?" "Err itu ... tidak ada-" Sharon tergagap.
"Kau tampak selalu gugup bersamaku. Kenapa?" Christian terkekeh. Tangannya terulur, untuk kedua kalinya ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sharon.
Sharon merona. "Tidak! Tak apa-apa."
Christian tiba-tiba meraih tangan Sharon ke dalam genggamannya. Sharon tergagap. Ia salah tingkah.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal. Acara yang dibuat Mandy terlalu mendadak sehingga aku tak dapat menolak."
"Hei, kau tak perlu begini." Sharon menarik tangannya dari genggaman Christian.
"Oh iya, maaf." Christian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku keterlaluan ya? Mengajakmu makan malam padahal kita baru saja saling kenal."
"Tidak juga." Sharon memaksakan sebuah senyuman. Ia melirik sekitarnya lalu pandangannya seketika berhenti. Ia melihat Verline yang tampak tengah mengintipnya. Gadis itu menatapnya dengan penuh peringatan."Err.. Christian. Sepertinya aku harus segera pergi, permisi."
"Kenapa begitu terburu-buru?" "Tidak aku benar-benar harus pergi." "Baiklah, jika ada waktu lagi--"
Sharon tak mendengarkan ucapan Christian dan lebih memilih mempercepat langkahnya. Christian menatap punggung gadis itu dengan senyuman sinis.
Deril merapikan kemejanya. Ia mematut dirinya di cermin. Sedangkan Sharon, gadis itu hanya menunduk seraya menatap kedua kakinya. Semuanya tampak menarik untuk ia pandang. Ia sama sekali tak berani memandang Deril.
__ADS_1
TBC