
Sharon dengan hangat memeluk anak-anak itu dan tersenyum lebar. Pun Ia tak
sungkan-sungkan mencium pipi anak-anak lucu itu. Sedangkan Deril, ia hanya
terdiam menatap sosok Sharon.
Seulas senyum terukir di bibir Deril. Lalu seseorang tampak
mendekat. Seorang wanita separuh baya tampak mendekati mereka.
"Sharon!" Serunya. Sharon segera berhambur ke
dalam pelukannya.
"Madre!" (Ibu)
"Oh Sharon, Como Estas?” (Apa kabar?) "Baik Madre, bagaimana denganmu?"
"Aku baik. Kami semua merindukanmu. Ayo
masuklah." Tatapan wanita separuh baya itu tampak meneliti sosok Deril, “Usted?” (kau)
"Dia Deril, temanku.” Sahut Sharon cepat. "Baiklah, Ayo masuk."
Mereka pun memasukki sebuah rumah yang tampak begitu sederhana. Kecil namun terasa nyaman begitu Deril memasukkinya. Pria itu menatap isi
rumah tersebut dengan teliti. Ibu Sharon mempersilahkan mereka untuk duduk,
sedangkan ia pergi menyiapkan minum dan makanan.
"Ini
rumahmu?" Tanya Deril tak percaya.
Sharon mengangguk seraya mengulum senyum, "Ya ini rumahku."
"Kau yakin?" Pria itu
setengah berbisik.
"Inilah sebabnya mengapa aku tak ingin membawamu kesini." Gadis itu memutar bola matanya dengan kesal.
Deril menghentikan ucapannya ketika Ibu Sharon menghampiri mereka. Wanita itu tampak ramah dan penuh senyum. Wajah latinnya mirip sekali dengan wajah Sharon.
"Silahkan dinikmati." Ucap
Maria seraya tersenyum.
Deril mengangguk kikuk lalu tersenyum. Ia
menegak minuman
di hadapannya.
Maria mengamati sosok Deril lalu ia mengalihkan pandangannya
pada Sharon. Anak gadisnya tampak berbeda.
__ADS_1
Kemana kaca matanya?
Ia akan menanyakannya nanti.
Setelah selesai makan malam, Sharon
mengantarkan Deril menuju kamar yang akan pria itu tempati. Pria itu
menolak menyewa hotel. Sharon pikir, Deril tidak akan
betah tidur disini. Ini bukan tempat yang layak baginya,
namun ia salah. Deril menyukai suasana seperti ini rupanya.
"Nah.. ini kamarmu.” Sharon menyerahkan kunci kamar di
tangannya kepada Deril.
Deril mengangguk, ”Gracias." (Terima kasih)
"De Nada.“ (Sama-sama) Sharon tersenyum tipis, ia melangkah
menuju kamarnya. Deril memandang punggung mungil itu menjauh lalu ia pun masuk ke dalam
kamarnya.
Sharon menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu menghela nafas lega. Akhirnya ia dapat bertemu dengan ibunya, walaupun ia belum sempat bertemu dengan
ayahnya karena beliau masih bekeıja. Ia cukup senang hari ini.
Tiba-tiba ketukan di pintu kamarnya membuat gadis itu
Ternyata Maria yang
mengetuk pintu. Wanita itu segera masuk dan duduk di samping Sharon.
"Apa yang
terjadi?" Tanyanya tanpa basa-basi. "A-apa
maksud, Mad--"
"Sharon,
aku bertanya padamu." Sela wanita itu.
Sharon menunduk. Gadis itu hanya menatap kedua tangannya
yang saling berpegangan.
"Beritahu aku, apa kau mengecewakanku?" Maria
tampak menatap anaknya dengan sedih, "apa kau menjual sesuatu yang berharga dari dalam dirimu?"
"Madrè!" Sharon berujar dengan
sangat lemah. "Katakan padaku, Sharon!" Bentak Maria tak sabar.
__ADS_1
Sharon hanya terisak pelan.
"Kau tampak berbeda. Kau
seperti mereka, rambutmu di cat, matamu-kemana kaca matamu? Kau tampak bergaya seperti orang
kaya diluar sana." Maria menatap anaknya dengan pandangan tak habis pikìr, "Apa kau pikir aku bodoh? Aku tau pria itu siapa,
dia Deril Hernandez. Dia pemilik cabang perusahaan dimana ayahmu bekerja."
Jelasnya.
"Kau
mengetahuinya?" Bisik Sharon.
"Aku tau, Shar. Dengarkan aku, jangan berurusan
dengannya. Fikirkan masa depanmu sayang. Aku berjanji aku akan
menuruti kemauanmu jika kau mau menjauhinya." Lirih Maria.
"Madre, dengarkan aku. Kumohon.. aku sama sekali
tak menjual apapun dari dalam diriku. Memang Deril yang memberi semuanya padaku, tapi... aku. Kami.."
"Katakan
padaku?!"
Sharon
menarik napas, "Dia kekasihku." Ujamya
tegas.
"A-apa?!"
"Sejak kapa--"
"Dia membiayai seluruh
pengobatan mataku, sekolah, biaya asrama, bekalku, dia membayar semuanya. Dia pria yang
baik." Jelas Sharon dengan pandangan yang nanar. Gadis itu mencoba menunjukan raut wajah bahagianya.
"Oh dios! Aku
benar-benar merasa sangat berdosa sekarang. Aku telah menuduhmu, maafkan
aku!"
"Tak apa."
Sharon tersenyum masam.
"Baiklah, istirahatlah. Aku tau kau lelah. Maafkan aku,
__ADS_1
Shar." Bisik Maria kemudian ia menghilang di balik pintu.
TBC