Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 42


__ADS_3

Sharon dengan hangat memeluk anak-anak itu dan tersenyum lebar. Pun Ia tak


sungkan-sungkan mencium pipi anak-anak lucu itu. Sedangkan Deril, ia hanya


terdiam menatap sosok Sharon.


 


Seulas senyum terukir di bibir Deril. Lalu seseorang tampak


mendekat. Seorang wanita separuh baya tampak mendekati mereka.


"Sharon!" Serunya. Sharon segera berhambur ke


dalam pelukannya.


"Madre!" (Ibu)


"Oh Sharon, Como Estas?” (Apa kabar?) "Baik Madre, bagaimana denganmu?"


"Aku baik. Kami semua merindukanmu. Ayo


masuklah." Tatapan wanita separuh baya itu tampak meneliti sosok Deril, “Usted?” (kau)


"Dia Deril, temanku.” Sahut Sharon cepat. "Baiklah, Ayo masuk."


Mereka pun memasukki sebuah rumah yang tampak begitu sederhana. Kecil namun terasa nyaman begitu Deril memasukkinya. Pria itu menatap isi


rumah tersebut dengan teliti. Ibu Sharon mempersilahkan mereka untuk duduk,


sedangkan ia pergi menyiapkan minum dan makanan.


"Ini


rumahmu?" Tanya Deril tak percaya.


 


Sharon mengangguk seraya mengulum senyum, "Ya ini rumahku."


"Kau yakin?" Pria itu


setengah berbisik.


"Inilah sebabnya mengapa aku tak ingin membawamu kesini." Gadis itu memutar bola matanya dengan kesal.


Deril menghentikan ucapannya ketika Ibu Sharon menghampiri mereka. Wanita itu tampak ramah dan penuh senyum. Wajah latinnya mirip sekali dengan wajah Sharon.


"Silahkan dinikmati." Ucap


Maria seraya tersenyum.


Deril mengangguk kikuk lalu tersenyum. Ia


menegak minuman


di hadapannya.


Maria mengamati sosok Deril lalu ia mengalihkan pandangannya


pada Sharon. Anak gadisnya tampak berbeda.

__ADS_1


Kemana kaca matanya?


Ia akan menanyakannya nanti.


Setelah selesai makan malam, Sharon


mengantarkan Deril menuju kamar yang akan pria itu tempati. Pria itu


menolak menyewa hotel. Sharon pikir, Deril tidak akan


 


betah tidur disini. Ini bukan tempat yang layak baginya,


namun ia salah. Deril menyukai suasana seperti ini rupanya.


"Nah.. ini kamarmu.” Sharon menyerahkan kunci kamar di


tangannya kepada Deril.


Deril mengangguk, ”Gracias." (Terima kasih)


"De Nada.“ (Sama-sama) Sharon tersenyum tipis, ia melangkah


menuju kamarnya. Deril memandang punggung mungil itu menjauh lalu ia pun masuk ke dalam


kamarnya.


Sharon menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu menghela nafas lega. Akhirnya ia dapat bertemu dengan ibunya, walaupun ia belum sempat bertemu dengan


ayahnya karena beliau masih bekeıja. Ia cukup senang hari ini.


Tiba-tiba ketukan di pintu kamarnya membuat gadis itu


 


Ternyata Maria yang


mengetuk pintu. Wanita itu segera masuk dan duduk di samping Sharon.


"Apa yang


terjadi?" Tanyanya tanpa basa-basi. "A-apa


maksud, Mad--"


"Sharon,


aku bertanya padamu." Sela wanita itu.


Sharon menunduk. Gadis itu hanya menatap kedua tangannya


yang saling berpegangan.


"Beritahu aku, apa kau mengecewakanku?" Maria


tampak menatap anaknya dengan sedih, "apa kau menjual sesuatu yang berharga dari dalam dirimu?"


"Madrè!" Sharon berujar dengan


sangat lemah. "Katakan padaku, Sharon!" Bentak Maria tak sabar.

__ADS_1


Sharon hanya terisak pelan.


"Kau tampak berbeda. Kau


seperti mereka, rambutmu di cat, matamu-kemana kaca matamu? Kau tampak bergaya seperti orang


kaya diluar sana." Maria menatap anaknya dengan pandangan tak habis pikìr, "Apa kau pikir aku bodoh? Aku tau pria itu siapa,


dia Deril Hernandez. Dia pemilik cabang perusahaan dimana ayahmu bekerja."


Jelasnya.


 


"Kau


mengetahuinya?" Bisik Sharon.


"Aku tau, Shar. Dengarkan aku, jangan berurusan


dengannya. Fikirkan masa depanmu sayang. Aku berjanji aku akan


menuruti kemauanmu jika kau mau menjauhinya." Lirih Maria.


"Madre, dengarkan aku. Kumohon.. aku sama sekali


tak menjual apapun dari dalam diriku. Memang Deril yang memberi semuanya padaku, tapi... aku. Kami.."


"Katakan


padaku?!"


Sharon


menarik napas, "Dia kekasihku." Ujamya


tegas.


"A-apa?!"


"Sejak kapa--"


"Dia membiayai seluruh


pengobatan mataku, sekolah, biaya asrama, bekalku, dia membayar semuanya. Dia pria yang


baik." Jelas Sharon dengan pandangan yang nanar. Gadis itu mencoba menunjukan raut wajah bahagianya.


"Oh dios! Aku


benar-benar merasa sangat berdosa sekarang. Aku telah menuduhmu, maafkan


aku!"


"Tak apa."


Sharon tersenyum masam.


 


"Baiklah, istirahatlah. Aku tau kau lelah. Maafkan aku,

__ADS_1


Shar." Bisik Maria kemudian ia menghilang di balik pintu.


TBC


__ADS_2