
"Kumohon.. tidak dengan beasiswaku!" Sharon
merengek. Wajahnya tampak memelas.
Deril terkekeh sinis, "Ck! Aku tak suka berbasa-basi
sebenarnya." Pria itu mendengus.
"Jadi apa yang kau mau?" Tanya Sharon serak.
"Kau."
"Ma-maksudmu?"
"Jangan salah sangka. Aku mau kau untuk membantuku,
menghancurkan Christian." kelas Deril dengan tenang.
"Christian?
Apa maksudmu?" Sharon tampak terbata.
Apa maksud dari perkataan pria ini. Kemana arah keinginannya. Kenapa ia ingin menghancurkan
Christian? Dan kenapa harus aku?
"Ya."
Jawabnya singkat. "Jadi semua yang kau berík-"
"Kau tau Nona, di dunía ini tak ada yang gratis.
Lakukan atau aku akan mencabut beasiswamu!" Deril menggeram pelan.
"Tapi, aku
tak bisa. Aku mencintai--"
"Persetan dengan cinta! Jangan hanyut pada
ucapannya!" Deril memggeram. Seketika Sharon menunduk.
"Dia bahkan dengan tega menghamili adikku." Lirih Deril.
"Christian
tidak seperti itu!"
"Kau akan tau jawabannya besok." Deril memejamkan matanya.
__ADS_1
Pria itu sama sekali tak menghiraukan Sharon yang masih terjaga.
Sharon melirik ke arah Deril dengan takut-takut. Ya tuhan..
apa ini? Bagaimana bisa dia satu kamar dengan seorang pria selama ini? Dan pria
itu.. dia sangat membenci Christian. Apa yang harus ia lakukan? Sosok Verline
yang ia kenal sebagai wanita ternyata seorang pria. Seorang pria yang begitu
tampan.
Ia tak pernah menyangka kenapa dengan mudahnya ia bisa tertipu?
Sharon kau terlalu
bodoh.
Sharon
menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Tanpa berniat mengganti pakaiannya, ia pun terlelap.
Kelopak mata itu mengerjap ketika merasakan silau cahaya
matahari yang menyilaukan matanya. Gadis itu bangkit. Ia meregangkan tubuhnya
kesadaran yang telah penuh, ia melangkah menuju kamar mandi.
Sharon mematut dirinya di cermin. Ia mendesah gusar.
Fikirannya semalam berkelana, dan sekarang pun masih berkelana. Semua kenyataan
yang terungkap tadi malam benar-benar seperti mimpi.
Ia segera memakai pakaiannya. Gadis itu segera keluar dari kamar mandi. Ia terlonjak kaget ketika melihat sosok Verline yang tengah mematung tepat di hadapannya. Oh.. bukan bukan! Ia meralat, itu Deril!
"Kenapa lama
sekali?" Dengus pria itu.
Kenapa pria?
Karena dia
tak menggunakan suara cempreng milik Verline lagi, yang ada sekarang ia bersuara dengan suara bass-nya.
Sharon menggeleng gugup. Ia segera melenggang dari
hadapan gadis-setengah-pria itu. Ia
__ADS_1
duduk seraya menyisir rambut ombre nya.
Deril yang tampak kesal berdecak. Ia benar-benar kesal dengan Sharon yang menurutnya bertele-tele dalam
berpikir. Kenapa gadis itu tak menyadarinya sejak kemarin? Mungkin itu lebih baik.
"Dengar Sharon, kau masih ingat aku 'kan?"
Sharon menoleh dengan berat hati, "ya, kau Deril
'kan?" Cicitnya. Suaranya seakan hilang di telan aura kekuasaan milik pria
di hadapannya.
"Bagus. Ingatanmu kuat
ternyata." Ejeknya. Sharon memutar bola matanya setengah malas
dan setengah gugup.
"Aku ingin kau memulainya dari sekarang karena kau sudah tau siapa aku." Pria itu menatap Sharon dalam.
Sharon terlihat salah tingkah, ditatap seperti itu
membuatnya seakan di telanjangi. Pria itu gila jika menyuruhnya untuk menghancurkan Christian. Jelas-jelas ia menyukai
sosok itu.
"Apa kau masih memikirkan perasaanmu terhadap
Christian?"
Sharon hanya terdiam. Tepat sekali! Ia memang sangat
memikirkannya.
"Percayalah padaku bahwa kau tak lebih dari mengaguminya. Kau tak
mencintainya Sharon!" Deril mendengus.
Cinta? Oh ayolah.. baginya cinta hanya *****. Rasa tertarik
yang sama sekali tak ada artinya. Ia sama sekali tak memikirkan cinta lagi
sejak adiknya korna. Entah kenapa, sekarang jiwanya telah kelam. Hatinya
terkubur dalam tak ingin merasakan cinta.
TBC
__ADS_1