Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 67


__ADS_3

la menangis di temani angin malam yang berhembus.


Dingin.. rasa dingin itu di kalahkan oleh rasa panas di hatinya. Hatinya panas membara karena kesakitan yang ia rasakan.


Tiba-tiba sebuah kain melambai tepat di hadapan wajahnya.


Sharon mendongakkan wajahnya. Seketika mata cokelat miliknya membelalak.


 


"Deril?!" Serunya.


Ia segera bangkit dan memeluk pria itu. Sharon terisak


pelan. Di tenggelamkannya wajah gadis itu pada


lekukan leher Deril.


"Jangan pergi, kumohon jangan pergi.. " isaknya.


Deril tersenyum. Pria itu mengusap rambut Sharon dengan


lembut. Di lepaskannya pelukannya. Pria itu menangkup wajah Sharon dengan


telapak tangannya.


"Kenapa kau menangis? Angin malam disini tak baik untukmu." Bisiknya.


Sharon menggeleng pelan. Ia masih dengan isakkannya,


"Kumohon jangan pergi.. " bisiknya.


Deril mengusap air mata gadis itu dengan lembut. Di tatapnya mata sembab gadis itu.


"Kau terlalu banyak menangis." pria itu menggeleng tak senang.


"Aku.. "


"Aku tau, aku tau Sharon. Kau mencintaiku.. "


kekehnya.


 


Sharon mendengus, namun gadis itu tertawa. "Jangan


pergi." Ucapnya lagi.


"Aku   tak   akan   pergi,   asalkan kau  mau  tinggal bersamaku." Pria itu mengusap pipi Sharon dengan pelan.


Sharon mengangguk, "Dendammu telah terbalaskan,


Christian telah pergi."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Dia pergi untuk


selamanya."


Deril memejamkan matanya. la kembali mendekap Sharon ke dalam


pelukannya.


"Astaga.. ”


"Bukankah    kau     senang?"    Sharon    melepaskan


pelukannya


dan menatap Deril.


Pria    itu     tampak    mendengus,     "Aku     memang membencinya, tapi untuk membunuhnya aku tak yakin."


"Ku fikir--"


"Hmph..! " Sharon


menepuk pundak pria itu ketika tiba-tiba Deril menciumnya. Namun setelah


beberapa


 


detik gadis itu


Mereka saling menatap, saling menyalurkan perasaan mereka masing-masing. Mta hijau


bening milik Deril dengan mata cokelat milik Sharon. Hingga suara dehaman membuat mereka


saling tergagap.


"Apa kau tak akan memasangkan cincinnya sayang?"


Ujar Maria ketika dilihatnya Sharon masih saja terdiam.


Sharon merona. Gadis itu tergagap. Ía segera memasangkan cincin pertunangannya pada Deril. Dan Pria itu hanya terkekeh pelan.


Setelah beberapa hari lulus dari Sekolahnya, Sharon langsung dilamar Deril. Bukan


melamar untuk menikah, melainkan pria itu


melamarnya untuk bertunangan. Sharon menolak jika untuk menikah, gadis


itu masih ingin melanjutkan study-nya.


Riuh tepuk tangan membuat mereka berdua tersenyum lebar.


Deril mendekat lalu mencium kening


 

__ADS_1


Sharon dengan lembut. Lalu


ciumannya turun pada bibir gadis itu. Di kecupnya dengan pelan bibir Sharon.


"Apa kau


bahagia?"


"Sangat."


Sharon mengulum senyum.


Mereka tengah menerima ucapan selamat dari tamu yang hadir. Satu per-satu tamu undangan mulai menyalami seraya memberíkan ucapan selamat. Hingga pria itu..


Christian Derevano..


Pria itu tersenyum tulus lalu menyalami Deril dan Sharon.


Sharon menatapnya tanpa canggung. Gadis itu membalas senyuman Christian.


Christian, pria itu sempat dikabarkan meregang nyawa oleh


dokter. Namun ternyata itu hanyalah rencananya. Pria itu sengaja menyuruh sang


dokter mengatakan pada Sharon bahwa dirinya telah tiada.


Christian ingin tahu apakah Sharon mencintainya atau tidak,


apakah gadis itu akan memilihnya?


Dan akhirnya ia mengetahui semua jawabannya. Gadis itu tak


mencintainya. Gadis itu mencintai Deril Hemandez.


 


Walau berat, Akhirnya Christian


melepaskan Sharon untuk Deril. Ia tahu bahwa melepaskan untuk kebahagiaan itu


memang pilihan yang terbaik. Demi kebahagiaan Sharon,


ia rela melepaskannya dan menyerahkannya pada Deril.


"Te


amo." Bisik Deril ketika Christian telah pergi.


"Te


amo." Balas


Sharon. (aku mencintaimu)


 

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2