
la menangis di temani angin malam yang berhembus.
Dingin.. rasa dingin itu di kalahkan oleh rasa panas di hatinya. Hatinya panas membara karena kesakitan yang ia rasakan.
Tiba-tiba sebuah kain melambai tepat di hadapan wajahnya.
Sharon mendongakkan wajahnya. Seketika mata cokelat miliknya membelalak.
"Deril?!" Serunya.
Ia segera bangkit dan memeluk pria itu. Sharon terisak
pelan. Di tenggelamkannya wajah gadis itu pada
lekukan leher Deril.
"Jangan pergi, kumohon jangan pergi.. " isaknya.
Deril tersenyum. Pria itu mengusap rambut Sharon dengan
lembut. Di lepaskannya pelukannya. Pria itu menangkup wajah Sharon dengan
telapak tangannya.
"Kenapa kau menangis? Angin malam disini tak baik untukmu." Bisiknya.
Sharon menggeleng pelan. Ia masih dengan isakkannya,
"Kumohon jangan pergi.. " bisiknya.
Deril mengusap air mata gadis itu dengan lembut. Di tatapnya mata sembab gadis itu.
"Kau terlalu banyak menangis." pria itu menggeleng tak senang.
"Aku.. "
"Aku tau, aku tau Sharon. Kau mencintaiku.. "
kekehnya.
Sharon mendengus, namun gadis itu tertawa. "Jangan
pergi." Ucapnya lagi.
"Aku tak akan pergi, asalkan kau mau tinggal bersamaku." Pria itu mengusap pipi Sharon dengan pelan.
Sharon mengangguk, "Dendammu telah terbalaskan,
Christian telah pergi."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Dia pergi untuk
selamanya."
Deril memejamkan matanya. la kembali mendekap Sharon ke dalam
pelukannya.
"Astaga.. ”
"Bukankah kau senang?" Sharon melepaskan
pelukannya
dan menatap Deril.
Pria itu tampak mendengus, "Aku memang membencinya, tapi untuk membunuhnya aku tak yakin."
"Ku fikir--"
"Hmph..! " Sharon
menepuk pundak pria itu ketika tiba-tiba Deril menciumnya. Namun setelah
beberapa
detik gadis itu
Mereka saling menatap, saling menyalurkan perasaan mereka masing-masing. Mta hijau
bening milik Deril dengan mata cokelat milik Sharon. Hingga suara dehaman membuat mereka
saling tergagap.
"Apa kau tak akan memasangkan cincinnya sayang?"
Ujar Maria ketika dilihatnya Sharon masih saja terdiam.
Sharon merona. Gadis itu tergagap. Ía segera memasangkan cincin pertunangannya pada Deril. Dan Pria itu hanya terkekeh pelan.
Setelah beberapa hari lulus dari Sekolahnya, Sharon langsung dilamar Deril. Bukan
melamar untuk menikah, melainkan pria itu
melamarnya untuk bertunangan. Sharon menolak jika untuk menikah, gadis
itu masih ingin melanjutkan study-nya.
Riuh tepuk tangan membuat mereka berdua tersenyum lebar.
Deril mendekat lalu mencium kening
__ADS_1
Sharon dengan lembut. Lalu
ciumannya turun pada bibir gadis itu. Di kecupnya dengan pelan bibir Sharon.
"Apa kau
bahagia?"
"Sangat."
Sharon mengulum senyum.
Mereka tengah menerima ucapan selamat dari tamu yang hadir. Satu per-satu tamu undangan mulai menyalami seraya memberíkan ucapan selamat. Hingga pria itu..
Christian Derevano..
Pria itu tersenyum tulus lalu menyalami Deril dan Sharon.
Sharon menatapnya tanpa canggung. Gadis itu membalas senyuman Christian.
Christian, pria itu sempat dikabarkan meregang nyawa oleh
dokter. Namun ternyata itu hanyalah rencananya. Pria itu sengaja menyuruh sang
dokter mengatakan pada Sharon bahwa dirinya telah tiada.
Christian ingin tahu apakah Sharon mencintainya atau tidak,
apakah gadis itu akan memilihnya?
Dan akhirnya ia mengetahui semua jawabannya. Gadis itu tak
mencintainya. Gadis itu mencintai Deril Hemandez.
Walau berat, Akhirnya Christian
melepaskan Sharon untuk Deril. Ia tahu bahwa melepaskan untuk kebahagiaan itu
memang pilihan yang terbaik. Demi kebahagiaan Sharon,
ia rela melepaskannya dan menyerahkannya pada Deril.
"Te
amo." Bisik Deril ketika Christian telah pergi.
"Te
amo." Balas
Sharon. (aku mencintaimu)
__ADS_1
TAMAT