Cinta Atau Dendam

Cinta Atau Dendam
BAB 27


__ADS_3

Sharon mensejajarkan dirinya dengan Deril. Ia merasa


kebingungan, bingung harus melakukan apa. Lalu dengan


 


segenap keberaniannya, ia menepuk-nepuk


pundak pria itu. Pria itu


tampak terpuruk. Deril menangis tersedu-sedu.


"Ssh .. Deril kau harus sabar, kau harus bisa


menerimanya." Sharon mencoba menyemangati.


"Tidak Shar, aku tak dapat menerimanya!" Deril


terisak.


"Kau harus bisa menerimanya, adikmu sudah tenang sekarang."


Bisik Sharon.


Deril mendongak, pria itu tersenyum kecut. "Semua ini


terjadi karena pria brengsek itu! Aku akan membunuhnya


sekarang juga!" Pria itu bangkit melangkah keluar. Sharon tampak membelalak, ia segera mengejar Deril.


Pria itu tampak melangkah begitu tergesa, terlalu cepat.


Sharon hampir tak dapat mensejajarkan langkahnya. Namun pada akhirnya ia


berhasil, ia berhasil menghalangi langkah Deril.


"Minggir


Sharon!" Bentak pria itu.


"Tidak Deril,


tidak!" Suara Sharon hampir bergetar.


 


"Minggir Sharon!" Deril


menggeram. Ia melangkah cepat, namun langkahnya terhenti


karena Sharon memeluknya. la membeku seketika.


"Kumohon jangan ." bisik Sharon dengan suara bergetar. Ia hampir saja menangis terisak sekarang. Deril tak boleh

__ADS_1


melakukannya, semua ini dapat di bicarakan secara baik-baik.


"Lepas,


Shar.." ujar Deril pelan.


"Kumohon jangan Deril.. kumohon


jangan.. " Sharon tampak memelas. Ia masih keras kepala


tak berniat melepaskan pelukannya.


Deril terdiam. Ia membiarkan Sharon memeluknya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasakan rasa


nyaman dan tenang sekaligus.


"Kumohon.. ” lirih Sharon.


Deril menghela nafas, pada akhirnya ia


melepaskan pelukan Sharon. Di tatapnya Sharon yang tengah terisak.


"Aku tak akan


membunuhnya."


Seketika Sharon mendongak, ia menatap


Deril dengan mata berbinar.


 


"Tapi apa?! Katakanlah!" Pinta Sharon tak sabar.


"Kau harus menuruti kemauanku untuk menghancurkan


Christian. Bagaimana?" Pria itu tersenyum licik.


Sharon terdiam.


"Atau aku akan menyuruh seseorang untuk membunuhnya sekarang juga?" Deril meraih ponsel


dari sakunya. Dengan cepat Sharon mencekal tangannya.


"Aku bersedia." Ujarnya tanpa pikir panjang.


 Pemakaman itu sepi.. hanya di datangi oleh beberapa


orang. Deril beıjongkok menghadap nisan salib adiknya. Ia mengusap nisan


tersebut dengan jari-jari panjangnya. Bibirnya tampak tersenyum kecut.


Sedangkan Sharon hanya mematung di samping pamannya.

__ADS_1


 


"Ini akan berkepanjangan," ujar Ascott, paman Deril. "Maksudmu?"


Sharon setengah berbisik.


"Dia sangat menyayangi Renata. Kau tau sejak kematian


orang tuanya, mereka saling dekat. Aku harap kau dapat mengobati lukanya


Sharon." Ascott tersenyum tipis lalu melangkah menjauh. Sharon menatapnya dengan kening berkerut. Ia mengalihkan pandangannya pada Deril.


Sharon berjongkok, ia mengusap lengan Deril dengan pelan. la dapat merasakan apa yang Deril rasakan. Ia juga pernah kehilangan adiknya dulu-tepatnya beberapa tahun yang lalu.


"Aku tau apa yang kau rasakan." Bisik Sharon pelan.


Deril menoleh dengan pandangan matanya yang nanar, Lalu ia menatap Sharon dengan datar. "Kau tak


merasakannya."


"Tentu aku merasakannya karena aku


juga pernah kehilangan." Sharon berdalih.


"Adikmu?"


 


"Ya, dia meninggal beberapa tahun yang lalu. Tepat


saat aku baru masuk sekolah menengah pertama."


Deril  menatap Sharon dengan  lekat,


ia tampak


tertarik.


"Apa yang terjadi?"


"Dia mengidap leukimia. Nyawanya tak dapat di selamatkan." Gadis itu menerawang seraya


tersenyum kecut.


"Apa     kalian     tidak     berusaha    mengobatinya?


Maksudku-apapun akan kalian lakukan bukan,"


"Kami tidak memilikki uang." Sharon bergumam


dengan serak, "Ibuku hanyalah pelayan di sebuah kedai sedangkan ayahku,


dia seorang security."

__ADS_1


TBC


__ADS_2