
Sharon mensejajarkan dirinya dengan Deril. Ia merasa
kebingungan, bingung harus melakukan apa. Lalu dengan
segenap keberaniannya, ia menepuk-nepuk
pundak pria itu. Pria itu
tampak terpuruk. Deril menangis tersedu-sedu.
"Ssh .. Deril kau harus sabar, kau harus bisa
menerimanya." Sharon mencoba menyemangati.
"Tidak Shar, aku tak dapat menerimanya!" Deril
terisak.
"Kau harus bisa menerimanya, adikmu sudah tenang sekarang."
Bisik Sharon.
Deril mendongak, pria itu tersenyum kecut. "Semua ini
terjadi karena pria brengsek itu! Aku akan membunuhnya
sekarang juga!" Pria itu bangkit melangkah keluar. Sharon tampak membelalak, ia segera mengejar Deril.
Pria itu tampak melangkah begitu tergesa, terlalu cepat.
Sharon hampir tak dapat mensejajarkan langkahnya. Namun pada akhirnya ia
berhasil, ia berhasil menghalangi langkah Deril.
"Minggir
Sharon!" Bentak pria itu.
"Tidak Deril,
tidak!" Suara Sharon hampir bergetar.
"Minggir Sharon!" Deril
menggeram. Ia melangkah cepat, namun langkahnya terhenti
karena Sharon memeluknya. la membeku seketika.
"Kumohon jangan ." bisik Sharon dengan suara bergetar. Ia hampir saja menangis terisak sekarang. Deril tak boleh
__ADS_1
melakukannya, semua ini dapat di bicarakan secara baik-baik.
"Lepas,
Shar.." ujar Deril pelan.
"Kumohon jangan Deril.. kumohon
jangan.. " Sharon tampak memelas. Ia masih keras kepala
tak berniat melepaskan pelukannya.
Deril terdiam. Ia membiarkan Sharon memeluknya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasakan rasa
nyaman dan tenang sekaligus.
"Kumohon.. ” lirih Sharon.
Deril menghela nafas, pada akhirnya ia
melepaskan pelukan Sharon. Di tatapnya Sharon yang tengah terisak.
"Aku tak akan
membunuhnya."
Seketika Sharon mendongak, ia menatap
Deril dengan mata berbinar.
"Tapi apa?! Katakanlah!" Pinta Sharon tak sabar.
"Kau harus menuruti kemauanku untuk menghancurkan
Christian. Bagaimana?" Pria itu tersenyum licik.
Sharon terdiam.
"Atau aku akan menyuruh seseorang untuk membunuhnya sekarang juga?" Deril meraih ponsel
dari sakunya. Dengan cepat Sharon mencekal tangannya.
"Aku bersedia." Ujarnya tanpa pikir panjang.
Pemakaman itu sepi.. hanya di datangi oleh beberapa
orang. Deril beıjongkok menghadap nisan salib adiknya. Ia mengusap nisan
tersebut dengan jari-jari panjangnya. Bibirnya tampak tersenyum kecut.
Sedangkan Sharon hanya mematung di samping pamannya.
__ADS_1
"Ini akan berkepanjangan," ujar Ascott, paman Deril. "Maksudmu?"
Sharon setengah berbisik.
"Dia sangat menyayangi Renata. Kau tau sejak kematian
orang tuanya, mereka saling dekat. Aku harap kau dapat mengobati lukanya
Sharon." Ascott tersenyum tipis lalu melangkah menjauh. Sharon menatapnya dengan kening berkerut. Ia mengalihkan pandangannya pada Deril.
Sharon berjongkok, ia mengusap lengan Deril dengan pelan. la dapat merasakan apa yang Deril rasakan. Ia juga pernah kehilangan adiknya dulu-tepatnya beberapa tahun yang lalu.
"Aku tau apa yang kau rasakan." Bisik Sharon pelan.
Deril menoleh dengan pandangan matanya yang nanar, Lalu ia menatap Sharon dengan datar. "Kau tak
merasakannya."
"Tentu aku merasakannya karena aku
juga pernah kehilangan." Sharon berdalih.
"Adikmu?"
"Ya, dia meninggal beberapa tahun yang lalu. Tepat
saat aku baru masuk sekolah menengah pertama."
Deril menatap Sharon dengan lekat,
ia tampak
tertarik.
"Apa yang terjadi?"
"Dia mengidap leukimia. Nyawanya tak dapat di selamatkan." Gadis itu menerawang seraya
tersenyum kecut.
"Apa kalian tidak berusaha mengobatinya?
Maksudku-apapun akan kalian lakukan bukan,"
"Kami tidak memilikki uang." Sharon bergumam
dengan serak, "Ibuku hanyalah pelayan di sebuah kedai sedangkan ayahku,
dia seorang security."
__ADS_1
TBC