
Ketika tengah dalam perjalanan menuju apartment miliknya. Tanpa sengaja, mata hijau miliknya menangkap sosok Christian yang tengah di pukuli oleh segerombolan pria berbadan besar.
Awalnya ia sama sekali tak perduli, namun ketika melihat
Christian yang semakin terpojok. Akhirnya pria itu memutuskan untuk turun.
Deril menepikan mobilnya di pinggiran trotoar. Membuat para
pria itu menjauh. Entah mungkin aura miliknya, atau karena pria itu takut.
Mereka semua langsung kabur begitu saja.
Deril melonggarkan dasi miliknya lalu menghampiri
Christian yang tertunduk lemas. Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Christian.
"Gracias...“ ujar Christian
dengan serak.
"Sama-sama, seharusnya kau lebih berhati-hati anak
muda." Deril mendesis.
Christian
mengernyit, "Bukankah kau?" "Kau mengenalku?"
Deril menyesap kopi miliknya. Saat ini mereka tengah berada
di sebuah cafe. Christian sama sekali
tak menyesap kopi miliknya. Ia terlalu sibuk meneliti sosok Deril.
Dewasa..
Pantas saja Sharon begitu menyukai pria
ini. Christian mengangguk-angguk.
"Ada urusan apa kau dengan
mereka?" Tanya Deril menatap Christian dengan datar.
"Hanya urusan biasa." Christian
berdeham, "Tuan Hernandez."
"Panggil aku Deril, aku tidak setua itu." Deril
mengernyit tak senang.
"Baiklah Deril, sekali lagi terima kasih telah
__ADS_1
menolongku."
"Aku hanya kebetulan lewat."
Deril menyilangkan tangannya di depan dada. Ia meneliti
sosok Christian dengan mata hijaunya.
"Baiklah." Christian menyesap
kopi miliknya pada akhirnya.
"Hei, kau bukannya teman Sharon?" Deril mengangkat
sebelah alisnya.
"Teman?"
Christian mendesis, "Aku kekasihnya."
"Benarkah?" Deril tersenyum
mengejek, "Apakah kau tau kami telah bertunangan."
"Tuan kau jangan mengada-ngada, kami baru saja berkencan
tadi malam." Christian menekankan ucapannya.
"Oh ya? Coba saja kau tanyakan pada Sharon." Deril mendesis, "Seharusnya kau tahu
"Aku cukup tau posisiku sebagai kekasih Sharon."
Christian tampak mulai terpancing, ia menatap Deril dengan tajam.
"Lagipula Sharon mengatakan bahwa ia telah putus denganmu."
Tambahnya.
"Kita lihat saja nanti, Christian. Kau tahu karma
bukan?" Deril bangkit lalu melenggang begitu saja.
Christian membeku. la mengepalkan
tangannya.
Apa yang dimaksud dengan
karma? Apa maksudnya?
***
SHARON'S POV
Aku meringis ketika tiba-tiba rambutku
__ADS_1
ditarik paksa oleh Mandy. Ia menarikku hingga aku terjembab ke belakang.
Ya tuhan..
Gadis itu tidak pernah berhenti menganggu kehidupanku.
Aku menghentakan tangannya hingga ia melepas jambakkannya.
Aku meringis melihat beberapa helaian rambutku berada dalam genggamannya.
"Mandy! Lepas!" Ujarku ketika ia masih saja
berusaha menarik kerah seragamku.
"Jalan*! Dasar kau tidak tahu malu! Dimana wajahmu bit*h!" Ia terus meronta dalam
pelukan teman- temannya. Singa betina itu
tampak benar-benar marah.
Rambut merah menyalanya tampak sangat pas
dengan sosoknya saat ini. Dalam hati aku tertawa. Entah kapan ia mulai mewarnai rambutnya. Terakhir
kali aku melihat, rambutnya di cat pirang.
"Berani-beraninya kau merebut
Christian dariku! Awas saja kau!" Ancamnya. Ia
menepis tangan yang menghalangi jalannya. Lalu tanpa ku sangka ia melenggang
begitu saja.
Aku menghela nafas lega. Keningku berkerut, apa yang membuat gadis itu pergi?
Ketika aku membalikkan tubuhku, seketika aku hanya
dapat mematung.
Tepat dihadapanku, Christian tampak
menatapku dengan tajam. Tanpa basa-basi, ia menarik tanganku begitu saja. Aku melangkah terseok mengikuti langkah lebamya.
Aku meringis merasakan tanganku sedikit nyeri karena ia
mencekalku terlalu erat.
"Christian, aw!" Ringisku.
Christian melepaskan cekalannya setelah mendengar ringisanku. Ia tampak menatapku dengan datar. Aku balas
menatapnya. Tanganku melayang ke udara hendak menyentuh wajahnya yang tampak penuh bilur, namun ia
__ADS_1
menepis tanganku dengan cepat.
TBC